Agustus 21st, 2018 // ForBALI

Tidak Terpengaruh Pilkada, ForBALI Siap Menangkan Teluk Benoa

aksi_parade_budaya_BTR (3)

Sabtu 26 Mei 2018, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali menggelar aksi parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa di depan kantor Gubernur Bali. Aksi tolak reklamasi tersebut dimulai denganlong march dari parkir timur lapangan Renon, mengitari lapangan Niti Madala, menuju Bajra Sandhi, lalu sampai pada kantor Gubernur Bali. Parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa dilakukan karena mengingat tahun ini adalah tahun krusial, dimana izin lokasi reklamasi Teluk Benoa dari PT. TWBI berakhir pada 25 Agustus 2018.

Ditengah situasi Pilkada, antusias massa untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa tidak surut. Hal tersebut terlihat dari ribuan massa aksi yang ikut dalam parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa. Dalam parade budaya tersebut, massa aksi kembali membawa lelancingan bertuliskan “Tolak Reklamasi Teluk Benoa – On Fire” yang diusung di atas kepala saat melakukan long march. Orasi-orasi dalam parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa juga diramaikan oleh perwakilan dari Sukawati, Ubud, Tabanan, Sumerta, Kesiman, dan Renon.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana menjelaskan bahwa jika pada 25 Agustus 2018 rencana reklamasi Teluk Benoa batal, maka itu bukan karena Gubernur Bali yang terpilih, batalnya rencana reklamasi Teluk Benoa adalah karena gerakan rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. “kalau suatu saat ada Gubernur yang menang dan habis menang bersurat kepada presiden, lalu tanggal 25 Agustus 2018 proyek ini batal, jangan berpikir bahwa itu gara-gara Gubernur yang baru. Kalau 25 Agustus 2018 izin lokasi berakhir, maka tidak ada urusan siapapun yang menghentikan kecuali adalah gerakan rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa”. ujarnya.

Lebih lanjut, Gendo menjelaskan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) rencana reklamasi Teluk Benoa PT. TWBI tidak lolos di Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) karena rakyat bali terus melakukan penolakan terhadap rencana tersebut dengan melakukan demo, diskusi, menggelar konser mini, mendirikan baliho, mengibarkan bendera, menggunakan baju toak reklamasi Teluk Benoa hingga dikriminalisasi karena menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Lebih jauh Gendo mengajak untuk terus menggelar aksi-aksi tolak reklamasi Teluk Benoa karena perjuangan ini sudah benar dan agar Pemerintah Pusat tau bahwa rakyat Bali Terus bergerak untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. “kita berjuang untuk komitmen menyelamatkan Teluk Benoa. Kita sudah berbicara puputan, maka lakukanlah seperti orang yang siap puputan, kita harus tetap kuat”. Tegasnya.

Parade Budaya tolak reklamasi Teluk Benoa kali ini juga dimeriahkan oleh penampilan Band The Bullhead. Para massa aksi menikmati alunan lagu dari band tersebut dengan riang gembira, setelah penampilan band The Bullhead usai, massa aksi kembali menuju parkir timur lapangan Renon dengan tertib sembari memungut sampah.

aksi_parade_budaya_BTR (3)

Sabtu 26 Mei 2018, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) kembali menggelar aksi parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa di depan kantor Gubernur Bali. Aksi tolak reklamasi tersebut dimulai denganlong march dari parkir timur lapangan Renon, mengitari lapangan Niti Madala, menuju Bajra Sandhi, lalu sampai pada kantor Gubernur Bali. Parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa dilakukan karena mengingat tahun ini adalah tahun krusial, dimana izin lokasi reklamasi Teluk Benoa dari PT. TWBI berakhir pada 25 Agustus 2018.

Ditengah situasi Pilkada, antusias massa untuk menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa tidak surut. Hal tersebut terlihat dari ribuan massa aksi yang ikut dalam parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa. Dalam parade budaya tersebut, massa aksi kembali membawa lelancingan bertuliskan “Tolak Reklamasi Teluk Benoa – On Fire” yang diusung di atas kepala saat melakukan long march. Orasi-orasi dalam parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa juga diramaikan oleh perwakilan dari Sukawati, Ubud, Tabanan, Sumerta, Kesiman, dan Renon.

Koordinator ForBALI Wayan Gendo Suardana menjelaskan bahwa jika pada 25 Agustus 2018 rencana reklamasi Teluk Benoa batal, maka itu bukan karena Gubernur Bali yang terpilih, batalnya rencana reklamasi Teluk Benoa adalah karena gerakan rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. “kalau suatu saat ada Gubernur yang menang dan habis menang bersurat kepada presiden, lalu tanggal 25 Agustus 2018 proyek ini batal, jangan berpikir bahwa itu gara-gara Gubernur yang baru. Kalau 25 Agustus 2018 izin lokasi berakhir, maka tidak ada urusan siapapun yang menghentikan kecuali adalah gerakan rakyat Bali yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa”. ujarnya.

Lebih lanjut, Gendo menjelaskan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) rencana reklamasi Teluk Benoa PT. TWBI tidak lolos di Kementerian Lingkungan dan Kehutanan (KLHK) karena rakyat bali terus melakukan penolakan terhadap rencana tersebut dengan melakukan demo, diskusi, menggelar konser mini, mendirikan baliho, mengibarkan bendera, menggunakan baju toak reklamasi Teluk Benoa hingga dikriminalisasi karena menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Lebih jauh Gendo mengajak untuk terus menggelar aksi-aksi tolak reklamasi Teluk Benoa karena perjuangan ini sudah benar dan agar Pemerintah Pusat tau bahwa rakyat Bali Terus bergerak untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. “kita berjuang untuk komitmen menyelamatkan Teluk Benoa. Kita sudah berbicara puputan, maka lakukanlah seperti orang yang siap puputan, kita harus tetap kuat”. Tegasnya.

Parade Budaya tolak reklamasi Teluk Benoa kali ini juga dimeriahkan oleh penampilan Band The Bullhead. Para massa aksi menikmati alunan lagu dari band tersebut dengan riang gembira, setelah penampilan band The Bullhead usai, massa aksi kembali menuju parkir timur lapangan Renon dengan tertib sembari memungut sampah.