Agustus 29th, 2017 // ForBALI

Gelar Budaya Kesiman Gelorakan Penolakan Reklamasi

Foto Gelar Budaya Kesiman 27 Agustus 2017 (7)

Jelang aksi parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa yang akan diselenggarakan 30 Agustus 2017 mendatang, Desa Pakraman Kesiman mengadakan Gelar Budaya Kesiman di Wantilan Pura Pengerebongan Desa Pakraman Kesiman, Denpasar, Bali. Gelar Budaya Kesiman oleh Forum Pemuda Kesiman berlangsung mulai pukul 14.00 wita hingga tengah malam.

Gelar Budaya Kesiman terbagi menjadi tiga sesi kegiatan. Acara dibuka dengan diskusi lingkungan hidup bersama Robi dari kelompok band Navicula dan Agung Putradhyana, praktisi energi alternatif kemudian juga dimeriahkan dengan pembuatan mural secara langsung oleh seniman dan komunitas, diantaranya seniman Slinat, komunitas Denpasar Kolektif, komunitas Pena Hitam, dan beberapa seniman lainnya.

Pada sesi kedua di meriahkan dengan pagelaran seni tari oleh Sekaa Teruna Teruni (STT) Banjar Kertajiwa dan STT Banjar Abiantubuh, Kesiman. Sesi ketiganya adalah panggung musik yang dimeriahkan oleh penampilan bergai band diantarany Palang Kosong, Overdice, Kuranxajar, Blackened, Lorong, The Eastbay, Natter Jack, Rollfast, Rastafara Cetamol dan Ripper Clown.

Selain ketiga sesi acara tersebut, sepanjang berlangsungnya acara Gelar Budaya Kesiman juga diramaikan oleh pasar rakyat dan stand kuliner ini juga ada pameran buku dan cek kesehatan gratis.

Ketua Penyelenggara Gelar Budaya Kesiman, Made Adi Apriyanta menyampaikan bahwa melalui acara ini mereka ingin menunjukkan bahwa seni bukan saja tentang keindahan namun juga sebagai media untuk menyampaikan pesan terhadap isu-isu lingkungan dan sosial yg terjadi di masyarakat, termasuk juga untuk melawan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat.

“Rencana reklamasi Teluk Benoa adalah salah satu kebijakan yang tidak pro rakyat dan tidak pro lingkungan. Melalui Gelar Budaya Kesiman ini kita masyarakat Kesiman mendesak agar rencana reklamasi Teluk Benoa dihentikan dan Perpres No. 51 Tahun 2014 yang sumber masalahnya segera dibatalkan oleh Presiden Jokowi,” desaknya.

Foto Gelar Budaya Kesiman 27 Agustus 2017 (4)Ketua STT Jaya Santhi, Banjar Abiantubuh, Gede Wahyu Wiguna yang nampak membuka stand kuliner ketika ditanyakan keikutsertaan STT-nya dalam acara ini menjelaskan bahwa para pemuda di banjarnya dan juga tentunya para pemuda di Kesiman sangat antusias mengikuti acara ini. “Acara ini dapat meningkatkan kepedulian pemuda terhadap lingkungan termasuk peka dengan persoalan yang kita hadapi saat ini, salah satunya adalah adanya rencana reklamasi Teluk Benoa. Desa Adat Kesiman secara resmi telah menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa dan kita sebagai generasi muda Kesiman akan terus memperjuangkan sikap Desa Adat kami,” ujarnya.

Ajakan untuk terus menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa juga disampaikan oleh Koden, Vocalist dari band Natterjack yang tampil mengisi pertunjukkan musik menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka mengisi acara untuk membangkitkan kesadaran dan memberikan semangat kepada para pemuda agar lebih peduli terhadap permasalahan lingkungan dan juga semakin menggelorakan semangat penolakan reklamasi Teluk Benoa. “Perjuangan ini panjang dan kami mengajak para pemuda untuk tidak lelah menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa,” jelas Koden yang didampingi personel Natter Jack yang lainnya.

Sementara itu, I Wayan Gendo Suardana, Koordinator Umum ForBALI dalam orasinya disela-sela acara musik menyampaikan bahwa Kesiman adalah salah satu daerah penyangga Teluk Benoa dan Kesiman mempunyai sejarah dalam perjuangan Puputan Badung, di mana rakyat kesiman melawan kolonialisme untuk mempertahankan hak atas tanah dan lautan, juga Kesiman dibeberapa tahun yang lalu juga mencatat sejarah dalam menentang reklamasi di Pantai Padang Galak.

“Sejarah akan terulang, kita harus yakin menang,” ungkapnya berapi-api.

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus bergerak dan bertahan untuk terus mendesak pembatalan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014. Di awal dan di akhir orasi ia mengajak penonton untuk menyanyikan lagu wajib nasional “Bagimu Negeri” sebagai simbol pengabdian terhadap tanah kelahiran dan negeri yang dicintai dan ditutup dengan teriakan “tolak reklamasi Teluk Benoa!” yang secara spontan disambut oleh penonton dengan kata “tolak!” dengan kepalan tangan kiri di udara.

