September 4th, 2013 // ForBALI

Band Cadas Seringai Tolak Reklamasi Tanjung Benoa

Seringai saat menjadi bintang tamu di acara bertajuk St.Lukas Fest : Down To Earth, Sabtu (31/8) malam, di GOR Siladharma Silakarang, Ubud, Gianyar.

Gianyar, Bali – Tidak hanya musisi dan penyanyi Bali yang melakukan perlawanan serta konsen terhadap rencana reklamasi Teluk Tanjung Benoa seluas 838 H Kuta Selatan, Badung.

Isu ini pun mendapat perhatian khusus oleh band metal papan atas asal Jakarta yakni Seringai saat menjadi bintang tamu di acara bertajuk “St.Lukas Fest : Down To Earth” Sabtu (31/8) malam, di GOR Siladharma Silakarang, Ubud, Gianyar.

Tampil di atas panggung membawakan beberapa lagu hits mereka seperti “Tragedi”, “Serigala Militia”, “Individu Merdeka” dan “Akselarasi Maksimal” band yang digawangi diawaki Arian (vokal), Ricky Siahaan (gitar), Kemod (drum), dan Sammy (bas) sukses ‘membakar’ arena konser yang dipadati ratusan penonton.

Sebelum Seringai beraksi, deretan band Bali seperti Suicidal Sinatra, The Dissland, Roots Radical dan lainya meramaikan panggung acara.

Di sela-sela aksinya, mengenakan baju bertuliskan “Bali Tolak Reklamasi” vokalis sekaligus frontman Seringai, Arian Tigabelas menyerukan sekaligus mengajak ratusan penonton yang memadati gedung tersebut menolak segala bentuk eksploitasi alam termasuk rencana reklamasi teluk Tanjung Benoa oleh PT TWBI.

“Siapa yang peduli dengan masa depan Bali ? dan siapa yang ingin masa depan anak-anak kalian lebih baik di Bali ? itu makannya saya sepakat dengan Bali tolak reklamasi. Kalau mengenai urusan lingkungan hidup, Indonesia paling parah dan Bali sekarang lagi dicoba. Jadi gerakan ini butuh teman-teman untuk mensosialisasikan kembali, turun ke jalan menyuarakan Bali tolak reklamasi,” serunya di atas panggung dan disambut teriakan tolak reklamasi oleh penonton.

IMG-20130902-WA0000

Ketika ditemui sebelum pentas, Arian Tigabelas mengatakan, menolak keras rencana reklamasi yang terjadi di Teluk Tanjung Benoa. Dan baginya reklamasi ini merupakan pelanggaran yang akan mengganggu ekosistem lingkungan kedepannya.

” Pada intinya saya menolak sesuatu yang akan mengganggu lingkungan hidup. Sebagai orang Indonesia banyak banget pelanggaran-pelanggaran lingkungan hidup, termasuk rencana rekamasi ini, karena pemerintahnya emang nga bisa diharapkan,” ucap pria yang juga aktif di penyelamatan orang utan.

Dengan makin banyaknya suara-suara penolakan yang muncul dari berbagai elemen masyarakat sipil seperti LSM, aktivis lingkungan bahkan musisi. Ini menandakan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan sduah mulai terbangun.

”Sejauh ini yang saya baca di berita-berita gerakan menolak reklamasi, kian hari semakin membesar dan ini tidak terlepas dari munculnya kesadaran dan kepedulian orang terhadap lingkungan,” ujarnya.

Ia pun menyatakan, jangan tergiur dengan adanya reklamasi ini, seperti terbukanya lapangan pekerjaan bagi ratusan ribu tenaga kerja baru. Justru menurut Arian, dampaknya kerusakan yang ditimbulkan ke depannya juga harus dilihat.

“Jangan terpancing dengan iming-iming proyek ini akan memperkerjaan sekian ratus ribu tenaga kerja, tapi lihat juga kerusakannya yang berdampak pada masa depan anak-anak kita, lingkungan hidupnya, ekosistemnya,” uajrnya.

Arian menegaskan, gerakan ini harus terus disuarakan, tidak hanya menyuarakan dengan turun kejalan, tapi berbagai cara bisa dilakaukan salah satunya adalah melalaui media musik.

”Push aja terus, masih banyak cara yang bisa dilakukan. Seringai sangat support dengan gerakan menolak reklamasi yang terjadi di teluk Tanjung Benoa. Karena ini menyangkut masa depan. Karena kita tahu pelanggaran lingkungan hidup di Indonesia mungkin bisa jadi paling parah.”tutupnya.

