Desember 17th, 2015 // ForBALI

Perlawanan Sembilan Penjuru Mata Angin dalam Nawa Sanga Bali Tolak Reklamasi Art Event 2015

Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) kembali menggelar acara dengan seni sebagai senjata. Kali ini ForBALI menampilkan konsep berbeda.

Tema tahun ini adalah Nawa Sanga Art Event Bali Tolak Reklamasi 2015. Agenda ini diadakan pada Minggu 13 Desember 2015 di Pantai Padang Galak, Kesiman, Denpasar. Event akbar yang digagas dengan semangat gotong royong ini menampilkan deretan band, seni tradisional bondres, tarian tradisional dari berbagai sekehe teruna banjar di Bali dan teater.

Perlawanan Sembilan Penjuru Mata Angin dalam Nawa Sanga Bali Tolak Reklamasi Art Event 2015

Perlawanan Sembilan Penjuru Mata Angin dalam Nawa Sanga Bali Tolak Reklamasi Art Event 2015

Nawa Sanga, merupakan gambaran sembilan penjuru mata angin dalam filosofi Hindu, dan ini menjadi simbol perjuangan rakyat Bali melawan investor rakus dengan berbagai cara. Kesembilan penjuru mata angin ini merupakan simbol sikap perlawanan yang disatukan dalam event akbar ini.

Di even ini rakyat Bali bersatu dengan berbagai bentuk media seni dari sejumlah komunitas kreatif di Bali. Even ini adalah bentuk kecil dari besarnya penolakan rakyat Bali terhadap reklamasi Teluk Benoa.

Sacred Barong Dance as Symbol Against Benoa Bay Reclamation

Nawa Sanga menyajikan patung kepalan tangan kiri setinggi 13 meter, diameter 5 meter. Patung ini sebagai simbol Lingga Yoni perlawanan rakyat Bali terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 700 Hektar yang notabene setiap proses yang terkait dengan perijinannya cacat hukum.

Dana acara ini datang dari masyarakat yang secara sukarela menyumbang tanpa ikatan dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak hanya materi, pun beberapa masyarakat turut menyumbangkan tenaga, pikiran serta peralatan.

Sama seperti tahun sebelumnya, even ini terbuka untuk umum. Pengunjung hanya dikenakan donasi secara sukarela. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membiayai kegiatan penolakan reklamasi Teluk Benoa selanjutnya.

Structuring Committee of Padang Galak Beach
Presents

“NAWA SANGA BALI TOLAK REKLAMASI ART EVENT 2015”
Sunday, December 13, 2015
Padang Galak Beach, Denpasar – Bali
11 AM – 11 PM

Music Performance:
Pygmy Marmoset · Relung Kaca · Emoni
Zat Kimia · Jangar · Marco · Bintang
Rollfast · Bali Xtreme Drummer
Mom Called Killer · Deep Sea Explorers
Koma · Lorong · Scared of Bums · Nosstress
The Bullhead · Bersimbah Darah · Joni Agung · The Crotochip

Art and Theatrical Performance:
Sekaa Truna Yowana Jaya, Banjar Lebah Denpasar – Teater Kini Berseri
Cok Sawitri – Rarekual – ST Tegaltamu Batubulan

Activities:
PICA
Surfer Paddle
Mural: Monez, Gus Dark, DieAnt, Komunitas Pojok, Andre Yoga, Seronols , Dwidya Pratista
Happening Art: Made Bayak
DJ Marlowe

Linggam Creative Team: Yoka Sara, Kedux, Marmar Herayukti, NK13

Venue Design:
Swantara Klick Putra, Diana Surya, Pasek Darmawaysya

Production:
ForBali

SUPPORT THE MOVEMENT BY SIGNING THE PETITION: https://www.change.org/petitions/gubernur-bali-mangku-pastika-segera-cabut-sk-reklamasi-teluk-benoa-3

ForBALI (www.forbali.org) is inter-sectorial civil alliances in Bali consisting both institutions and individuals of students, NGOs, artists, youth, musicians, academics, and every individual who cares about the environment and have confidence that Benoa Bay Reclamation is a policy that results in destruction of Bali in the long run.

ForBALI are: Indigenous Village (Desa Adat), Indigenous Banjar, and STT (Sekaa Truna-Truni/Indigenous Youth Committee), Student Organization, Communities and Youth Collective, Non-profit Organization, Artists & Musicians.

