Pebruari 10th, 2017 // ForBALI

Baliho-baliho Tolak Reklamasi Teluk Benoa Dirusak, Desa Adat Langsung bangkit Melawan

FB_IMG_1486723147583DENPASAR – Perusakan terhadap baliho aspirasi masyarakat Bali terkait penolakan rencana reklamasi kembali terjadi. Berdasarkan data yang dihimpun, terjadi perusakan baliho di wilayah Karangasem 3 baliho, Klungkung 1 baliho, Gianyar 5 baliho, Denpasar 11 baliho dan Badung 7 baliho. Baliho-baliho tersebut adalah milik 7 Desa Adat, 3 STT dan 10 Komunitas yang tersebar di 5 Kabupaten/Kota tersebut.

 

Di tahun 2017, upaya pemberangusan baliho aspirasi penolakan reklamasi Teluk Benoa pada Kamis dini hari tersebut adalah kali kedua. Bedanya, jika sebelumnya ada aparat Kepolisian yang secara terang-terangan menurunkan paksa baliho tolak reklamasi Teluk Benoa seperti baliho milik STT. Dharma Bakti di Melaya dan serta baliho lainnya diturunkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, kali ini perusakan dan penghilangan paksa baliho-baliho tolak reklamasi Teluk Benoa tersebut berlangsung cepat, serempak dan senyap. Dugaannya, para pelaku melakukan aksinya pada Kamis (9/2) malam hari hingga jelang pagi secara serentak.

 

Hal ini disampaikan Komang Kojek, Warga Pesedahan, Karangasem yang menuturkan pada pukul 01.00 malam, baliho masih terlihat berdiri, namun beberapa jam kemudian hilang. “Di pesedahan baliho jam 1 malam masih berdiri karena ada 2 pemuda kami yang lewat. Nah pas jam 2 pulang dari Candidasa, baliho sudah hilang,” ungkapnya.

 

Sementara, bambunya digeletakan oleh para pelaku begitu saja. Bahkan, yang di jalan Veteran, jalur sebelas karangasem, tidak hanya baliho saja, bambu-bambu sebagai penyangga baliho juga dikatakan hilang. “Ada juga baliho punya komunitas malaikat dirobek. Total tiga baliho dirusak yang ada di wilayah kami,” tuturnya.

 

Sedangkan yang di Kesiman, Denpasar ada 5 baliho yang dirusak, yakni baliho Desa Pakraman Kesiman yang berada di perempatan Padang Galak, perempatan Tohpati, baliho Kesiman Petilan, baliho Komunitas The Lek’s di Pura Pengrebongan dan baliho ST Putra Kencana Banjar Dauh Tangluk dirusak dan bahkan dirobohkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab serta anti demokrasi.

 

Hal yang sama juga terjadi di Renon, yakni dua Balihonya yang berada di bunderan Renon dan Tukad Balian yang disebutkan oleh warga robek pada sekitar pukul 03.00. Di daerah Klungkung,  Sumerta, Seminyak, Kerobokan, Kerobokan dan Intaran juga terjadi. Anehnya, dalam pantauan yang dilakukan, ada bentuk dan pola perobekan yang sejenis, sehingga ada dugaan dilakukan oleh kelompok satu komando.

 

Sore hari pasca perusakan tersebut, Desa Adat langsung bangkit melawan, salah satunya adalah Desa Adat Intaran. Warga Desa Adat Intaran tampak memperbaiki beberpa baliho mereka yang di rusak seperti baliho yang berada di perempatan McD, Sanur.

 

“kami memperbaiki baliho sebagai tanda perlawanan kami kepada mereka yang tidak berani terang-terangan merusak baliho kami” ujar I Wayan Hendrawan.

Sementara itu, Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI), I Wayan Gendo Suardana mengecam pemberangusan baliho-baliho tersebut. Menurutnya pemberangusan baliho aspirasi tolak reklamasi baik milik Desa Adat, STT maupun Komunitas ini adalah cara-cara yang tidak beradap. Ia juga menjelaskan ada pihak-pihak yang berupaya terus membungkam gerakan tolak reklamasi teluk Benoa.

 

Untuk kesekian kalinya baliho tolak reklamasi teluk benoa ini diberangus, baik secara terbuka maupun dengan cara-cara senyap. Praktek pemberangusan terhadap aspirasi desa adat yang menolak reklamasi teluk benoa bukanlah cara beradap” kecam Gendo.

