Agustus 17th, 2014 // ForBALI

Dirusak Satu Tumbuh Seribu Baliho Tolak Reklamasi

aksi-benoa11

“Kita tidak akan takut. Perusakan-perusakan terhadap baliho penolakan reklamasi yang dilakukan untuk meneror justru akan menumbuhkan baliho-baliho di tempat lain,” kata I Wayan Gendo Suardana di depan massa.

Sekitar 1.500 orang yang ikut aksi berteriak membahana, “Tolak. Tolak!!”

Ucapan Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali) tersebut disampaikan dalam aksi di Teluk Benoa, Kuta Selatan, Bali. Aksi tersebut diikuti massa dari berbagai kelompok warga yang menolak rencana reklamasi di Teluk Benoa.
Aksi itu sendiri dikoordinir aktivis Teluk Benoa Tolak Reklamasi (TBTR). Meskipun demikian berbagai komunitas dari seluruh Bali juga hadir dalam aksi turun ke teluk itu. Massa aksi antara lain dari Desa Adat Kelan, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Hindu Indonesia, Masyarakat Jimbaran Anti Reklamasi, Jaringan Aksi Tolak Reklamasi Sidakarya, dan lain-lain.

Asal peserta aksi mewakili berbagai daerah dan komunitas di Bali. Ada nelayan, pengelola pariwisata, sekaa teruna teruni atau kelompok pemuda banjar, mahasiswa, musisi, aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain.

Adapun asal daerah peserta antara lain dari Jembrana, Gianyar, Denpasar, Badung, Bangli, dan Badung.

Bersama-sama, para peserta aksi tersebut naik perahu, speed boat, banana boat, dan jet ski di Tanjung Benoa lalu bergerak ke arah lokasi yang akan direklamasi oleh PT Tirta Wahana Bahana International (PT TWBI). Di sana perusahaan milik Tomy Winata ini akan mereklamasi teluk hingga 810 hektar dan menjadikannya sebagai tempat wisata berkelas internasional.

Rencana inilah yang ditolak berbagai kelompok warga di Bali. Tidak hanya dari masyarakat pesisir sekitar Teluk Benoa seperti Sanur, Serangan, Kelan, Kedongan, dan Tanjung Benoa tapi juga masyarakat pegunungan seperti Ubud dan Bangli. Para penolak melihat bahwa reklamasi Teluk Benoa akan mengancam seluruh Bali, tak hanya kawasan sekitar.

“Pembangunan pariwisata terpadu di kawasan Teluk Benoa justru akan mematikan usaha pariwisata yang dikelola warga lokal,” kata Koordinator TBTR I Wayan Kartika.

Meskipun demikian, penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa tetap tidak diindahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hal ini terlihat dari belum dicabutkan Peraturan Presiden No 51 tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan preisden No 45 tahun 2011 tentang Rencana tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita).

Penerbitan Perpres 51 tahun 2014 pada intinya menghapus pasal-pasal yang menyatakan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.

aksi-benoa20Karena itulah dalam aksinya massa menuntut empat hal.

Pertama, menuntut SBY untuk MEMBATALKAN Perpres 51 tahun 2014 dan TETAP MEMBERLAKUKAN Perpres no 45 tahun 2011.

Kedua, menuntut SBY untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa yang berpotensi mengancam hajat hidup orang banyak dan meningkatkan risiko bencana ekologis di Bali selatan dan menghancurkan Bali.

Ketiga, meminta SBY untuk menghentikan seluruh proses perizinan reklamasi Teluk Benoa yang secara terbuka telah ditolak seluruh lapisan masyarakat Bali.

Keempat, menuntut SBY dalam masa akhir jabatannya untuk tidak membuat kebijakan strategis yang dapat mengancam keberlangsungan hajat hidup orang banyak termasuk reklamasi Teluk Benoa Bali.

Secara khusus, Koordinator ForBali Wayan Gendo Suardana juga menyikapi maraknya perusakan baliho di beberapa tempat di Bali. Menurut informasi dari para pemasangnya, baliho-baliho yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa tersebut dirusak orang tidak dikenal.

Perusakan itu terjadi antara lain di Suwung dan Kesiman, Denpasar. Baliho-baliho itu dirusak bagian bawahnya yang berisi tulisan Menolak Reklamasi Teluk Benoa.

Menurut Gendo, perusakan baliho-baliho tersebut merupakan cara-cara teror yang bertujuan untuk mengintimidasi aktivis yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Karena itulah Gendo menyerukan, “Tetap maju, Kawan-kawan. Mari kita buktikan bahwa kita tidak takut untuk membela tanah Bali kita meskipun kita diteror dan diintimidasi!”

Terbukti kemudian. Ketika perusakan baliho-baliho di beberapa tempat justru diikuti maraknya pemasangan baliho tolak reklamasi di tempat lain. Suara-suara perlawanan itu tidak bisa dibungkam.

Suara-suara perlawanan di berbagai tempat di Bali tersebut seperti membaca sajak Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul.

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!

aksi-benoa11

“Kita tidak akan takut. Perusakan-perusakan terhadap baliho penolakan reklamasi yang dilakukan untuk meneror justru akan menumbuhkan baliho-baliho di tempat lain,” kata I Wayan Gendo Suardana di depan massa.

