Agustus 21st, 2018 // ForBALI

Jelang Berakhirnya Ijin Lokasi Reklamasi, Rakyat Bali Geruduk Kantor Gubernur

AksiBTR

Pada Minggu 22 Juli 2018 Rakyat Bali kembali turun ke jalan terus bergerak untuk terus melawan rencana reklamasi dan memenangkan Teluk Benoa. Semangat tersebut terus berkobar seiring dengan semakin dekatnya kemenangan Teluk Benoa 25 Agustus yg juga masa akhir ijin lokasi yang dimiliki oleh PT.TWBI. Aksi dimulai dari titik kumpul lapangan timur Renon lalu kemudian mengitari lapangan Niti Mandala Renon,  dan mendengarkan orasi-orasi dari beberapa basis-basis penolak reklamasi Teluk Benoa antara lain yakni basis Pejuang Muda DharmaSaba, Bali Tengah, Klungkung dan Canggu di depan Bajra Shandi. Selanjutnya massa aksi kembali long march menuju  kedepan kantor Gubernur.

Sesampainya di depan kantor Gubernur aksi dilanjutkan dengan orasi dari basis Desa Pakraman Lebih yang diwakilkan oleh I Wayan Agus Muliana mengatakan bahwa kita mesti bertahan hingga 25 Agustus sebab tanggal tersebut adalah bertepatan dengan habisnya ijin lokasi dari PT.TWBI yang sempat diperpanjang pada Agustus 2016 silam. “Sudah lima tahun kita bergerak dan turun kejalan, kita mesti terus semangat dalam memenangkan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi” tandasnya.

Orasipun kembali dilanjutkan oleh perwakilan basis Karangasem, Desa Pakraman Kepaon Pemogan dan Desa Adat Kesiman yang menyatakan konsistensinya dalam bergerak menolak reklamasi Teluk Benoa dan memenangkan Teluk Benoa.

Disamping itu hadir pula Divisi Politik ForBALI yakni Suriadi Darmoko. Ia menjelaskan bahwa aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa sudah dilakukan sedari Juli 2013 di depan kantor Gubernur saat Made Mangku Pastika belum dilantik, dan sampai detik ini pemerintah, Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang sebentar lagi akan lengser juga belum bersikap maupun menemui massa yang hadir di depan kantor Gubernur guna melakukan penolakan Reklamasi. “itu artinya apa ? itu artinya jelas bahwa keberpihakan Gubernur Made mangku Pastika ada pada investor, dan bukan berpihak pada rakyat Bali” tegasnya. Lima tahun sudah rakyat Bali terus bergerak menolak  reklamasi Teluk Benoa, dan lima tahun pula Gubernur Made Mangku Pastika didemo oleh rakyatnya tanpa henti. Darmoko menambahkan ini adalah sebuah cacatan bagi Gubernur Bali kedepan, “bahwa siapapun yang mengambil kebijakan yang tidak pro terhadap lingkungan, yang tidak pro terhadap masyarakat Bali atau masyarakat Adat kita harus Protes”imbuhnya.

Perjuangan rakyat selama lima tahun bukanlah perjuangan yang tidak membuahkan hasil. Sebab jika dilihat dari lima tahun yang lalu hingga detik ini, proyek reklamasi yang akan dilakukan di Teluk Benoa masih tertahan oleh aspek Sosial Budaya melalui masifnya penolakan rakyat, yang menjadi salah satu persyaratan di AMDAL dan AMDAL sampai hari ini belum dinyatakan layak. Maka dari itu, “Penolakan-penolakan yang sering kita lakukan dalam berbagai upaya itulah sebenarnya yang menyebabkan proyek itu tertahan hingga detik ini, bukan dengan janji-janji politik, sehingga kita semua harus terang dan terbuka bahwa 25 Agustus Teluk Benoa harus menang dan kemenangan ini milik rakyat Bali” tutupnya.

Aksi ditutup oleh penampilan dari The Dissland. Mereka merupakan salah satu band Punk Rock yang selalu konsisten bersikap dan ikut turun kejalan bersama  rakyat dalam menolak reklamasi. Seusai itu massa kembali ke parkir timur dan membubarkan diri dengan tertib.

