Juni 6th, 2018 // ForBALI

Warga Desa Adat Bualu dan Intaran Pegang Teguh Sikap untuk Kemenganan Teluk Benoa

Rabu, 31 Januari 2018 bertepatan dengan Purnama Kawolu masyarakat adat Desa Bualu dan Intaran menunjukkan konsistensinya dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa.

Di Desa Adat Bualu, sekitar pukul 17.30 wita nampak sejumlah warga Desa Adat Bualu mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dipertigaan pintu keluar masuk tol Nusa Dua. Di lokasi ini  sudah sejak lama berdiri baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dari Desa Adat Bualu dan telah beberapa kali diganti dengan yang baru, baik karena rusak oleh waktu ataupun mengalami pengrusakan dan penurunan oleh oknum tak dikenal.

Kali ini warga Desa Adat Bualu mengganti baliho lama yang telah rusak dengam baliho baru sebagai wujud konsistensi mereka untuk menolak dan berjuang membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa. Desa Adat Bualu adalah salah satu Desa Adat yang berhadapan langsung dengan Teluk Benoa yang menyatakan penolakannya terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa.

I Nyoman Sueta, salah seorang prajuru Desa Adat Bualu yang ikut serta mendirikan baliho menyampaikan pemasangan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa yang mereka lakukan untuk mengganti baliho lama yang rusak oleh waktu.

“Baliho yang kami dirikan ini bentuk dari tekad kami untuk terus berjuang membatalkan proyek reklamasi Teluk Benoa, berulang kali baliho kami rusak segera kami ganti yang baru, kami siap memenangkan Teluk Benoa,”jelasnya.

Sementara itu sejumlah warga Desa Adat Intaran, mendirikan 2 baliho baru masing-masing di Jalan Intaran dan di Perempatan Jl. Bypas Ngurah Rai – Jl. Danau Buyan.

Sekitar pukul 20.00 wita, sejumlah pemuda yang tergabung dalam komunitas Cank Nak Bali Nolak Reklamasi dan Leak Sanur yang merupakan basis gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa di Desa Intaran bergotong royong mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa. Desa Adat  Intaran sendiri merupakan desa adat yang berada di kawasan pariwisata Sanur dan berhadapan langsung dengan laut.

Mereka memasang 2 buah baliho yang mereka dirikan tersebut untuk menggantikan baliho lama yang terkoyak oleh angin beberapa hari yang lalu. Wayan Hendrawan, Koordinator Leak Sanur yang ditemui saat mendirikan baliho menyampaikan sudah menjadi tekad para pemuda di Desa Adat Intaran untuk terus menggelorakan semangat penolakan reklamasi Teluk Benoa, salah satunya dengan mendirikan baliho disetiap sudut desa.”Baliho-baliho tersebut merupakan wujud aspirasi warga sehingga selain mendirikan baliho baru kami juga segera mengganti baliho yang rusak baik sengaja dirusak oleh orang tak dikenal ataupun rusak karena alam”, imbuhnya.

Rabu, 31 Januari 2018 bertepatan dengan Purnama Kawolu masyarakat adat Desa Bualu dan Intaran menunjukkan konsistensinya dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa.

Di Desa Adat Bualu, sekitar pukul 17.30 wita nampak sejumlah warga Desa Adat Bualu mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dipertigaan pintu keluar masuk tol Nusa Dua. Di lokasi ini  sudah sejak lama berdiri baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dari Desa Adat Bualu dan telah beberapa kali diganti dengan yang baru, baik karena rusak oleh waktu ataupun mengalami pengrusakan dan penurunan oleh oknum tak dikenal.

Kali ini warga Desa Adat Bualu mengganti baliho lama yang telah rusak dengam baliho baru sebagai wujud konsistensi mereka untuk menolak dan berjuang membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa. Desa Adat Bualu adalah salah satu Desa Adat yang berhadapan langsung dengan Teluk Benoa yang menyatakan penolakannya terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa.

I Nyoman Sueta, salah seorang prajuru Desa Adat Bualu yang ikut serta mendirikan baliho menyampaikan pemasangan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa yang mereka lakukan untuk mengganti baliho lama yang rusak oleh waktu.

“Baliho yang kami dirikan ini bentuk dari tekad kami untuk terus berjuang membatalkan proyek reklamasi Teluk Benoa, berulang kali baliho kami rusak segera kami ganti yang baru, kami siap memenangkan Teluk Benoa,”jelasnya.

Sementara itu sejumlah warga Desa Adat Intaran, mendirikan 2 baliho baru masing-masing di Jalan Intaran dan di Perempatan Jl. Bypas Ngurah Rai – Jl. Danau Buyan.

Sekitar pukul 20.00 wita, sejumlah pemuda yang tergabung dalam komunitas Cank Nak Bali Nolak Reklamasi dan Leak Sanur yang merupakan basis gerakan Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa di Desa Intaran bergotong royong mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa. Desa Adat  Intaran sendiri merupakan desa adat yang berada di kawasan pariwisata Sanur dan berhadapan langsung dengan laut.

Mereka memasang 2 buah baliho yang mereka dirikan tersebut untuk menggantikan baliho lama yang terkoyak oleh angin beberapa hari yang lalu. Wayan Hendrawan, Koordinator Leak Sanur yang ditemui saat mendirikan baliho menyampaikan sudah menjadi tekad para pemuda di Desa Adat Intaran untuk terus menggelorakan semangat penolakan reklamasi Teluk Benoa, salah satunya dengan mendirikan baliho disetiap sudut desa.”Baliho-baliho tersebut merupakan wujud aspirasi warga sehingga selain mendirikan baliho baru kami juga segera mengganti baliho yang rusak baik sengaja dirusak oleh orang tak dikenal ataupun rusak karena alam”, imbuhnya.