In addition to the institutional, this movement is joined also by individuals who are concerned in the wellness of Bali.

Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBALI) kembali menggelar acara dengan seni sebagai senjata. Kali ini ForBALI menampilkan konsep berbeda.

Tema tahun ini adalah Nawa Sanga Art Event Bali Tolak Reklamasi 2015. Agenda ini diadakan pada Minggu 13 Desember 2015 di Pantai Padang Galak, Kesiman, Denpasar. Event akbar yang digagas dengan semangat gotong royong ini menampilkan deretan band, seni tradisional bondres, tarian tradisional dari berbagai sekehe teruna banjar di Bali dan teater.

Perlawanan Sembilan Penjuru Mata Angin dalam Nawa Sanga Bali Tolak Reklamasi Art Event 2015

Perlawanan Sembilan Penjuru Mata Angin dalam Nawa Sanga Bali Tolak Reklamasi Art Event 2015

Nawa Sanga, merupakan gambaran sembilan penjuru mata angin dalam filosofi Hindu, dan ini menjadi simbol perjuangan rakyat Bali melawan investor rakus dengan berbagai cara. Kesembilan penjuru mata angin ini merupakan simbol sikap perlawanan yang disatukan dalam event akbar ini.

Di even ini rakyat Bali bersatu dengan berbagai bentuk media seni dari sejumlah komunitas kreatif di Bali. Even ini adalah bentuk kecil dari besarnya penolakan rakyat Bali terhadap reklamasi Teluk Benoa.

Sacred Barong Dance as Symbol Against Benoa Bay Reclamation

Nawa Sanga menyajikan patung kepalan tangan kiri setinggi 13 meter, diameter 5 meter. Patung ini sebagai simbol Lingga Yoni perlawanan rakyat Bali terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa seluas 700 Hektar yang notabene setiap proses yang terkait dengan perijinannya cacat hukum.

Dana acara ini datang dari masyarakat yang secara sukarela menyumbang tanpa ikatan dan bisa dipertanggungjawabkan. Tidak hanya materi, pun beberapa masyarakat turut menyumbangkan tenaga, pikiran serta peralatan.

Sama seperti tahun sebelumnya, even ini terbuka untuk umum. Pengunjung hanya dikenakan donasi secara sukarela. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk membiayai kegiatan penolakan reklamasi Teluk Benoa selanjutnya.

Structuring Committee of Padang Galak Beach
Presents

“NAWA SANGA BALI TOLAK REKLAMASI ART EVENT 2015”
Sunday, December 13, 2015
Padang Galak Beach, Denpasar – Bali
11 AM – 11 PM

Music Performance:
Pygmy Marmoset · Relung Kaca · Emoni
Zat Kimia · Jangar · Marco · Bintang
Rollfast · Bali Xtreme Drummer
Mom Called Killer · Deep Sea Explorers
Koma · Lorong · Scared of Bums · Nosstress
The Bullhead · Bersimbah Darah · Joni Agung · The Crotochip

Art and Theatrical Performance:
Sekaa Truna Yowana Jaya, Banjar Lebah Denpasar – Teater Kini Berseri
Cok Sawitri – Rarekual – ST Tegaltamu Batubulan

Activities:
PICA
Surfer Paddle
Mural: Monez, Gus Dark, DieAnt, Komunitas Pojok, Andre Yoga, Seronols , Dwidya Pratista
Happening Art: Made Bayak
DJ Marlowe

Linggam Creative Team: Yoka Sara, Kedux, Marmar Herayukti, NK13

Venue Design:
Swantara Klick Putra, Diana Surya, Pasek Darmawaysya

Production:
ForBali

SUPPORT THE MOVEMENT BY SIGNING THE PETITION: https://www.change.org/petitions/gubernur-bali-mangku-pastika-segera-cabut-sk-reklamasi-teluk-benoa-3

ForBALI (www.forbali.org) is inter-sectorial civil alliances in Bali consisting both institutions and individuals of students, NGOs, artists, youth, musicians, academics, and every individual who cares about the environment and have confidence that Benoa Bay Reclamation is a policy that results in destruction of Bali in the long run.

ForBALI are: Indigenous Village (Desa Adat), Indigenous Banjar, and STT (Sekaa Truna-Truni/Indigenous Youth Committee), Student Organization, Communities and Youth Collective, Non-profit Organization, Artists & Musicians.

In addition to the institutional, this movement is joined also by individuals who are concerned in the wellness of Bali.