Agustus 21st, 2018 // ForBALI

Tancapkan Bendera Raksasa, Simbol Teluk Benoa milik Rakyat

Pengibaran Bendera Raksasa di perairan Teluk Benoa. 18 Juni 2018 (4)

Senin 18 Juni 2018 ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi) kembali melakukan aksi  untuk melakukan penolakan terhadap rencana reklamasi yang akan dilakukan di Teluk Benoa. Aksi kali ini diinisiasi oleh komunitas PETIR Jimbaran dan dilakukan di wilayah perariran Teluk Benoa. Aksi kali ini adalah aksi yang diadakan di bulan Juni, sebagai penanda bahwa setiap bulan rakyat Bali tetap bergerak untuk mengobarkan semangat  penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana menjelaskan bahwa pada tahun 2016, 8 STT (Sekaa Teruna Teruni) Desa Adat Bualu, mengibarkan bendera di tiang ini. Dan hari ini 18 Juni 2018, dua minggu menjelang pilkada, kembali lagi rakyat bali berkumpul disini untuk mengobarkan semangat perlawanan dan menancapkan panji-panji perlawanan  di Teluk Benoa. Gendo mengatakan “Panji perjuangan ini, kita tancapkan di Teluk Benoa sebagai simbol bahwa Teluk Benoa adalah milik rakyat Bali dan bukan milik Investor. Kita tancapkan bendera kita dan kita katakan kepada dunia bahwa memang rakyatlah yang memiliki Teluk Benoa, tidak untuk PT.TWBI dan investor-investor rakus” pungkasnya.

Hari ini adalah hari tepat dua minggu menjelang pilkada, namun ForBALI dengan aksinya kali ini tetap membuktikan bahwa  gerakan rakyat dalam menolak reklamasi tidak terpengaruh dengan pilkada atau dengan kontestasi politik. “Oleh karena itu, kita harus terus kobarkan semangat kita, ketika kita menjejakkan diri kita ada disini. Ketika kita menjejakkan kapal-kapal kita atau tubuh-tubuh kita di perairan ini maka kita juga akan mengatakan kepada mereka para penguasa bahwa rakyat tidak akan gentar dan rakyat akan terus melakukan perlawanan dengan segala cara. Kita gerakan yang miskin, kita gerakan yang tidak punya apa-apa. Tetapi kita bisa mendirikan bendera yang besar kepada penguasa bahwa kita akan terus melawan mereka” imbuhnya.

Sebagaimana kita ketahui 25 Agustus 2018 adalah hari penentuan gerakan rakyat yang sudah memasuki tahun kelima ini. 25 Agustus adalah hari dimana berakhirnya ijin lokasi milik pemrakarsa atau PT.TWBI yang sempat di perpanjang oleh menteri Susi Pudjiastuti 25 Agustus 2016 silam.

Dalam orasinya Gendo juga menambahkan bahwa ForBALI dan rakyat Bali akan terus bergerak dan  akan terus melawan dengan segala daya upaya untuk memenangkan Teluk Benoa. Hari ini adalah kawan-kawan dari Jimbaran melaksanakan acara. Maka kedepannya basis-basis yang lain akan terus juga mengobarkan dan membuat acara-acara perlawanan yang bisa membesarkan gerakan ini. “Oleh karena itu kawan-kawan, tanpa panjang lebar, kita akan rayakan di Teluk Benoa, kita okupasi dan kita kuasai Teluk Benoa untuk rakyat. Dan kita akan kibarkan bendera perjuangan kita, panji-panji perlawanan kita dan kita tancapkan di Teluk Benoa. 18 Juni 2018 kita akan tancapkan, sebagaimana kita lakukan dua tahun yang lalu. Tolak Reklamasi Teluk Benoa !” pekiknya lantang.

Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera raksasa berukuran 7 meter X 9 meter yang dibuat secara swadaya dan gotong- royong dan ditancap di Teluk Benoa serta dibarengi dengan lantunan lagu kebesaran Bali Tolak Reklamasi. Aksi kali ini juga dihadiri oleh Jro Bendesa Adat Canggu, Badung.

