Sejak Sabtu sore (18/06) telah tampak tanda-tanda kemeriahan rencana deklarasi dari 3 (tiga) Desa Pakraman yang menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa yaitu Desa Pakraman Pedungan, Kepaon dan Pemogan. Pemuda mengawali aksi deklarasi tiga Desa Pakaraman tersebut mereka melakukan pemasangan baliho di perempatan Catus Pata di Desa Pakraman Pedungan dan pengibaran ratusan bendera ForBALI.
Aksi yang juga merupakan aksi besar dari Pasubayan Desa Pakraman Bali Tolak Reklamasi dimulai dengan melakukan pawai dari lingkungan Banjar Ambengan Pedungan menuju arah perempatan (Catus Pata) Pesanggaran. Sebelum melakukan pawai, sekitar pukul 14.00 wita, pada Minggu (19/6) massa berdatangan dari berbagai penjuru dan masuk ke Jalan Raya Diponegoro, Desa Pakraman Pedungan.
Di sini lebih dari 20.000 peserta aksi berkumpul dari berbagai wilayah berkumpul sebelum aksi dimulai termasuk warga dari Desa Pakraman ketiga desa tersebut. Sesampai di perempatan (Catus Pata) selanjutnya dilakukan orasi penolakan reklamasi dan penyampaian sikap masing-masing Desa Pakraman yang disampaikan langsung oleh Para Bendesa (Kepala Desa Pakraman) dan juga dari ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa).
Bendesa Pedungan Gusti Putu Budiarta, mengawali orasi dari tiga Desa Pakraman yang menggelar deklarasi penolakan reklamasi Teluk Benoa dengan pekikan tolak reklamasi Tolak reklamasi. Menurut Budiarta selama ini Desa Pakraman Pedungan sudah resmi menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa sejak 2014. Untuk menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa ini menurutnya hanya dengan satu jalan cabut perpres dan semuanya akan selesai.
“Selama ini sudah secara resmi desa menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa sejak 2014,” ujarnya seraya menjelaskan pada waktu banjir rob beberapa waktu yang lalu desa mereka terkena dampak, apalagi nanti jika reklamasi Teluk Benoa tetap dipaksakan. “Satu jalan untuk menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa dengan Cabut Perpres 51 tahun 2014,” kata desa Bendesa Pedungan.
Giliran Bendesa Pakraman Pemogan berorasi, Ia mengawali orasinya dengan meneriakkan yel-yel tolak reklamasi yang disambut juga dengan teriakan tolak oleh massa aksi yang hadir. “Yang tolak reklamasi teriak tolak, tolak,” pekik Bendesa Pakraman Pemogan A.A Ketut Arya Ardana Ardana disambut massa aksi.
Menurutnya, didalam orasi yang disampaikan deklarasi penolakan reklamasi hari ini untuk menunjukkan kepada para pejabat yang duduk di atas bahwa sikap rakyat Bali menolak reklamasi Teluk Benoa. “Di hari ini kami mendeklarasikan di Catus Pata Pesanggaran bahwa kami menolak reklamasi, kepada pejabat yang duduk di atas kami rakyat Bali menolak reklamasi,” ujar Bendesa Pemogan. Ardana juga menghimbau kepada massa yang terlibat di aksi deklarasi untuk terus melakukan aksi damai seperti yang sudah dilakukan selam ini dalam menolak reklamasi Teluk Benoa.
“Hidup Desa Adat, Hidup Desa Adat,” ujar Bendesa Adat Kepaon Ida Bagus Sutedja mengawali orasi nya. Bendesa Pakraman Kepaon menyatakan bahwa Desa Pakraman Kepaon sudah menolak reklamasi sejak tahun 2014. Di dalam orasinya ia mengimbau agar perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa tidak berhenti sampai di deklarasi tiga desa pakaraman tersebut. “Mari kita semua desa adat dan sekaa teruna tolak reklamasi Teluk Benoa. Jangan sampai di sini saja, kita harus terus berjuang,” ajak Suteja.
