Agustus 21st, 2018 // ForBALI

Reklamasi Teluk Benoa : Potret kebijakan investasi di Bali yang tidak pro lingkungan dan tidak pro rakyat.

Foto Aksi ForBALI 24 Maret 2018

Sabtu 24 Maret 2018. ForBALI bersama Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa kembali Turun ke jalan untuk menolak rencana reklamasi yang akan dilaksanakan di Teluk Benoa. Massa bergerak dari titik kumpul di parkir timur renon dan melakukan longmarch sampai di depan kantor gubernur. Pertama-tama, diawal orasinya Wayan gendo Suardana koordinator ForBALI mengajak massa aksi untuk menundukan kepala sejenak terhadap salah satu kawan yang berpulang akibat Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalan sakah gianyar, serta memusatkan energi positif untuk salah satu kawan yang juga pelopor Gerakan Tolak Reklamasi yakni Made Indra yang merupakan bassist dari Navicula band yang masih kritis keadaannya, akibat kecelakaan lalul intas yang menimpnya dini hari kemarin. “Semoga Made bisa cepat sembuh dan mendapat mujizat dan Semoga semesta melindungi para pejuangnya” pungkasnya. Selanjutnya,

Dalam orasinya Gendo menyampaikan hasil riset tentang reklamasi Teluk Benoa yang dibuat oleh kementerian kelautan dan perikanan, dan dipublish oleh jurnal internasional tersebut adalah tidak terafiliasi oleh siapapun. “Periset ini berada di bawah naungan kementerian Kelautan dan perikanan. Artinya kalau kita berbicara pada pernyataan state, atau pernyataan negara, ini adalah pernyataan tegas dari mereka. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa reklamasi Teluk Benoa berdampak buruk bagi bali dan berdampak buruk bagi ekosistem yang berada di Teluk Benoa”tegasnya.

Hasil riset terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan dipublikasi di jurnal internasional Regional Studies in Marine Science (2018), menyimpulkan bahwa reklamasi Teluk Benoa memicu degradasi lingkungan hidup secara drastis dari aspek fisik, kimia, dan biologi. Ia pun menegaskan reklamasi Teluk Benoa sudah tidak dapat dilakukan ”Maka, tidak ada alasan lain kecuali menghentikan reklamasi Teluk Benoa dan kemudian mengembalikan Teluk Benoa menjadi kawasan konservasi. Sebab ini adalah daerah penyangga untuk Bali yang akan menjadi salah satu kunci utuk menjaga keberlangsungan pulau Bali” pungkasnya.

Gendo pun meminta Jika masih ada anggapan bahwa tidak ada kajian yang kuat terkait riset tentang reklamasi Teluk Benoa, maka ia minta pemerintah Provinsi Bali  mengcounter hasil riset itu dengan riset yang lain, namun bukan riset yang ada di AMDAL terkait studi kelayakan, karena AMDAL PT. TWBI tersebut sarat akan kepentingan.“Sebab kalau riset yang ada di AMDAL terkait dengan studi kelayakan, kami masih belum bisa meyakini kalau riset itu tidak punya kepentingan”tegasnya.

Gendo menjelaskan bahwa Teluk Benoa sangatlah kecil yang hanya memiliki luas 1500 ha. Namun kenapa isu ini menjadi penting sebab masalah reklamasi Teluk Benoa adalah sebuah potret dimana kebijakan investasi di bali acapkali tidak pro lingkungan dan tidak pro rakyat. Pertama, ia menjelaskan status hukum Teluk Benoa yang awalnya tidak dapat direklamasi, namun diubah sehingga dapat direklamasi. “Teluk Benoa yang tadinya merupakan kawasan konservasi, diubah menjadi kawsan budidaya sehingga bisa direklamasi”. Jelasnya.

Gendo juga memaparkan bahwa rencana reklamasi Teluk Benoa adalah cermin, dari bagaimana praktek-praktek penguasa dan investasi bekerja untuk mengeksploitasi bali atas nama kepentingan pariwisata. Cermin bagaimana tidak bernyalinya pejabat politik, dan cermin bagaimana angkuhnya kekuasaan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Teluk Benoa merupakan harga diri bagi rakyat Bali. Jika Teluk Benoa berhasil direklamasi, maka itu merupakan tamparan bagi harga diri rakyat Bali. “Kita harus pastikan bahwa gerakan kita (tolak reklamasi Teluk Benoa) harus menang, sebab jika mereka berhasil mereklamasi Teluk Benoa maka ini sama saja dengan tamparan keras terhadap rakyat bali, adat Bali, Komunitas di bali yang ikut berjuang selama lima tahun ini” tutupnya.

Setelah itu aksi ditutup dengan penampilan grup band Punk Reformasi. Grup band dengan dandanan rambut mohawk dan membawakan lagu-lagu dengan distorsi tinggi. Seusai peampilan band, massa aksi kembali ke parkir timur Renon dan membubarkan diri dengan tertib.