Seringai saat menjadi bintang tamu di acara bertajuk St.Lukas Fest : Down To Earth, Sabtu (31/8) malam, di GOR Siladharma Silakarang, Ubud, Gianyar.

Gianyar, Bali – Tidak hanya musisi dan penyanyi Bali yang melakukan perlawanan serta konsen terhadap rencana reklamasi Teluk Tanjung Benoa seluas 838 H Kuta Selatan, Badung.

Isu ini pun mendapat perhatian khusus oleh band metal papan atas asal Jakarta yakni Seringai saat menjadi bintang tamu di acara bertajuk “St.Lukas Fest : Down To Earth” Sabtu (31/8) malam, di GOR Siladharma Silakarang, Ubud, Gianyar.

Tampil di atas panggung membawakan beberapa lagu hits mereka seperti “Tragedi”, “Serigala Militia”, “Individu Merdeka” dan “Akselarasi Maksimal” band yang digawangi diawaki Arian (vokal), Ricky Siahaan (gitar), Kemod (drum), dan Sammy (bas) sukses ‘membakar’ arena konser yang dipadati ratusan penonton.

Sebelum Seringai beraksi, deretan band Bali seperti Suicidal Sinatra, The Dissland, Roots Radical dan lainya meramaikan panggung acara.

Di sela-sela aksinya, mengenakan baju bertuliskan “Bali Tolak Reklamasi” vokalis sekaligus frontman Seringai, Arian Tigabelas menyerukan sekaligus mengajak ratusan penonton yang memadati gedung tersebut menolak segala bentuk eksploitasi alam termasuk rencana reklamasi teluk Tanjung Benoa oleh PT TWBI.

“Siapa yang peduli dengan masa depan Bali ? dan siapa yang ingin masa depan anak-anak kalian lebih baik di Bali ? itu makannya saya sepakat dengan Bali tolak reklamasi. Kalau mengenai urusan lingkungan hidup, Indonesia paling parah dan Bali sekarang lagi dicoba. Jadi gerakan ini butuh teman-teman untuk mensosialisasikan kembali, turun ke jalan menyuarakan Bali tolak reklamasi,” serunya di atas panggung dan disambut teriakan tolak reklamasi oleh penonton.

IMG-20130902-WA0000

Ketika ditemui sebelum pentas, Arian Tigabelas mengatakan, menolak keras rencana reklamasi yang terjadi di Teluk Tanjung Benoa. Dan baginya reklamasi ini merupakan pelanggaran yang akan mengganggu ekosistem lingkungan kedepannya.

” Pada intinya saya menolak sesuatu yang akan mengganggu lingkungan hidup. Sebagai orang Indonesia banyak banget pelanggaran-pelanggaran lingkungan hidup, termasuk rencana rekamasi ini, karena pemerintahnya emang nga bisa diharapkan,” ucap pria yang juga aktif di penyelamatan orang utan.

Dengan makin banyaknya suara-suara penolakan yang muncul dari berbagai elemen masyarakat sipil seperti LSM, aktivis lingkungan bahkan musisi. Ini menandakan kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan sduah mulai terbangun.

”Sejauh ini yang saya baca di berita-berita gerakan menolak reklamasi, kian hari semakin membesar dan ini tidak terlepas dari munculnya kesadaran dan kepedulian orang terhadap lingkungan,” ujarnya.

Ia pun menyatakan, jangan tergiur dengan adanya reklamasi ini, seperti terbukanya lapangan pekerjaan bagi ratusan ribu tenaga kerja baru. Justru menurut Arian, dampaknya kerusakan yang ditimbulkan ke depannya juga harus dilihat.

“Jangan terpancing dengan iming-iming proyek ini akan memperkerjaan sekian ratus ribu tenaga kerja, tapi lihat juga kerusakannya yang berdampak pada masa depan anak-anak kita, lingkungan hidupnya, ekosistemnya,” uajrnya.

Arian menegaskan, gerakan ini harus terus disuarakan, tidak hanya menyuarakan dengan turun kejalan, tapi berbagai cara bisa dilakaukan salah satunya adalah melalaui media musik.

”Push aja terus, masih banyak cara yang bisa dilakukan. Seringai sangat support dengan gerakan menolak reklamasi yang terjadi di teluk Tanjung Benoa. Karena ini menyangkut masa depan. Karena kita tahu pelanggaran lingkungan hidup di Indonesia mungkin bisa jadi paling parah.”tutupnya.