Ia juga menjelaskan, tiga desa pakraman yang dekat dan berhadapan langsung dengan Teluk Benoa terkena dampak dari banjir rob, jika reklamasi Teluk Benoa dipaksakan maka merekalah korban pertamanya dari banjir-banjir rob.
Puluhan ribu massa yang hadir di dalam aksi deklarasi bersama dari tiga Desa Pakraman memicu semangat dari Bendesa Adat Buduk. Di dalam orasinya beliau mengaskan bahwa Bali Selatan hari ini digetarkan oleh gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa oleh anak-anak muda Bali. “Hari ini Bali Selatan bergetar karena digetarkan oleh langkah anak-anak Bali yang ingin memperjuangkan perjuangan membela tanah Bali,” ungkap Bendesa Adat Buduk, Ida Bagus Ketut Purbanegara.
Koordinator ForBali Wayan Gendo Suardana di dalam orasinya kembali menegaskan bahwa gerakan ini tidak akan mundur satu langkah pun. “Satu aktivis ForBALI dipukul, sepuluh ribu massa akan membanjiri aksi-aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa. Gerakan ini tidak akan mundur satu langkah pun,” papar Gendo.
Di dalam orasinya Gendo juga menyayangkan sikap kepolisian yang mengulur-ngulur waktu dalam pemberian surat tanda terima pemberitahuan. Seharusnnya menurut Gendo, berdasarkan undang-undang surat tanda terima pemeritahuan itu sudah diterima sejak surat pemberitahuan dikirim.
“Pemberian surat tanda terima pemberitahuan adalah kewajiban pihak kepolisian dan surat tersebut harus sudah diberikan sejak surat pemberitahuan disampaikan kepada polisi bukan malah diulur-ulur,” ujar Gendo seraya menambahkan bahwa ada dugaan upaya mengulur waktu dan bahkan sampai tidak memberikan surat tanda terima pemberitahuan adalah untuk menghambat penyampaian pendapat di muka umum.
Aksi deklarasi damai yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut diakhiri dengan pembubaran massa dan kembali menuju titik awal keberangkatan. Massa membubarkan diri dengan tertib.
Sejak Sabtu sore (18/06) telah tampak tanda-tanda kemeriahan rencana deklarasi dari 3 (tiga) Desa Pakraman yang menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa yaitu Desa Pakraman Pedungan, Kepaon dan Pemogan. Pemuda mengawali aksi deklarasi tiga Desa Pakaraman tersebut mereka melakukan pemasangan baliho di perempatan Catus Pata di Desa Pakraman Pedungan dan pengibaran ratusan bendera ForBALI.
Aksi yang juga merupakan aksi besar dari Pasubayan Desa Pakraman Bali Tolak Reklamasi dimulai dengan melakukan pawai dari lingkungan Banjar Ambengan Pedungan menuju arah perempatan (Catus Pata) Pesanggaran. Sebelum melakukan pawai, sekitar pukul 14.00 wita, pada Minggu (19/6) massa berdatangan dari berbagai penjuru dan masuk ke Jalan Raya Diponegoro, Desa Pakraman Pedungan.
Di sini lebih dari 20.000 peserta aksi berkumpul dari berbagai wilayah berkumpul sebelum aksi dimulai termasuk warga dari Desa Pakraman ketiga desa tersebut. Sesampai di perempatan (Catus Pata) selanjutnya dilakukan orasi penolakan reklamasi dan penyampaian sikap masing-masing Desa Pakraman yang disampaikan langsung oleh Para Bendesa (Kepala Desa Pakraman) dan juga dari ForBALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa).
Bendesa Pedungan Gusti Putu Budiarta, mengawali orasi dari tiga Desa Pakraman yang menggelar deklarasi penolakan reklamasi Teluk Benoa dengan pekikan tolak reklamasi Tolak reklamasi. Menurut Budiarta selama ini Desa Pakraman Pedungan sudah resmi menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa sejak 2014. Untuk menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa ini menurutnya hanya dengan satu jalan cabut perpres dan semuanya akan selesai.