AksiBTR

Pada Minggu 22 Juli 2018 Rakyat Bali kembali turun ke jalan terus bergerak untuk terus melawan rencana reklamasi dan memenangkan Teluk Benoa. Semangat tersebut terus berkobar seiring dengan semakin dekatnya kemenangan Teluk Benoa 25 Agustus yg juga masa akhir ijin lokasi yang dimiliki oleh PT.TWBI. Aksi dimulai dari titik kumpul lapangan timur Renon lalu kemudian mengitari lapangan Niti Mandala Renon,  dan mendengarkan orasi-orasi dari beberapa basis-basis penolak reklamasi Teluk Benoa antara lain yakni basis Pejuang Muda DharmaSaba, Bali Tengah, Klungkung dan Canggu di depan Bajra Shandi. Selanjutnya massa aksi kembali long march menuju  kedepan kantor Gubernur.

Sesampainya di depan kantor Gubernur aksi dilanjutkan dengan orasi dari basis Desa Pakraman Lebih yang diwakilkan oleh I Wayan Agus Muliana mengatakan bahwa kita mesti bertahan hingga 25 Agustus sebab tanggal tersebut adalah bertepatan dengan habisnya ijin lokasi dari PT.TWBI yang sempat diperpanjang pada Agustus 2016 silam. “Sudah lima tahun kita bergerak dan turun kejalan, kita mesti terus semangat dalam memenangkan Teluk Benoa dari ancaman reklamasi” tandasnya.

Orasipun kembali dilanjutkan oleh perwakilan basis Karangasem, Desa Pakraman Kepaon Pemogan dan Desa Adat Kesiman yang menyatakan konsistensinya dalam bergerak menolak reklamasi Teluk Benoa dan memenangkan Teluk Benoa.

Disamping itu hadir pula Divisi Politik ForBALI yakni Suriadi Darmoko. Ia menjelaskan bahwa aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa sudah dilakukan sedari Juli 2013 di depan kantor Gubernur saat Made Mangku Pastika belum dilantik, dan sampai detik ini pemerintah, Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang sebentar lagi akan lengser juga belum bersikap maupun menemui massa yang hadir di depan kantor Gubernur guna melakukan penolakan Reklamasi. “itu artinya apa ? itu artinya jelas bahwa keberpihakan Gubernur Made mangku Pastika ada pada investor, dan bukan berpihak pada rakyat Bali” tegasnya. Lima tahun sudah rakyat Bali terus bergerak menolak  reklamasi Teluk Benoa, dan lima tahun pula Gubernur Made Mangku Pastika didemo oleh rakyatnya tanpa henti. Darmoko menambahkan ini adalah sebuah cacatan bagi Gubernur Bali kedepan, “bahwa siapapun yang mengambil kebijakan yang tidak pro terhadap lingkungan, yang tidak pro terhadap masyarakat Bali atau masyarakat Adat kita harus Protes”imbuhnya.

Perjuangan rakyat selama lima tahun bukanlah perjuangan yang tidak membuahkan hasil. Sebab jika dilihat dari lima tahun yang lalu hingga detik ini, proyek reklamasi yang akan dilakukan di Teluk Benoa masih tertahan oleh aspek Sosial Budaya melalui masifnya penolakan rakyat, yang menjadi salah satu persyaratan di AMDAL dan AMDAL sampai hari ini belum dinyatakan layak. Maka dari itu, “Penolakan-penolakan yang sering kita lakukan dalam berbagai upaya itulah sebenarnya yang menyebabkan proyek itu tertahan hingga detik ini, bukan dengan janji-janji politik, sehingga kita semua harus terang dan terbuka bahwa 25 Agustus Teluk Benoa harus menang dan kemenangan ini milik rakyat Bali” tutupnya.

Aksi ditutup oleh penampilan dari The Dissland. Mereka merupakan salah satu band Punk Rock yang selalu konsisten bersikap dan ikut turun kejalan bersama  rakyat dalam menolak reklamasi. Seusai itu massa kembali ke parkir timur dan membubarkan diri dengan tertib.