Foto Aksi ForBALI 24 Maret 2018

Sabtu 24 Maret 2018. ForBALI bersama Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa kembali Turun ke jalan untuk menolak rencana reklamasi yang akan dilaksanakan di Teluk Benoa. Massa bergerak dari titik kumpul di parkir timur renon dan melakukan longmarch sampai di depan kantor gubernur. Pertama-tama, diawal orasinya Wayan gendo Suardana koordinator ForBALI mengajak massa aksi untuk menundukan kepala sejenak terhadap salah satu kawan yang berpulang akibat Kecelakaan lalu lintas yang terjadi di jalan sakah gianyar, serta memusatkan energi positif untuk salah satu kawan yang juga pelopor Gerakan Tolak Reklamasi yakni Made Indra yang merupakan bassist dari Navicula band yang masih kritis keadaannya, akibat kecelakaan lalul intas yang menimpnya dini hari kemarin. “Semoga Made bisa cepat sembuh dan mendapat mujizat dan Semoga semesta melindungi para pejuangnya” pungkasnya. Selanjutnya,

Dalam orasinya Gendo menyampaikan hasil riset tentang reklamasi Teluk Benoa yang dibuat oleh kementerian kelautan dan perikanan, dan dipublish oleh jurnal internasional tersebut adalah tidak terafiliasi oleh siapapun. “Periset ini berada di bawah naungan kementerian Kelautan dan perikanan. Artinya kalau kita berbicara pada pernyataan state, atau pernyataan negara, ini adalah pernyataan tegas dari mereka. Mereka dengan tegas mengatakan bahwa reklamasi Teluk Benoa berdampak buruk bagi bali dan berdampak buruk bagi ekosistem yang berada di Teluk Benoa”tegasnya.

Hasil riset terbaru yang dilakukan oleh para peneliti dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia dan dipublikasi di jurnal internasional Regional Studies in Marine Science (2018), menyimpulkan bahwa reklamasi Teluk Benoa memicu degradasi lingkungan hidup secara drastis dari aspek fisik, kimia, dan biologi. Ia pun menegaskan reklamasi Teluk Benoa sudah tidak dapat dilakukan ”Maka, tidak ada alasan lain kecuali menghentikan reklamasi Teluk Benoa dan kemudian mengembalikan Teluk Benoa menjadi kawasan konservasi. Sebab ini adalah daerah penyangga untuk Bali yang akan menjadi salah satu kunci utuk menjaga keberlangsungan pulau Bali” pungkasnya.

Gendo pun meminta Jika masih ada anggapan bahwa tidak ada kajian yang kuat terkait riset tentang reklamasi Teluk Benoa, maka ia minta pemerintah Provinsi Bali  mengcounter hasil riset itu dengan riset yang lain, namun bukan riset yang ada di AMDAL terkait studi kelayakan, karena AMDAL PT. TWBI tersebut sarat akan kepentingan.“Sebab kalau riset yang ada di AMDAL terkait dengan studi kelayakan, kami masih belum bisa meyakini kalau riset itu tidak punya kepentingan”tegasnya.

Gendo menjelaskan bahwa Teluk Benoa sangatlah kecil yang hanya memiliki luas 1500 ha. Namun kenapa isu ini menjadi penting sebab masalah reklamasi Teluk Benoa adalah sebuah potret dimana kebijakan investasi di bali acapkali tidak pro lingkungan dan tidak pro rakyat. Pertama, ia menjelaskan status hukum Teluk Benoa yang awalnya tidak dapat direklamasi, namun diubah sehingga dapat direklamasi. “Teluk Benoa yang tadinya merupakan kawasan konservasi, diubah menjadi kawsan budidaya sehingga bisa direklamasi”. Jelasnya.

Gendo juga memaparkan bahwa rencana reklamasi Teluk Benoa adalah cermin, dari bagaimana praktek-praktek penguasa dan investasi bekerja untuk mengeksploitasi bali atas nama kepentingan pariwisata. Cermin bagaimana tidak bernyalinya pejabat politik, dan cermin bagaimana angkuhnya kekuasaan. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Teluk Benoa merupakan harga diri bagi rakyat Bali. Jika Teluk Benoa berhasil direklamasi, maka itu merupakan tamparan bagi harga diri rakyat Bali. “Kita harus pastikan bahwa gerakan kita (tolak reklamasi Teluk Benoa) harus menang, sebab jika mereka berhasil mereklamasi Teluk Benoa maka ini sama saja dengan tamparan keras terhadap rakyat bali, adat Bali, Komunitas di bali yang ikut berjuang selama lima tahun ini” tutupnya.

Setelah itu aksi ditutup dengan penampilan grup band Punk Reformasi. Grup band dengan dandanan rambut mohawk dan membawakan lagu-lagu dengan distorsi tinggi. Seusai peampilan band, massa aksi kembali ke parkir timur Renon dan membubarkan diri dengan tertib.