Agustus 21st, 2018 // ForBALI

Konferensi Pers Kedatangan Kapal Rainbow Warrior Greenpeace: Sebagai Pemantik Semangat Untuk Terus Berjuang Melawan Investasi Yang Dahsyat Dan Di Backup Oleh Kekuasaan

Foto Penyambutan Kedatangan Rainbow Warior 13 April 2018

Jumat, 13 April 2018, Greenpeace Indonesia dan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) melakukan konferensi pers terkait kedatangan kapal legendaris Greenpeace, Rainbow Warrior di Pelabuhan Benoa. Kedatangan kapal tersebut untuk membawa pesan, membawa kembali keseimbangan antara alam dengan kehidupan manusia, yang diusung dalam sebuah tema Jelajah Harmoni Nusantara. Kedatangan kapal tersebut juga membawa beberapa isu, diantaranya ialah isu energi, penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa, dan kesadaran publik terhadap penggunaan plastik.

Kapten Kapal Rainbow Warrior, Hettie menjelaskan kesenangannya telah sampai di Bali. Lebih lanjut dia menjelaskan perjalanannya menuju Bali, crew kapal mengabarkan bahwa ada tumpahan minyak di Teluk Balikpapan yang berdampak pada biota laut dan masyarakat lokal disana. “Dalam perjalanan menuju Bali, crew kapal mengabarkan ada tumpahan minyak di Teluk Balikpapan, kemudian dampaknya terhadap masyarakat local dan lingkungan terutama biota laut”. Terangnya.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika menjelaskan keatangan kapal Rainbow Warrior membawa beberapa isu, diantaranya energi, penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa, dan kesadaran publik terhadap penggunaan plastik. Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa kedatangan Rainbow Warrior sebagai dukungan terhadap seluruh perjuangan masyarakat seperti penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa, penolakan terhadap PLTU Celukan Bawang, dan penolakan tambang emas raksasa di Tumpang Pitu, Banyuwangi. “Kedatangan Rainbow Warrior ini semoga bisa menyatukan kita semua, memperbesar isu lingkungan, meresonasi concern lingkungan, karena jika lingkungan tidak diselamatkan, manusia juga tidak bisa hidup, karena begitu alam rusak yang kita dapat nanti hanya bencana”. Jelasnya.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana mengapresiasi kedatangan kapal Rainbow Warrior ke Bali. Gendo juga menjelaskan bahwa kapal Rainbow Warrior menjadi saksi 5 tahun perjuangan rakyat Bali menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. ForBALI bersyukur bejumpa kembali dengan kapal Rainbow Warrior di tempat yang sama (Pelabuhan Benoa) dan Teluk Benoa masih terselamatkan dari upaya reklamasi Teluk Benoa. “Kami dari ForBALI sangat bersyukur berjumpa kembali dengan kapal Rainbow Warrior di tempat yang sama dan Teluk Benoa sampai sekarang masih terselamatkan dari upaya reklamasi Teluk Benoa. Saya tidak akan habis pikir jika ternyata proyek itu berhasil dilakukan, maka di belakang bapak-bapak dan ibu-ibu akan ada 700 hektar pulau dan tidak ada lagi perairan disana, kecuali pulau-pulau buatan” jelasnya.

Lebih lanjut, Gendo menegaskan pentingnya melakukan kampanye terhadap energi bersih di tengah situasi ada upaya untuk mengeksploitasi suber daya alam yang tidak memperhatikan lingkungan. “kampanye energi bersih penting juga  disampaikan ditengah ada upaya-upaya untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang tidak memeperhatikan lingkungan seperti pembangunan PLTU di Bali Utara. Pembangunan destruktif bukan hanya rencana reklamasi Teluk Benoa, termasuk reklamasi untuk pelabuhan Benoa, dan Reklamasi Bandara, sebenarnya itu sangat berbahaya bagi Bali”. tegasnya.

Gendo pun juga menjelaskan pada intinya kedatangan kapal Rainbow Warrior sebagai pemantik semangat untuk terus berjuang untuk melawan investasi yang dahsyat dan di backup oleh kekuasaan. “semoga kedatangan Rainbow Warrior kali ini menjadi pemantik semangat kita untuk terus berjuang dan juga dunia melihat bahwa investasi yang dahsyat dan di backup oleh kekuasaan, tidak serta merta bisa memainkan agendanya, kalau rakyatnya bersatu padu melawan, kalau kekuatan nasional dan internasional bersatu”. Jelasnya.

Setelah Sesi konferensi pers tersebut selesai, dilanjutkan dengan foto bersama antara para Bendesa Adat penyangga Teluk Benoa bersama Kapten Kapal Rainbow Warrior, perwakilan dari Greenpeace Indonesia, para aktivis tolak tambang emas Tumpang Pitu Banyuwangi, dan para aktivis tolak reklamasi Teluk Benoa. Acara kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi kapal Rainbow Warrior.

