Agustus 21st, 2018 // ForBALI

2018 ! Tahun Penentuan Rencana Reklamasi Teluk Benoa, ST Panca Kumara Komitmen Menangkan Teluk Benoa

Foto Kegiatan Lomba Ogoh-ogoh ST. Panca Kumara 16 Maret 2018 (3)

Jumat, 16 Maret 2018 Sekaa Teruna (ST) Panca Kumara, Banjar Tatasan Kaja, Desa Pakraman Tonja, Denpasar kembali menegaskan sikapnya untuk tetap konsisten menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Sikap tersebut dilakukan pada saat lomba ogoh-ogoh yang diadakan Desa Pakraman Tonja dan Desa Pakraman Ongan, pada perayaan hari raya pengerupukan. Atribut ForBALI dipasang pada alat baleganjurnya sepanjang lomba ogoh-ogoh berlangsung.

Tema ogoh-ogoh yang diangkat oleh ST Panca Kumara adalah Parmutining Baruna. Tema tersebut menceritakan tentang kemurkaan Dewa Baruna akibat dari perbuatan Dewi Danu yang membunuh hewan-hewan dan membuangnya ke lautan. Hewan-hewan tersebut dibunuh karena memakan tanaman-tanaman di perkebunan Dewi Danu, sehingga kebun Dewi Danu menjadi rusak. Dilarungnya hewan-hewan ke laut menyebabkan lautan menjadi kotor. Dikotorinya lautan membuat Dewa Baruna Marah, lalu ia menyebarkan merana (bencana) ke seluruh lapisan masyarakat. Dewi Danu pun tanggap dan memohon agar Dewa Baruna mau memaafkan kesalahannya karena telah mengotori lautan.

Ketua ST. Panca Kumara, I Nyoman Widiana menjelaskan bahwa ogoh-ogoh ST. Panca Kumara yang mengikuti lomba di Desa Pakraman Tonja dan Ongan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat dari Banjar Tatasan Kaja. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa lomba Ogoh-ogoh ini dilakukan pada 2 (dua) pos. “Pos pertama, ogoh-ogoh kami pentas di perempatan Gatot Subroto-Seroja, lalu di pos kedua, ogoh-ogoh kami pentas di perempatan Gatot Subroto-Nangka” terangnya.

Lebih lanjut, Widiana menjelaskan bahwa pemilihan tema ogoh-ogoh Parmutining Baruna adalah untuk menyampaikan pesan dari ST. Panca Kumara, bahwa laut adalah kawasan yang disucikan oleh rakyat Bali, jika kawasan suci rusak, maka seluruh dampaknya dirasakan oleh seluruh rakyat Bali. “Jika kawasan suci yang ada di Teluk Benoa rusak, maka kami juga yang merasakan dampaknya. Itu tidak ingin kami wariskan kepada generasi selanjutnya”. Ungkapnya.

Widiana juga menjelaskan bahwa tahun 2018 adalah tahun penentuan rencana reklamasi Teluk Benoa batal atau tidak, karena izin lokasi dari PT TWBI berakhir pada tanggal 25 Agustus 2018. Atas dasar itu, dalam setiap kegiatan yang dibuat dan diikuti oleh ST. Panca Kumara, harus tetap membawa pesan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. “Kami ingin membuktikan bahwa dimanapun kami, apapun kegiatan kami, ST. Panca Kumara tetap membawa pesan penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa dan siap menangkan Teluk Benoa”. Tegasnya.

Foto Kegiatan Lomba Ogoh-ogoh ST. Panca Kumara 16 Maret 2018 (3)

Jumat, 16 Maret 2018 Sekaa Teruna (ST) Panca Kumara, Banjar Tatasan Kaja, Desa Pakraman Tonja, Denpasar kembali menegaskan sikapnya untuk tetap konsisten menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Sikap tersebut dilakukan pada saat lomba ogoh-ogoh yang diadakan Desa Pakraman Tonja dan Desa Pakraman Ongan, pada perayaan hari raya pengerupukan. Atribut ForBALI dipasang pada alat baleganjurnya sepanjang lomba ogoh-ogoh berlangsung.

Tema ogoh-ogoh yang diangkat oleh ST Panca Kumara adalah Parmutining Baruna. Tema tersebut menceritakan tentang kemurkaan Dewa Baruna akibat dari perbuatan Dewi Danu yang membunuh hewan-hewan dan membuangnya ke lautan. Hewan-hewan tersebut dibunuh karena memakan tanaman-tanaman di perkebunan Dewi Danu, sehingga kebun Dewi Danu menjadi rusak. Dilarungnya hewan-hewan ke laut menyebabkan lautan menjadi kotor. Dikotorinya lautan membuat Dewa Baruna Marah, lalu ia menyebarkan merana (bencana) ke seluruh lapisan masyarakat. Dewi Danu pun tanggap dan memohon agar Dewa Baruna mau memaafkan kesalahannya karena telah mengotori lautan.

Ketua ST. Panca Kumara, I Nyoman Widiana menjelaskan bahwa ogoh-ogoh ST. Panca Kumara yang mengikuti lomba di Desa Pakraman Tonja dan Ongan ini melibatkan seluruh elemen masyarakat dari Banjar Tatasan Kaja. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa lomba Ogoh-ogoh ini dilakukan pada 2 (dua) pos. “Pos pertama, ogoh-ogoh kami pentas di perempatan Gatot Subroto-Seroja, lalu di pos kedua, ogoh-ogoh kami pentas di perempatan Gatot Subroto-Nangka” terangnya.

Lebih lanjut, Widiana menjelaskan bahwa pemilihan tema ogoh-ogoh Parmutining Baruna adalah untuk menyampaikan pesan dari ST. Panca Kumara, bahwa laut adalah kawasan yang disucikan oleh rakyat Bali, jika kawasan suci rusak, maka seluruh dampaknya dirasakan oleh seluruh rakyat Bali. “Jika kawasan suci yang ada di Teluk Benoa rusak, maka kami juga yang merasakan dampaknya. Itu tidak ingin kami wariskan kepada generasi selanjutnya”. Ungkapnya.

Widiana juga menjelaskan bahwa tahun 2018 adalah tahun penentuan rencana reklamasi Teluk Benoa batal atau tidak, karena izin lokasi dari PT TWBI berakhir pada tanggal 25 Agustus 2018. Atas dasar itu, dalam setiap kegiatan yang dibuat dan diikuti oleh ST. Panca Kumara, harus tetap membawa pesan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. “Kami ingin membuktikan bahwa dimanapun kami, apapun kegiatan kami, ST. Panca Kumara tetap membawa pesan penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa dan siap menangkan Teluk Benoa”. Tegasnya.