Juni 7th, 2018 // ForBALI

Semangat Semakin Berkobar, Warga Adat Seminyak Dirikan Baliho BTR Ukuran Jumbo.

Foto Pemasangan Baliho BTR oleh FANSeminyak 25 Ferbruari 2018 (1)

Seperti  yang disampaikan oleh ForBALI pada saat aksi tolak reklamasi Teluk Benoa, tahun 2018 adalah tahun penentuan, karena ijin lokasi reklamasi yang dipegang oleh investor PT.TWBI yang akan habis pada 25 Agustus 2018. Waktu yang tinggal 6 bulan ini memantik semangat masyarakat untuk terus melakukan aksi-aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa di masing-masing desanya.

Salah satunya seperti yang dilakukan warga Desa Adat Seminyak pada Minggu 25 Februari 2018 dengan mendirikan sebuah baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dan pengibaran 2 buah bendera masing-masing bendera ForBali dan bendera Pasubayan Desa Adat dengan ukuran jumbo.

Pendirian baliho tersebut dilakukan sekitar pukul 17.00 wita yang berlokasi diperempatan Jl. Kunti Seminyak yang dikoordinir oleh Forum Aksi Nyata Seminyak (FANSeminyak) yang merupakan basis gerakan Bali Tolak Reklamasi di Desa Adat Seminyak. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para pemuda yang tergabung dalam STT. Eka Buana Tunggal Budi dengan pengamanan dari Keamanan Terpadu Desa Adat Seminyak.

I Made Ludra Santika, Ketua FANSeminyak menyampaikan bahwa Pemilihan warna Tridatu pada baliho dengan harapan agar dapat menjaga para pejuang serta perjuangan menolak reklamasi Teluk Beno memperoleh kerahayuan dan segala butakala yang ingin menganggu dapat diredam, sedangkan 3 kepalan tangan kiri menunjukkan sikap Desa Adat Seminyak sebagai salah satu dari Pasubayan & FAN Seminyak sebagai pelaksana teknis yg masih konsisten berjuang sampai saat ini, yaitu 1. Tegas menolak rencana Reklamasi Teluk Benoa, 2. Menuntut dibatalkannya Perpres 51 thn 2014 dan 3. Meminta kepada calon Gubernur Bali harus menunjukkan tindakan nyata dalam menolak rencana Reklamasi Teluk Benoa.

“Pendirian baliho dan pengibaran bendera ukuran jumbo ini  juga untuk menunjukkan bahwa semangat perjuangan menolak reklamasi semakin membesar dan berkobar ditahun 2018 ini , karena ini adalah tahun penentuan ijin lokasi reklamasi yang dipegang investor,” imbuhnya.

Ditempat terpisah, Jro Bendesa Desa Adat Seminyak Nyoman Sudana menyampaikan bahwa sebagai salah satu bagian Pasubayan Desa Adat Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Desa Adat Seminyak tetap konsisten dalam berjuang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan menuntut dibatalkannya Perpres 51 tahun 2015. “Kami tetap konsisten dan mendukung kegiatan warga Desa Adat Seminyak untuk terus menggelorakan semangat perjuangan,” tambah Jro Bendesa Adat Seminyak.

Foto Pemasangan Baliho BTR oleh FANSeminyak 25 Ferbruari 2018 (1)

Seperti  yang disampaikan oleh ForBALI pada saat aksi tolak reklamasi Teluk Benoa, tahun 2018 adalah tahun penentuan, karena ijin lokasi reklamasi yang dipegang oleh investor PT.TWBI yang akan habis pada 25 Agustus 2018. Waktu yang tinggal 6 bulan ini memantik semangat masyarakat untuk terus melakukan aksi-aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa di masing-masing desanya.

Salah satunya seperti yang dilakukan warga Desa Adat Seminyak pada Minggu 25 Februari 2018 dengan mendirikan sebuah baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dan pengibaran 2 buah bendera masing-masing bendera ForBali dan bendera Pasubayan Desa Adat dengan ukuran jumbo.

Pendirian baliho tersebut dilakukan sekitar pukul 17.00 wita yang berlokasi diperempatan Jl. Kunti Seminyak yang dikoordinir oleh Forum Aksi Nyata Seminyak (FANSeminyak) yang merupakan basis gerakan Bali Tolak Reklamasi di Desa Adat Seminyak. Kegiatan ini juga dihadiri oleh para pemuda yang tergabung dalam STT. Eka Buana Tunggal Budi dengan pengamanan dari Keamanan Terpadu Desa Adat Seminyak.

I Made Ludra Santika, Ketua FANSeminyak menyampaikan bahwa Pemilihan warna Tridatu pada baliho dengan harapan agar dapat menjaga para pejuang serta perjuangan menolak reklamasi Teluk Beno memperoleh kerahayuan dan segala butakala yang ingin menganggu dapat diredam, sedangkan 3 kepalan tangan kiri menunjukkan sikap Desa Adat Seminyak sebagai salah satu dari Pasubayan & FAN Seminyak sebagai pelaksana teknis yg masih konsisten berjuang sampai saat ini, yaitu 1. Tegas menolak rencana Reklamasi Teluk Benoa, 2. Menuntut dibatalkannya Perpres 51 thn 2014 dan 3. Meminta kepada calon Gubernur Bali harus menunjukkan tindakan nyata dalam menolak rencana Reklamasi Teluk Benoa.

“Pendirian baliho dan pengibaran bendera ukuran jumbo ini  juga untuk menunjukkan bahwa semangat perjuangan menolak reklamasi semakin membesar dan berkobar ditahun 2018 ini , karena ini adalah tahun penentuan ijin lokasi reklamasi yang dipegang investor,” imbuhnya.

Ditempat terpisah, Jro Bendesa Desa Adat Seminyak Nyoman Sudana menyampaikan bahwa sebagai salah satu bagian Pasubayan Desa Adat Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Desa Adat Seminyak tetap konsisten dalam berjuang menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dan menuntut dibatalkannya Perpres 51 tahun 2015. “Kami tetap konsisten dan mendukung kegiatan warga Desa Adat Seminyak untuk terus menggelorakan semangat perjuangan,” tambah Jro Bendesa Adat Seminyak.