“Selama ini sudah secara resmi desa menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa sejak 2014,” ujarnya seraya menjelaskan pada waktu banjir rob beberapa waktu yang lalu desa mereka terkena dampak, apalagi nanti jika reklamasi Teluk Benoa tetap dipaksakan. “Satu jalan untuk menghentikan rencana reklamasi Teluk Benoa dengan Cabut Perpres 51 tahun 2014,” kata desa Bendesa Pedungan.
Giliran Bendesa Pakraman Pemogan berorasi, Ia mengawali orasinya dengan meneriakkan yel-yel tolak reklamasi yang disambut juga dengan teriakan tolak oleh massa aksi yang hadir. “Yang tolak reklamasi teriak tolak, tolak,” pekik Bendesa Pakraman Pemogan A.A Ketut Arya Ardana Ardana disambut massa aksi.
Menurutnya, didalam orasi yang disampaikan deklarasi penolakan reklamasi hari ini untuk menunjukkan kepada para pejabat yang duduk di atas bahwa sikap rakyat Bali menolak reklamasi Teluk Benoa. “Di hari ini kami mendeklarasikan di Catus Pata Pesanggaran bahwa kami menolak reklamasi, kepada pejabat yang duduk di atas kami rakyat Bali menolak reklamasi,” ujar Bendesa Pemogan. Ardana juga menghimbau kepada massa yang terlibat di aksi deklarasi untuk terus melakukan aksi damai seperti yang sudah dilakukan selam ini dalam menolak reklamasi Teluk Benoa.
“Hidup Desa Adat, Hidup Desa Adat,” ujar Bendesa Adat Kepaon Ida Bagus Sutedja mengawali orasi nya. Bendesa Pakraman Kepaon menyatakan bahwa Desa Pakraman Kepaon sudah menolak reklamasi sejak tahun 2014. Di dalam orasinya ia mengimbau agar perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa tidak berhenti sampai di deklarasi tiga desa pakaraman tersebut. “Mari kita semua desa adat dan sekaa teruna tolak reklamasi Teluk Benoa. Jangan sampai di sini saja, kita harus terus berjuang,” ajak Suteja.
Ia juga menjelaskan, tiga desa pakraman yang dekat dan berhadapan langsung dengan Teluk Benoa terkena dampak dari banjir rob, jika reklamasi Teluk Benoa dipaksakan maka merekalah korban pertamanya dari banjir-banjir rob.
Puluhan ribu massa yang hadir di dalam aksi deklarasi bersama dari tiga Desa Pakraman memicu semangat dari Bendesa Adat Buduk. Di dalam orasinya beliau mengaskan bahwa Bali Selatan hari ini digetarkan oleh gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa oleh anak-anak muda Bali. “Hari ini Bali Selatan bergetar karena digetarkan oleh langkah anak-anak Bali yang ingin memperjuangkan perjuangan membela tanah Bali,” ungkap Bendesa Adat Buduk, Ida Bagus Ketut Purbanegara.
Koordinator ForBali Wayan Gendo Suardana di dalam orasinya kembali menegaskan bahwa gerakan ini tidak akan mundur satu langkah pun. “Satu aktivis ForBALI dipukul, sepuluh ribu massa akan membanjiri aksi-aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa. Gerakan ini tidak akan mundur satu langkah pun,” papar Gendo.
Di dalam orasinya Gendo juga menyayangkan sikap kepolisian yang mengulur-ngulur waktu dalam pemberian surat tanda terima pemberitahuan. Seharusnnya menurut Gendo, berdasarkan undang-undang surat tanda terima pemeritahuan itu sudah diterima sejak surat pemberitahuan dikirim.
“Pemberian surat tanda terima pemberitahuan adalah kewajiban pihak kepolisian dan surat tersebut harus sudah diberikan sejak surat pemberitahuan disampaikan kepada polisi bukan malah diulur-ulur,” ujar Gendo seraya menambahkan bahwa ada dugaan upaya mengulur waktu dan bahkan sampai tidak memberikan surat tanda terima pemberitahuan adalah untuk menghambat penyampaian pendapat di muka umum.
Aksi deklarasi damai yang berlangsung selama kurang lebih dua jam tersebut diakhiri dengan pembubaran massa dan kembali menuju titik awal keberangkatan. Massa membubarkan diri dengan tertib.