 

FB_IMG_1486723147583DENPASAR – Perusakan terhadap baliho aspirasi masyarakat Bali terkait penolakan rencana reklamasi kembali terjadi. Berdasarkan data yang dihimpun, terjadi perusakan baliho di wilayah Karangasem 3 baliho, Klungkung 1 baliho, Gianyar 5 baliho, Denpasar 11 baliho dan Badung 7 baliho. Baliho-baliho tersebut adalah milik 7 Desa Adat, 3 STT dan 10 Komunitas yang tersebar di 5 Kabupaten/Kota tersebut.

 

Di tahun 2017, upaya pemberangusan baliho aspirasi penolakan reklamasi Teluk Benoa pada Kamis dini hari tersebut adalah kali kedua. Bedanya, jika sebelumnya ada aparat Kepolisian yang secara terang-terangan menurunkan paksa baliho tolak reklamasi Teluk Benoa seperti baliho milik STT. Dharma Bakti di Melaya dan serta baliho lainnya diturunkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab, kali ini perusakan dan penghilangan paksa baliho-baliho tolak reklamasi Teluk Benoa tersebut berlangsung cepat, serempak dan senyap. Dugaannya, para pelaku melakukan aksinya pada Kamis (9/2) malam hari hingga jelang pagi secara serentak.

 

Hal ini disampaikan Komang Kojek, Warga Pesedahan, Karangasem yang menuturkan pada pukul 01.00 malam, baliho masih terlihat berdiri, namun beberapa jam kemudian hilang. “Di pesedahan baliho jam 1 malam masih berdiri karena ada 2 pemuda kami yang lewat. Nah pas jam 2 pulang dari Candidasa, baliho sudah hilang,” ungkapnya.

 

Sementara, bambunya digeletakan oleh para pelaku begitu saja. Bahkan, yang di jalan Veteran, jalur sebelas karangasem, tidak hanya baliho saja, bambu-bambu sebagai penyangga baliho juga dikatakan hilang. “Ada juga baliho punya komunitas malaikat dirobek. Total tiga baliho dirusak yang ada di wilayah kami,” tuturnya.

 

Sedangkan yang di Kesiman, Denpasar ada 5 baliho yang dirusak, yakni baliho Desa Pakraman Kesiman yang berada di perempatan Padang Galak, perempatan Tohpati, baliho Kesiman Petilan, baliho Komunitas The Lek’s di Pura Pengrebongan dan baliho ST Putra Kencana Banjar Dauh Tangluk dirusak dan bahkan dirobohkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab serta anti demokrasi.

 

Hal yang sama juga terjadi di Renon, yakni dua Balihonya yang berada di bunderan Renon dan Tukad Balian yang disebutkan oleh warga robek pada sekitar pukul 03.00. Di daerah Klungkung,  Sumerta, Seminyak, Kerobokan, Kerobokan dan Intaran juga terjadi. Anehnya, dalam pantauan yang dilakukan, ada bentuk dan pola perobekan yang sejenis, sehingga ada dugaan dilakukan oleh kelompok satu komando.

 

Sore hari pasca perusakan tersebut, Desa Adat langsung bangkit melawan, salah satunya adalah Desa Adat Intaran. Warga Desa Adat Intaran tampak memperbaiki beberpa baliho mereka yang di rusak seperti baliho yang berada di perempatan McD, Sanur.

 

“kami memperbaiki baliho sebagai tanda perlawanan kami kepada mereka yang tidak berani terang-terangan merusak baliho kami” ujar I Wayan Hendrawan.

Sementara itu, Koordinator Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI), I Wayan Gendo Suardana mengecam pemberangusan baliho-baliho tersebut. Menurutnya pemberangusan baliho aspirasi tolak reklamasi baik milik Desa Adat, STT maupun Komunitas ini adalah cara-cara yang tidak beradap. Ia juga menjelaskan ada pihak-pihak yang berupaya terus membungkam gerakan tolak reklamasi teluk Benoa.

 

Untuk kesekian kalinya baliho tolak reklamasi teluk benoa ini diberangus, baik secara terbuka maupun dengan cara-cara senyap. Praktek pemberangusan terhadap aspirasi desa adat yang menolak reklamasi teluk benoa bukanlah cara beradap” kecam Gendo.