Januari 28th, 2018 // ForBALI

Serentak Dirikan Baliho, Pemuda Sumerta dan Kesiman Bakar Semangat untuk Kemenangan Teluk Benoa

Foto Pemasangan Baliho Tolak Reklamasi Teluk Benoa oleh Bamper Sumerta di Desa Adat Sumerta 27 dan 28 Januari 2018 (1)

Pendirian baliho-baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa semakin marak memasuki tahun 2018 ini, kali ini di pekan terakhir bulan Januari para pemuda adat yang tergabung dalam Barisan Muda Perjuangan (BAMPER) Sumerta serta Forum Pemuda Kesiman (FPK) serentak mendirikan baliho diwilayah desa mereka masing-masing.

BAMPER Sumerta mendirikan 4 buah baliho, 1 buah baliho berukuran 4×4 m diperempatan Jl. WR Supratman-Jl.Kenyeri, 3 buah baliho berukuran 3×3 m masing-masing diperempatan Jl. WR Supratman-Jl Subita, dipertigaan Jl. WR Supratman-Jl Katrangan dan dipertigaan Jl Hayam Wuruk-Jl Kecubung.

Aksi pemasangan baliho ini dimulai sekitar pukul 4 sore dengan merakitnya terlebih dahulu, kemudian pukul 8 malam diiringi rintik gerimis secara gotong royong mereka mendirikannya di 4 titik lokasi. Pada baliho-baliho yang terpasang tersebut terlihat jelas kalimat dalam bahasa Bali “Sing Batal Sing Suud” yang mencerminkan bahwa penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa tidak akan berhenti sampai rencana proyek tersebut dibatalkan.

Wayan Murdika yang akrab dipanggil Pak Yande, Ketua BAMPER Sumerta menyampaikan pendirian baliho-baliho baru tersebut sebagai pesan bahwa warga adat Sumerta tak pernah lelah dalam perjuangan membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa walaupun di tahun 2018 ini rakyat Bali disibukan dengan perhelatan lima tahunan yaitu pemilihan gubernur Bali 2018 namun semangat gerakan Bali Tolak Reklamasi tidak boleh kendor dan lengah.

“Tahun 2018 juga tahun penentuan proyek reklamasi Teluk Benoa, berjalan atau tidak, karena tanggal 25 agustus 2018 adalah batas berlakunya ijin lokasi yang dipegang pereklamasi untuk itu kami akan terus melakukan aksi-aksi penolakan reklamasi agar reklamasi Teluk Benoa dibatalakan,” jelas Pak Yande.

Sementara itu pada Minggu, 28 Januari 2018 sekitar pukul 4 sore, giliran para pemuda yang tergabung dalam Forum Pemuda Kesiman (FPK) mendirikan baliho baru berukuran 3×4 m di Jl. Bypass Ngurah Rai tepatnya diperbatasan Desa Pekraman Kesiman.

I Wayan Rudita, sebagai penasehat Forum Pemuda Kesiman yang ditemui saat pemasangan baliho menjelaskan, pemasangan baliho kali ini didirikan diruas jalan yang sering dilintasi pejabat-pejabat negara yang datang ke Bali agar mereka melihat bahwa penolakan reklamasi Teluk Benoa tetap dan terus ada sampai rencana reklamasi tersebut dibatalkan.

“Amdal proyek reklamasi sampai saat ini belum lulus dikarenakan adanya penolakan oleh masyarakat Bali, kami akan terus menggelorakan perjuangan untuk memenangkan Teluk Benoa. Reklamasi Teluk Benoa harus batal, Perpres Nomor 51 tahun 2014 harus dibatalkan dan Teluk Benoa harus menang,” ujarnya bersemangat.

Foto Pemasangan Baliho Tolak Reklamasi Teluk Benoa oleh Bamper Sumerta di Desa Adat Sumerta 27 dan 28 Januari 2018 (1)

Pendirian baliho-baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa semakin marak memasuki tahun 2018 ini, kali ini di pekan terakhir bulan Januari para pemuda adat yang tergabung dalam Barisan Muda Perjuangan (BAMPER) Sumerta serta Forum Pemuda Kesiman (FPK) serentak mendirikan baliho diwilayah desa mereka masing-masing.

BAMPER Sumerta mendirikan 4 buah baliho, 1 buah baliho berukuran 4×4 m diperempatan Jl. WR Supratman-Jl.Kenyeri, 3 buah baliho berukuran 3×3 m masing-masing diperempatan Jl. WR Supratman-Jl Subita, dipertigaan Jl. WR Supratman-Jl Katrangan dan dipertigaan Jl Hayam Wuruk-Jl Kecubung.

Aksi pemasangan baliho ini dimulai sekitar pukul 4 sore dengan merakitnya terlebih dahulu, kemudian pukul 8 malam diiringi rintik gerimis secara gotong royong mereka mendirikannya di 4 titik lokasi. Pada baliho-baliho yang terpasang tersebut terlihat jelas kalimat dalam bahasa Bali “Sing Batal Sing Suud” yang mencerminkan bahwa penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa tidak akan berhenti sampai rencana proyek tersebut dibatalkan.

Wayan Murdika yang akrab dipanggil Pak Yande, Ketua BAMPER Sumerta menyampaikan pendirian baliho-baliho baru tersebut sebagai pesan bahwa warga adat Sumerta tak pernah lelah dalam perjuangan membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa walaupun di tahun 2018 ini rakyat Bali disibukan dengan perhelatan lima tahunan yaitu pemilihan gubernur Bali 2018 namun semangat gerakan Bali Tolak Reklamasi tidak boleh kendor dan lengah.

“Tahun 2018 juga tahun penentuan proyek reklamasi Teluk Benoa, berjalan atau tidak, karena tanggal 25 agustus 2018 adalah batas berlakunya ijin lokasi yang dipegang pereklamasi untuk itu kami akan terus melakukan aksi-aksi penolakan reklamasi agar reklamasi Teluk Benoa dibatalakan,” jelas Pak Yande.

Sementara itu pada Minggu, 28 Januari 2018 sekitar pukul 4 sore, giliran para pemuda yang tergabung dalam Forum Pemuda Kesiman (FPK) mendirikan baliho baru berukuran 3×4 m di Jl. Bypass Ngurah Rai tepatnya diperbatasan Desa Pekraman Kesiman.

I Wayan Rudita, sebagai penasehat Forum Pemuda Kesiman yang ditemui saat pemasangan baliho menjelaskan, pemasangan baliho kali ini didirikan diruas jalan yang sering dilintasi pejabat-pejabat negara yang datang ke Bali agar mereka melihat bahwa penolakan reklamasi Teluk Benoa tetap dan terus ada sampai rencana reklamasi tersebut dibatalkan.

“Amdal proyek reklamasi sampai saat ini belum lulus dikarenakan adanya penolakan oleh masyarakat Bali, kami akan terus menggelorakan perjuangan untuk memenangkan Teluk Benoa. Reklamasi Teluk Benoa harus batal, Perpres Nomor 51 tahun 2014 harus dibatalkan dan Teluk Benoa harus menang,” ujarnya bersemangat.