Maret 29th, 2017 // ForBALI

Ogoh-Ogoh Tolak Reklamasi Meriahkan Pengerupukan

Foto Ogoh-Ogoh Banjar Werdhi Kosala, Ungasan Badung.

Pengerupukan adalah tradisi di Bali yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Pada hari pengerupukan biasanya dilaksanakan pawai ogoh-ogoh dilingkungan sekitar.

Ogoh-ogoh merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia. Selain itu, ogoh-ogoh diarak keliling desa bertujuan agar kekuatan negatif yang ada di sekitar desa agar ikut bersama ogoh-ogoh.

Pada pawai ogoh-ogoh di hari pengerupukan menyambut Tahun Caka 1939 kali ini, sejumlah warga dari beberapa banjar membuat ogoh-ogoh dengan tema Bali Tolak Reklamasi.

Seperti ogoh-ogoh yang dibuat oleh para pemuda di Banjar Werdhi Kosala, Ungasan. Menurut I Made Budiasa, seorang pemuda dari Banjar Werdhi Kosala Ungasan mereka membuat Ogoh-Ogoh berbentuk eskavator. “Ogoh-Ogoh ini dimaknai sebagai sifat rakus manusia yang ingin mengurug Teluk Benoa demi keuntungan segelintir orang tanpa memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Bersamaan dengan malam pengrupukan ini, sifat rakus dan upaya-upaya untuk memaksakan reklamasi Teluk Benoa tersebut tersebut harus dilebur,” kata Budiasa.

Di tempat terpisah, Toya Wijaya dari Banjar Kajeng, Kepaon menjelaskan ogoh-ogoh yang dibuat para pemuda di banjarnya berbentuk Raksasa Prapat yang menguasai hutan bakau di sekitar Teluk Benoa. Prapat sendiri adalah merupakan nama salah satu jenis mangrove yang ada di kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai. Ogoh-ogoh tersebut juga dilengkapi spanduk penolakan reklamasi Teluk Benoa.

“Raksasa Prapat yang menguasai hutan bakau di sekitar Teluk Benoa yang tidak segan memangsa manusia yang merusak hutan bakau dan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu di Banjar Pande Pedungan, sebuah ogoh-ogoh bertemakan tolak reklamasi Teluk Benoa berupa gabungan logo Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dengan Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa juga turut memeriahkan pawai ogoh-ogoh.

Menuruk Kadek Swandita, pembuatan ogoh-ogoh dalam bentuk gabungan logo ForBALI dan pasubayan bertujuan untuk terus menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. “Tetap konsisten dan terus berjuang dalam keadaan apapun,” ujar Kadek.

Berdasarkan pantauan, selain menyemarakkan pawai ogoh-ogoh di Desa Ungasan dan Kepaon, tema penolakan reklamasi Teluk Benoa yang diusung baik dengan bentuk ogoh-ogohnya atau dengan pemasangan ataupun pengibaran atribut Bali Tolak Reklamasi juga dilakukan di berbagai wilayah di Bali diantaranya oleh ST. Yowana Dharma Bhakti, Banjar Rangkan Sari, Kepaon, Banjar Busung Yeh, Denpasar, Sumerta, Banjar Pande, Pedungan, Batu Jimbar, Sanur, Banjar Abian Base, Kuta, Legian, STT. Eka Bhuana Tunggal Budhi Desa Adat Seminyak, STT Bina Karya, Banjar Tengah Blahbatuh, Singapadu, Banjar Pemalukan, Payangan, Penasan Klungkung.

Foto Ogoh-Ogoh Banjar Werdhi Kosala, Ungasan Badung.

Pengerupukan adalah tradisi di Bali yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Pada hari pengerupukan biasanya dilaksanakan pawai ogoh-ogoh dilingkungan sekitar.

Ogoh-ogoh merupakan cerminan sifat-sifat negatif pada diri manusia. Selain itu, ogoh-ogoh diarak keliling desa bertujuan agar kekuatan negatif yang ada di sekitar desa agar ikut bersama ogoh-ogoh.

Pada pawai ogoh-ogoh di hari pengerupukan menyambut Tahun Caka 1939 kali ini, sejumlah warga dari beberapa banjar membuat ogoh-ogoh dengan tema Bali Tolak Reklamasi.

Seperti ogoh-ogoh yang dibuat oleh para pemuda di Banjar Werdhi Kosala, Ungasan. Menurut I Made Budiasa, seorang pemuda dari Banjar Werdhi Kosala Ungasan mereka membuat Ogoh-Ogoh berbentuk eskavator. “Ogoh-Ogoh ini dimaknai sebagai sifat rakus manusia yang ingin mengurug Teluk Benoa demi keuntungan segelintir orang tanpa memperhatikan lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Bersamaan dengan malam pengrupukan ini, sifat rakus dan upaya-upaya untuk memaksakan reklamasi Teluk Benoa tersebut tersebut harus dilebur,” kata Budiasa.

Di tempat terpisah, Toya Wijaya dari Banjar Kajeng, Kepaon menjelaskan ogoh-ogoh yang dibuat para pemuda di banjarnya berbentuk Raksasa Prapat yang menguasai hutan bakau di sekitar Teluk Benoa. Prapat sendiri adalah merupakan nama salah satu jenis mangrove yang ada di kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) Ngurah Rai. Ogoh-ogoh tersebut juga dilengkapi spanduk penolakan reklamasi Teluk Benoa.

“Raksasa Prapat yang menguasai hutan bakau di sekitar Teluk Benoa yang tidak segan memangsa manusia yang merusak hutan bakau dan sekitarnya,” ujarnya.

Sementara itu di Banjar Pande Pedungan, sebuah ogoh-ogoh bertemakan tolak reklamasi Teluk Benoa berupa gabungan logo Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dengan Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa juga turut memeriahkan pawai ogoh-ogoh.

Menuruk Kadek Swandita, pembuatan ogoh-ogoh dalam bentuk gabungan logo ForBALI dan pasubayan bertujuan untuk terus menyuarakan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. “Tetap konsisten dan terus berjuang dalam keadaan apapun,” ujar Kadek.

Berdasarkan pantauan, selain menyemarakkan pawai ogoh-ogoh di Desa Ungasan dan Kepaon, tema penolakan reklamasi Teluk Benoa yang diusung baik dengan bentuk ogoh-ogohnya atau dengan pemasangan ataupun pengibaran atribut Bali Tolak Reklamasi juga dilakukan di berbagai wilayah di Bali diantaranya oleh ST. Yowana Dharma Bhakti, Banjar Rangkan Sari, Kepaon, Banjar Busung Yeh, Denpasar, Sumerta, Banjar Pande, Pedungan, Batu Jimbar, Sanur, Banjar Abian Base, Kuta, Legian, STT. Eka Bhuana Tunggal Budhi Desa Adat Seminyak, STT Bina Karya, Banjar Tengah Blahbatuh, Singapadu, Banjar Pemalukan, Payangan, Penasan Klungkung.