Pebruari 9th, 2016 // ForBALI

Komunitas Samas Bersepeda Keliling Pulau Bali — Tempuh Jarak 410 KM, Bawa Pesan Tolak Reklamasi Teluk Benoa

Komunitas Samas Bersepeda Keliling Pulau Bali
— Tempuh Jarak 410 KM, Bawa Pesan Tolak Reklamasi Teluk Benoa

DENPASAR – Komunitas sepeda Samas Bali, akhirnya menuntaskan perjalanan mereka berkeliling Bali dengan mengayuh sepeda. Tidak main-main, dengan waktu 4 hari, jarak  410 kilometer mereka tempuh dengan kecepatan rata-rata 16 km/h dan total menghabiskan waktu mengayuh sepeda yakni 25 jam, 36 menit.

Wajah letih terlihat di muka para pengayuh sepeda berkeliling Bali ini saat ditemui di Pura Dalem Segara di Pantai Padang Galak, Denpasar Senin kemarin (8/2) sekitar pukul 15.00. Mereka adalah I Dewa Merthakota, 59, Made Gde Sugiartha, 50, Wayan Artha, 48, Dewi Mahayanthi dan Syamsul Anwar. Haus, tentu. Itu terlihat bagaimana mereka minum air gelas mineral yang disediakan.

Komunistas Samas Keliling Bali (2) copy

Komunitas sepeda ini mengawali perjalanannya dari Kantor DPRD Provinsi Bali pada Jumat lalu (5/2). Setelah kurang dari 4 hari mereka mengayuh sepeda, setidaknya ada 12 pura mereka singgahi dan melakukan persembahyangan.

Pura yang ada di pesisir pulau Bali tersebut di antaranya Pura Tanah Kilap, Denpasar dan ke Pura Petitenget Kerobokan, Badung. Pura Rambut Siwi, Negara  dan mekemit/bermalam di areal Pura. Mereka menempuh nya kurang lebih 110 km.

Keesokan paginya, mereka melanjutkan ke Pura Tirta Segara Rupek Jembrana dan Pura Nyi Roro Kidul,  Selanjutnya Tim menuju ke Pura Pulaki, Buleleng. Seusai bersembahyang di sana, tim melanjutkan perjalanan menuju Pura Ponjok Batu di Buleleng, Pura Manik Kembar di Batu Belah, Tulamben, Karangasem.

Perjalanan berlanjut ke Bukit Asah Karangasem, dari sana mereka melanjutkan perjalanan ke ke‎ Pura Silayukti, ‎kemudian ke Pura Goa Lawah, menuju Pura Watu Klotok, Pura Masceti, Pura Er jeruk, dan terakhir ke Dalem Segara di Padang Galak, Sanur.

Perjalanan panjang searah jarum jam yang diberi nama Ngider Bhuwana. Berdasarkan keterangan Endra Datta selaku ketua harian Samas Bali kemarin, perjalanan ini untuk mendorong agar tidak lagi ada pengerusakan lingkungan di Bali. “Kami memohon agar reklamasi Teluk Benoa tidak jadi dilakukan dan Bali tetap selamat aman damai,” ujarnya.

Sementara itu, Mahayanthi yang menjadi satu-satunya perempuan yang ikut bersepeda berkeliling Bali ini mengatakan perjalanan ini cukup berat ditempuhnya. “Perjalanan ini cukup melelahkan tetapi menyenangkan, kalau ditanya berat sih berat, karena bawa alat-alat yang cukup banyak, seperti matras dan tenda,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mahayanthi mengaku terkesima saat dalam perjalanan yang panjang ini ia tempuh, banyak pemuda dan pemudi dalam perjalanan yang berteriak-teriak tolak reklamasi dan membuat kelima pesepeda ini tambah semangat. “Wah senang sekali, banyak sekali yang teriak-teriak beri dukungan, tambah semangat kami mengayuh sepeda,” ungkapnya lantas tertawa.

Samas Bali menilai, salah satu permasalahan serius Bali yang terkait dengan rencana perusakan lingkungan dan kawasan suci adalah rencana reklamasi teluk benoa. Samas Bali bersikap tegas menolak segala bentuk perusakan lingkungan termasuk rencana menguruk teluk ini. Salah satu bentuk sikap penolakan ini adalah dengan program bersepeda dari Denpasar menuju Jakarta dengan misi penolakan reklamasi Teluk Benoa pada tahun 2014.

Sementara itu, Koodinator Forum Rakyat Bali (ForBALI) Wayan ‘Gendo’ Suardana turut hadir menyambut kehadiran kelima pesepeda ini di Pura Dalem Segara, Padang Galak kemarin. “Ini gerakan hebat, mereka mendapatkan respon langsung dari masyarakat, selain itu dari cerita mereka, para pemangku dan anak muda lainnya ikut mengangkat tangan kiri, pertanda ikut menyuarakan penolakan reklamasi teluk Benoa,” ungkapnya.

