Juli 2nd, 2017 // ForBALI

Layang-Layang “Bali Tolak Reklamasi” Hiasi Langit Denpasar

Layangan Bali Tolak Reklamasi Menghiasi Langit Denpasar 02 Juli 2017 (1)

Maraknya pelarangan terhadap pemakaian atribut Bali Tolak Reklamasi belakangan ini justru memantik kreativitas masyarakat bali dalam menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Hari ini komunitas layangan dari tiga desa adat yang selama ini telah menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa menerbangkan layangan bertemakan Bali Tolak Reklamasi bersamaan dengan diselenggarakannya Pitik Kite Festival 7 pada Minggu, 2 Juli 2017 berlokasi di Carik Abasan, Banjar Pitik, Desa Pedungan, Denpasar.

Bermain layang-layang atau di Bali dikenal dengan “melayangan” merupakan tradisi yang telah berlangsung turun temurun dan sangat digemari masyarakat Bali.

Pada Pitik Kite Festival ke-7, setidaknya terdapat 3 buah layangan ikut menghiasi langit Denpasar yang menarik perhatian penonton, selain ukurannya cukup besar, layang-layang tersebut dihiasi dengan gambar kepal tangan kiri dan tulisan Bali Tolak Reklamasi di badan layang-layangnnya maupun di bagian ekornya yang meliuk-liuk. Bagi masyarakat Bali, gambar kepal tangan kiri merupakan simbol perjuangan bagi masyarakat Bali untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Layang-layang Bali Tolak Reklaamsi tersebut adalah milik komunitas layangan dari 3 Desa yaitu Kepaon, Pemogan dan Pedungan.

Saat ditanya mengapa mereka menghiasi layangannya dengan simbul-simbul perjuangan menolak reklamasi, Wayan Widarma dari komunitas layangan Kepaon mengatakan bahwa saat ini banyak terjadi pelarangan penggunaan atribut-atribut tolak reklamasi Teluk Benoa, baik pada saat menonton konser musik ataupun menghadiri suatu event.

Pelarangan tersebut bagi Widarma adalah tindakan sewenang-wenang untuk menciptakan ketakutan di masyarakat. “Dalam kesempatan apapun kami akan gunakan untuk menyampaikan pesan bahwa rakyat Bali tetap konsisten menolak reklamasi Teluk Benoa, kami tidak pernah takut untuk mengibarkan maupun menggunakan atribut tolak reklamasi Teluk Benoa,” ucap Widarma.

Di tempat yang sama Kadek Suwandita dari komunitas layangan Pedungan menyampaikan bahwa layangan-layangan bertema tolak reklamasi sangat banyak mengudara akhir-akhir ini, baik untuk festival maupun dalam tradisi melayangan di setiap desa. “Melalui tradisi melayangan inilah kami menggelorakan semangat warga untuk konsisten menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Layangan Bali Tolak Reklamasi Menghiasi Langit Denpasar 02 Juli 2017 (1)

Maraknya pelarangan terhadap pemakaian atribut Bali Tolak Reklamasi belakangan ini justru memantik kreativitas masyarakat bali dalam menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Hari ini komunitas layangan dari tiga desa adat yang selama ini telah menyatakan penolakan reklamasi Teluk Benoa menerbangkan layangan bertemakan Bali Tolak Reklamasi bersamaan dengan diselenggarakannya Pitik Kite Festival 7 pada Minggu, 2 Juli 2017 berlokasi di Carik Abasan, Banjar Pitik, Desa Pedungan, Denpasar.

Bermain layang-layang atau di Bali dikenal dengan “melayangan” merupakan tradisi yang telah berlangsung turun temurun dan sangat digemari masyarakat Bali.

Pada Pitik Kite Festival ke-7, setidaknya terdapat 3 buah layangan ikut menghiasi langit Denpasar yang menarik perhatian penonton, selain ukurannya cukup besar, layang-layang tersebut dihiasi dengan gambar kepal tangan kiri dan tulisan Bali Tolak Reklamasi di badan layang-layangnnya maupun di bagian ekornya yang meliuk-liuk. Bagi masyarakat Bali, gambar kepal tangan kiri merupakan simbol perjuangan bagi masyarakat Bali untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Layang-layang Bali Tolak Reklaamsi tersebut adalah milik komunitas layangan dari 3 Desa yaitu Kepaon, Pemogan dan Pedungan.

Saat ditanya mengapa mereka menghiasi layangannya dengan simbul-simbul perjuangan menolak reklamasi, Wayan Widarma dari komunitas layangan Kepaon mengatakan bahwa saat ini banyak terjadi pelarangan penggunaan atribut-atribut tolak reklamasi Teluk Benoa, baik pada saat menonton konser musik ataupun menghadiri suatu event.

Pelarangan tersebut bagi Widarma adalah tindakan sewenang-wenang untuk menciptakan ketakutan di masyarakat. “Dalam kesempatan apapun kami akan gunakan untuk menyampaikan pesan bahwa rakyat Bali tetap konsisten menolak reklamasi Teluk Benoa, kami tidak pernah takut untuk mengibarkan maupun menggunakan atribut tolak reklamasi Teluk Benoa,” ucap Widarma.

Di tempat yang sama Kadek Suwandita dari komunitas layangan Pedungan menyampaikan bahwa layangan-layangan bertema tolak reklamasi sangat banyak mengudara akhir-akhir ini, baik untuk festival maupun dalam tradisi melayangan di setiap desa. “Melalui tradisi melayangan inilah kami menggelorakan semangat warga untuk konsisten menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.