Foto Gelar Budaya Kesiman 27 Agustus 2017 (7)

Jelang aksi parade budaya tolak reklamasi Teluk Benoa yang akan diselenggarakan 30 Agustus 2017 mendatang, Desa Pakraman Kesiman mengadakan Gelar Budaya Kesiman di Wantilan Pura Pengerebongan Desa Pakraman Kesiman, Denpasar, Bali. Gelar Budaya Kesiman oleh Forum Pemuda Kesiman berlangsung mulai pukul 14.00 wita hingga tengah malam.

Gelar Budaya Kesiman terbagi menjadi tiga sesi kegiatan. Acara dibuka dengan diskusi lingkungan hidup bersama Robi dari kelompok band Navicula dan Agung Putradhyana, praktisi energi alternatif kemudian juga dimeriahkan dengan pembuatan mural secara langsung oleh seniman dan komunitas, diantaranya seniman Slinat, komunitas Denpasar Kolektif, komunitas Pena Hitam, dan beberapa seniman lainnya.

Pada sesi kedua di meriahkan dengan pagelaran seni tari oleh Sekaa Teruna Teruni (STT) Banjar Kertajiwa dan STT Banjar Abiantubuh, Kesiman. Sesi ketiganya adalah panggung musik yang dimeriahkan oleh penampilan bergai band diantarany Palang Kosong, Overdice, Kuranxajar, Blackened, Lorong, The Eastbay, Natter Jack, Rollfast, Rastafara Cetamol dan Ripper Clown.

Selain ketiga sesi acara tersebut, sepanjang berlangsungnya acara Gelar Budaya Kesiman juga diramaikan oleh pasar rakyat dan stand kuliner ini juga ada pameran buku dan cek kesehatan gratis.

Ketua Penyelenggara Gelar Budaya Kesiman, Made Adi Apriyanta menyampaikan bahwa melalui acara ini mereka ingin menunjukkan bahwa seni bukan saja tentang keindahan namun juga sebagai media untuk menyampaikan pesan terhadap isu-isu lingkungan dan sosial yg terjadi di masyarakat, termasuk juga untuk melawan kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat.

“Rencana reklamasi Teluk Benoa adalah salah satu kebijakan yang tidak pro rakyat dan tidak pro lingkungan. Melalui Gelar Budaya Kesiman ini kita masyarakat Kesiman mendesak agar rencana reklamasi Teluk Benoa dihentikan dan Perpres No. 51 Tahun 2014 yang sumber masalahnya segera dibatalkan oleh Presiden Jokowi,” desaknya.

Foto Gelar Budaya Kesiman 27 Agustus 2017 (4)Ketua STT Jaya Santhi, Banjar Abiantubuh, Gede Wahyu Wiguna yang nampak membuka stand kuliner ketika ditanyakan keikutsertaan STT-nya dalam acara ini menjelaskan bahwa para pemuda di banjarnya dan juga tentunya para pemuda di Kesiman sangat antusias mengikuti acara ini. “Acara ini dapat meningkatkan kepedulian pemuda terhadap lingkungan termasuk peka dengan persoalan yang kita hadapi saat ini, salah satunya adalah adanya rencana reklamasi Teluk Benoa. Desa Adat Kesiman secara resmi telah menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa dan kita sebagai generasi muda Kesiman akan terus memperjuangkan sikap Desa Adat kami,” ujarnya.

Ajakan untuk terus menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa juga disampaikan oleh Koden, Vocalist dari band Natterjack yang tampil mengisi pertunjukkan musik menjelaskan bahwa keikutsertaan mereka mengisi acara untuk membangkitkan kesadaran dan memberikan semangat kepada para pemuda agar lebih peduli terhadap permasalahan lingkungan dan juga semakin menggelorakan semangat penolakan reklamasi Teluk Benoa. “Perjuangan ini panjang dan kami mengajak para pemuda untuk tidak lelah menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa,” jelas Koden yang didampingi personel Natter Jack yang lainnya.

Sementara itu, I Wayan Gendo Suardana, Koordinator Umum ForBALI dalam orasinya disela-sela acara musik menyampaikan bahwa Kesiman adalah salah satu daerah penyangga Teluk Benoa dan Kesiman mempunyai sejarah dalam perjuangan Puputan Badung, di mana rakyat kesiman melawan kolonialisme untuk mempertahankan hak atas tanah dan lautan, juga Kesiman dibeberapa tahun yang lalu juga mencatat sejarah dalam menentang reklamasi di Pantai Padang Galak.

“Sejarah akan terulang, kita harus yakin menang,” ungkapnya berapi-api.

Ia juga mengajak masyarakat untuk terus bergerak dan bertahan untuk terus mendesak pembatalan Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014. Di awal dan di akhir orasi ia mengajak penonton untuk menyanyikan lagu wajib nasional “Bagimu Negeri” sebagai simbol pengabdian terhadap tanah kelahiran dan negeri yang dicintai dan ditutup dengan teriakan “tolak reklamasi Teluk Benoa!” yang secara spontan disambut oleh penonton dengan kata “tolak!” dengan kepalan tangan kiri di udara.