Komunitas Samas Bersepeda Keliling Pulau Bali
— Tempuh Jarak 410 KM, Bawa Pesan Tolak Reklamasi Teluk Benoa

DENPASAR – Komunitas sepeda Samas Bali, akhirnya menuntaskan perjalanan mereka berkeliling Bali dengan mengayuh sepeda. Tidak main-main, dengan waktu 4 hari, jarak  410 kilometer mereka tempuh dengan kecepatan rata-rata 16 km/h dan total menghabiskan waktu mengayuh sepeda yakni 25 jam, 36 menit.

Wajah letih terlihat di muka para pengayuh sepeda berkeliling Bali ini saat ditemui di Pura Dalem Segara di Pantai Padang Galak, Denpasar Senin kemarin (8/2) sekitar pukul 15.00. Mereka adalah I Dewa Merthakota, 59, Made Gde Sugiartha, 50, Wayan Artha, 48, Dewi Mahayanthi dan Syamsul Anwar. Haus, tentu. Itu terlihat bagaimana mereka minum air gelas mineral yang disediakan.

Komunistas Samas Keliling Bali (2) copy

Komunitas sepeda ini mengawali perjalanannya dari Kantor DPRD Provinsi Bali pada Jumat lalu (5/2). Setelah kurang dari 4 hari mereka mengayuh sepeda, setidaknya ada 12 pura mereka singgahi dan melakukan persembahyangan.

Pura yang ada di pesisir pulau Bali tersebut di antaranya Pura Tanah Kilap, Denpasar dan ke Pura Petitenget Kerobokan, Badung. Pura Rambut Siwi, Negara  dan mekemit/bermalam di areal Pura. Mereka menempuh nya kurang lebih 110 km.

Keesokan paginya, mereka melanjutkan ke Pura Tirta Segara Rupek Jembrana dan Pura Nyi Roro Kidul,  Selanjutnya Tim menuju ke Pura Pulaki, Buleleng. Seusai bersembahyang di sana, tim melanjutkan perjalanan menuju Pura Ponjok Batu di Buleleng, Pura Manik Kembar di Batu Belah, Tulamben, Karangasem.

Perjalanan berlanjut ke Bukit Asah Karangasem, dari sana mereka melanjutkan perjalanan ke ke‎ Pura Silayukti, ‎kemudian ke Pura Goa Lawah, menuju Pura Watu Klotok, Pura Masceti, Pura Er jeruk, dan terakhir ke Dalem Segara di Padang Galak, Sanur.

Perjalanan panjang searah jarum jam yang diberi nama Ngider Bhuwana. Berdasarkan keterangan Endra Datta selaku ketua harian Samas Bali kemarin, perjalanan ini untuk mendorong agar tidak lagi ada pengerusakan lingkungan di Bali. “Kami memohon agar reklamasi Teluk Benoa tidak jadi dilakukan dan Bali tetap selamat aman damai,” ujarnya.

Sementara itu, Mahayanthi yang menjadi satu-satunya perempuan yang ikut bersepeda berkeliling Bali ini mengatakan perjalanan ini cukup berat ditempuhnya. “Perjalanan ini cukup melelahkan tetapi menyenangkan, kalau ditanya berat sih berat, karena bawa alat-alat yang cukup banyak, seperti matras dan tenda,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mahayanthi mengaku terkesima saat dalam perjalanan yang panjang ini ia tempuh, banyak pemuda dan pemudi dalam perjalanan yang berteriak-teriak tolak reklamasi dan membuat kelima pesepeda ini tambah semangat. “Wah senang sekali, banyak sekali yang teriak-teriak beri dukungan, tambah semangat kami mengayuh sepeda,” ungkapnya lantas tertawa.

Samas Bali menilai, salah satu permasalahan serius Bali yang terkait dengan rencana perusakan lingkungan dan kawasan suci adalah rencana reklamasi teluk benoa. Samas Bali bersikap tegas menolak segala bentuk perusakan lingkungan termasuk rencana menguruk teluk ini. Salah satu bentuk sikap penolakan ini adalah dengan program bersepeda dari Denpasar menuju Jakarta dengan misi penolakan reklamasi Teluk Benoa pada tahun 2014.

Sementara itu, Koodinator Forum Rakyat Bali (ForBALI) Wayan ‘Gendo’ Suardana turut hadir menyambut kehadiran kelima pesepeda ini di Pura Dalem Segara, Padang Galak kemarin. “Ini gerakan hebat, mereka mendapatkan respon langsung dari masyarakat, selain itu dari cerita mereka, para pemangku dan anak muda lainnya ikut mengangkat tangan kiri, pertanda ikut menyuarakan penolakan reklamasi teluk Benoa,” ungkapnya.