Pengibaran Bendera Raksasa di perairan Teluk Benoa. 18 Juni 2018 (4)

Senin 18 Juni 2018 ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi) kembali melakukan aksi  untuk melakukan penolakan terhadap rencana reklamasi yang akan dilakukan di Teluk Benoa. Aksi kali ini diinisiasi oleh komunitas PETIR Jimbaran dan dilakukan di wilayah perariran Teluk Benoa. Aksi kali ini adalah aksi yang diadakan di bulan Juni, sebagai penanda bahwa setiap bulan rakyat Bali tetap bergerak untuk mengobarkan semangat  penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana menjelaskan bahwa pada tahun 2016, 8 STT (Sekaa Teruna Teruni) Desa Adat Bualu, mengibarkan bendera di tiang ini. Dan hari ini 18 Juni 2018, dua minggu menjelang pilkada, kembali lagi rakyat bali berkumpul disini untuk mengobarkan semangat perlawanan dan menancapkan panji-panji perlawanan  di Teluk Benoa. Gendo mengatakan “Panji perjuangan ini, kita tancapkan di Teluk Benoa sebagai simbol bahwa Teluk Benoa adalah milik rakyat Bali dan bukan milik Investor. Kita tancapkan bendera kita dan kita katakan kepada dunia bahwa memang rakyatlah yang memiliki Teluk Benoa, tidak untuk PT.TWBI dan investor-investor rakus” pungkasnya.

Hari ini adalah hari tepat dua minggu menjelang pilkada, namun ForBALI dengan aksinya kali ini tetap membuktikan bahwa  gerakan rakyat dalam menolak reklamasi tidak terpengaruh dengan pilkada atau dengan kontestasi politik. “Oleh karena itu, kita harus terus kobarkan semangat kita, ketika kita menjejakkan diri kita ada disini. Ketika kita menjejakkan kapal-kapal kita atau tubuh-tubuh kita di perairan ini maka kita juga akan mengatakan kepada mereka para penguasa bahwa rakyat tidak akan gentar dan rakyat akan terus melakukan perlawanan dengan segala cara. Kita gerakan yang miskin, kita gerakan yang tidak punya apa-apa. Tetapi kita bisa mendirikan bendera yang besar kepada penguasa bahwa kita akan terus melawan mereka” imbuhnya.

Sebagaimana kita ketahui 25 Agustus 2018 adalah hari penentuan gerakan rakyat yang sudah memasuki tahun kelima ini. 25 Agustus adalah hari dimana berakhirnya ijin lokasi milik pemrakarsa atau PT.TWBI yang sempat di perpanjang oleh menteri Susi Pudjiastuti 25 Agustus 2016 silam.

Dalam orasinya Gendo juga menambahkan bahwa ForBALI dan rakyat Bali akan terus bergerak dan  akan terus melawan dengan segala daya upaya untuk memenangkan Teluk Benoa. Hari ini adalah kawan-kawan dari Jimbaran melaksanakan acara. Maka kedepannya basis-basis yang lain akan terus juga mengobarkan dan membuat acara-acara perlawanan yang bisa membesarkan gerakan ini. “Oleh karena itu kawan-kawan, tanpa panjang lebar, kita akan rayakan di Teluk Benoa, kita okupasi dan kita kuasai Teluk Benoa untuk rakyat. Dan kita akan kibarkan bendera perjuangan kita, panji-panji perlawanan kita dan kita tancapkan di Teluk Benoa. 18 Juni 2018 kita akan tancapkan, sebagaimana kita lakukan dua tahun yang lalu. Tolak Reklamasi Teluk Benoa !” pekiknya lantang.

Acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera raksasa berukuran 7 meter X 9 meter yang dibuat secara swadaya dan gotong- royong dan ditancap di Teluk Benoa serta dibarengi dengan lantunan lagu kebesaran Bali Tolak Reklamasi. Aksi kali ini juga dihadiri oleh Jro Bendesa Adat Canggu, Badung.