Sekitar 1.500 orang yang ikut aksi berteriak membahana, “Tolak. Tolak!!”

Ucapan Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali) tersebut disampaikan dalam aksi di Teluk Benoa, Kuta Selatan, Bali. Aksi tersebut diikuti massa dari berbagai kelompok warga yang menolak rencana reklamasi di Teluk Benoa.
Aksi itu sendiri dikoordinir aktivis Teluk Benoa Tolak Reklamasi (TBTR). Meskipun demikian berbagai komunitas dari seluruh Bali juga hadir dalam aksi turun ke teluk itu. Massa aksi antara lain dari Desa Adat Kelan, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Hindu Indonesia, Masyarakat Jimbaran Anti Reklamasi, Jaringan Aksi Tolak Reklamasi Sidakarya, dan lain-lain.

Asal peserta aksi mewakili berbagai daerah dan komunitas di Bali. Ada nelayan, pengelola pariwisata, sekaa teruna teruni atau kelompok pemuda banjar, mahasiswa, musisi, aktivis lembaga swadaya masyarakat, dan lain-lain.

Adapun asal daerah peserta antara lain dari Jembrana, Gianyar, Denpasar, Badung, Bangli, dan Badung.

Bersama-sama, para peserta aksi tersebut naik perahu, speed boat, banana boat, dan jet ski di Tanjung Benoa lalu bergerak ke arah lokasi yang akan direklamasi oleh PT Tirta Wahana Bahana International (PT TWBI). Di sana perusahaan milik Tomy Winata ini akan mereklamasi teluk hingga 810 hektar dan menjadikannya sebagai tempat wisata berkelas internasional.

Rencana inilah yang ditolak berbagai kelompok warga di Bali. Tidak hanya dari masyarakat pesisir sekitar Teluk Benoa seperti Sanur, Serangan, Kelan, Kedongan, dan Tanjung Benoa tapi juga masyarakat pegunungan seperti Ubud dan Bangli. Para penolak melihat bahwa reklamasi Teluk Benoa akan mengancam seluruh Bali, tak hanya kawasan sekitar.

“Pembangunan pariwisata terpadu di kawasan Teluk Benoa justru akan mematikan usaha pariwisata yang dikelola warga lokal,” kata Koordinator TBTR I Wayan Kartika.

Meskipun demikian, penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa tetap tidak diindahkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Hal ini terlihat dari belum dicabutkan Peraturan Presiden No 51 tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan preisden No 45 tahun 2011 tentang Rencana tata Ruang Kawasan Perkotaan Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita).

Penerbitan Perpres 51 tahun 2014 pada intinya menghapus pasal-pasal yang menyatakan Teluk Benoa sebagai kawasan konservasi.

aksi-benoa20Karena itulah dalam aksinya massa menuntut empat hal.

Pertama, menuntut SBY untuk MEMBATALKAN Perpres 51 tahun 2014 dan TETAP MEMBERLAKUKAN Perpres no 45 tahun 2011.

Kedua, menuntut SBY untuk menolak rencana reklamasi Teluk Benoa yang berpotensi mengancam hajat hidup orang banyak dan meningkatkan risiko bencana ekologis di Bali selatan dan menghancurkan Bali.

Ketiga, meminta SBY untuk menghentikan seluruh proses perizinan reklamasi Teluk Benoa yang secara terbuka telah ditolak seluruh lapisan masyarakat Bali.

Keempat, menuntut SBY dalam masa akhir jabatannya untuk tidak membuat kebijakan strategis yang dapat mengancam keberlangsungan hajat hidup orang banyak termasuk reklamasi Teluk Benoa Bali.

Secara khusus, Koordinator ForBali Wayan Gendo Suardana juga menyikapi maraknya perusakan baliho di beberapa tempat di Bali. Menurut informasi dari para pemasangnya, baliho-baliho yang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa tersebut dirusak orang tidak dikenal.

Perusakan itu terjadi antara lain di Suwung dan Kesiman, Denpasar. Baliho-baliho itu dirusak bagian bawahnya yang berisi tulisan Menolak Reklamasi Teluk Benoa.

Menurut Gendo, perusakan baliho-baliho tersebut merupakan cara-cara teror yang bertujuan untuk mengintimidasi aktivis yang menolak reklamasi Teluk Benoa. Karena itulah Gendo menyerukan, “Tetap maju, Kawan-kawan. Mari kita buktikan bahwa kita tidak takut untuk membela tanah Bali kita meskipun kita diteror dan diintimidasi!”

Terbukti kemudian. Ketika perusakan baliho-baliho di beberapa tempat justru diikuti maraknya pemasangan baliho tolak reklamasi di tempat lain. Suara-suara perlawanan itu tidak bisa dibungkam.

Suara-suara perlawanan di berbagai tempat di Bali tersebut seperti membaca sajak Bunga dan Tembok karya Wiji Thukul.

jika kami bunga
engkau adalah tembok
tapi di tubuh tembok itu
telah kami sebar biji-biji
suatu saat kami akan tumbuh bersama
dengan keyakinan: engkau harus hancur!