Foto Penyambutan Kedatangan Rainbow Warior 13 April 2018

Jumat, 13 April 2018, Greenpeace Indonesia dan Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) melakukan konferensi pers terkait kedatangan kapal legendaris Greenpeace, Rainbow Warrior di Pelabuhan Benoa. Kedatangan kapal tersebut untuk membawa pesan, membawa kembali keseimbangan antara alam dengan kehidupan manusia, yang diusung dalam sebuah tema Jelajah Harmoni Nusantara. Kedatangan kapal tersebut juga membawa beberapa isu, diantaranya ialah isu energi, penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa, dan kesadaran publik terhadap penggunaan plastik.

Kapten Kapal Rainbow Warrior, Hettie menjelaskan kesenangannya telah sampai di Bali. Lebih lanjut dia menjelaskan perjalanannya menuju Bali, crew kapal mengabarkan bahwa ada tumpahan minyak di Teluk Balikpapan yang berdampak pada biota laut dan masyarakat lokal disana. “Dalam perjalanan menuju Bali, crew kapal mengabarkan ada tumpahan minyak di Teluk Balikpapan, kemudian dampaknya terhadap masyarakat local dan lingkungan terutama biota laut”. Terangnya.

Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Hindun Mulaika menjelaskan keatangan kapal Rainbow Warrior membawa beberapa isu, diantaranya energi, penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa, dan kesadaran publik terhadap penggunaan plastik. Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa kedatangan Rainbow Warrior sebagai dukungan terhadap seluruh perjuangan masyarakat seperti penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa, penolakan terhadap PLTU Celukan Bawang, dan penolakan tambang emas raksasa di Tumpang Pitu, Banyuwangi. “Kedatangan Rainbow Warrior ini semoga bisa menyatukan kita semua, memperbesar isu lingkungan, meresonasi concern lingkungan, karena jika lingkungan tidak diselamatkan, manusia juga tidak bisa hidup, karena begitu alam rusak yang kita dapat nanti hanya bencana”. Jelasnya.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana mengapresiasi kedatangan kapal Rainbow Warrior ke Bali. Gendo juga menjelaskan bahwa kapal Rainbow Warrior menjadi saksi 5 tahun perjuangan rakyat Bali menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. ForBALI bersyukur bejumpa kembali dengan kapal Rainbow Warrior di tempat yang sama (Pelabuhan Benoa) dan Teluk Benoa masih terselamatkan dari upaya reklamasi Teluk Benoa. “Kami dari ForBALI sangat bersyukur berjumpa kembali dengan kapal Rainbow Warrior di tempat yang sama dan Teluk Benoa sampai sekarang masih terselamatkan dari upaya reklamasi Teluk Benoa. Saya tidak akan habis pikir jika ternyata proyek itu berhasil dilakukan, maka di belakang bapak-bapak dan ibu-ibu akan ada 700 hektar pulau dan tidak ada lagi perairan disana, kecuali pulau-pulau buatan” jelasnya.

Lebih lanjut, Gendo menegaskan pentingnya melakukan kampanye terhadap energi bersih di tengah situasi ada upaya untuk mengeksploitasi suber daya alam yang tidak memperhatikan lingkungan. “kampanye energi bersih penting juga  disampaikan ditengah ada upaya-upaya untuk mengeksploitasi sumber daya alam yang tidak memeperhatikan lingkungan seperti pembangunan PLTU di Bali Utara. Pembangunan destruktif bukan hanya rencana reklamasi Teluk Benoa, termasuk reklamasi untuk pelabuhan Benoa, dan Reklamasi Bandara, sebenarnya itu sangat berbahaya bagi Bali”. tegasnya.

Gendo pun juga menjelaskan pada intinya kedatangan kapal Rainbow Warrior sebagai pemantik semangat untuk terus berjuang untuk melawan investasi yang dahsyat dan di backup oleh kekuasaan. “semoga kedatangan Rainbow Warrior kali ini menjadi pemantik semangat kita untuk terus berjuang dan juga dunia melihat bahwa investasi yang dahsyat dan di backup oleh kekuasaan, tidak serta merta bisa memainkan agendanya, kalau rakyatnya bersatu padu melawan, kalau kekuatan nasional dan internasional bersatu”. Jelasnya.

Setelah Sesi konferensi pers tersebut selesai, dilanjutkan dengan foto bersama antara para Bendesa Adat penyangga Teluk Benoa bersama Kapten Kapal Rainbow Warrior, perwakilan dari Greenpeace Indonesia, para aktivis tolak tambang emas Tumpang Pitu Banyuwangi, dan para aktivis tolak reklamasi Teluk Benoa. Acara kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi kapal Rainbow Warrior.