
“Kalau sukses dilaksanakan, Proyek Reklamasi Teluk Benoa ini akan menjadi monumen kekalahan kesekian kali untuk masyarakat Bali dalam berhadapan dengan para pemodal besar pariwisata. Sebagian besar para pemodal tersebut memiliki kaitan dengan elit politik di Jakarta. Pada jaman Soeharto, hampir semua pemilik hotel atau penguasa tanah di kawasan wisata strategis adalah para kroninya.” – Made Supriatma, Cornell University
http://indoprogress.com/2016/08/generasi-bali-tolak-reklamasi/
Kira-kira apa yang sebenarnya melatari pelaporan pospera dan Adian Napitupulu terhadap Aktivis ForBALI Wayan Gendo Surdana ke Mabes Polri dan 5 Polda lainnya? Menurut pengakuan ormas pospera, laporan mereka tidak ada kaitannya dengan isu reklamasi Teluk Benoa. Laporan ke Mabes Polri semata-mata bermula dari cuitan Gendo di twitter yang tidak sesuai adat sopan-santun ketimuran –Saya kira ke depan ada baiknya pihak pospera menegur pemilik twitter atau FB supaya menempelkan peraturan syarat ketimuran dan sopan-santun versi pospera harus dicantumkan di twitter atau FB, ditambahi bahwa himbauan ini datang dari ormas paling ditakuti di seluruh dunia! Jika tidak ditanggapi atau diklarifikasi, akan dilaporkan ke polisi dunia akhirat. —
Untuk mendalami motivasi Adian Napitupulu dan pospera ngotot melakukan Kriminalisasi Aktivis ForBALI mungkin ada baiknya didalami sedikit bagaimana sebenarnya sepak-terjang anggota Komisi VII DPR pusat dari PDIP ini? Ormas sejenis apakah pospera di Bali? Kenapa muncul cuitan dari Gendo yang dianggap Adian menghinanya? Apa sepak terjang keterlibatan Adian dan posperanya dalam isu Reklamasi Teluk Benoa yang dimiliki TWBI? Apakah betul tidak ada hubungan pospera dengan TWBI dan pemiliknya? Pertanyaan-pertanyaan tadi perlu diungkap dengan gamblang bukan dengan gambling ala TW. Apalagi saat ini pospera sedang giat-giatnya memprovokasi di medsos sebagai upaya cuci tangan untuk menyatakan bahwa kasus ini tak punya kaitan dengan isu reklamasi Teluk Benoa. Sebagai permulaan, saya akan membagikan link di bawah ini, yang memuat fakta yang jelas untuk menjawab bantahan pospera bahwa mereka tidak terkait dengan isu reklamasi Teluk Benoa. http://bali.tribunnews.com/2016/02/02/adian-napitupulu-izin-reklamasi-teluk-benoa-sudah-beres-semua
Pertanyaan besarnya kemudian adalah: Mengapa sejak dari bulan Februari 2016, Adian dan pospera-nya sudah berani dengan ANGKUHnya mengKLAIM bahwa urusan izin reklamasi Teluk Benoa sudah beres semua? Apakah tindakan dan statemen Adian yang mengatakan Izin Reklamasi semua sudah beres itu adalah sikap yang sopan? Dari cara bicaranya mungkin ia sampaikan dengan cara sopan, tapi makna yang disampaikan sama sekali melecehkan, tidak tahu adat-istiadat, tak punya etika kesopanan. Ini model tipikal cara-cara poliTikus busuk, 11-12 seperti model SANUSI yang ditangkap KPK itu (Santun Namun Korupsi). Bagaimana mungkin Adian Napitupulu seorang elit PoliTIKUS yang terbiasa enak-enak duduk (bahkan tidur-tiduran) di kursi gedung DPR Jakarta yang mewah-megah itu tiba-tiba datang ke Bali, lantas nyolot main KLAIM: “Semua Izin Sudah Beres! Tinggal atur-atur saja.” Saya kira cara-cara Klaim sangat Arogan Adian ini adalah bentuk ketidak-sopanan, pelecehan dan ejekan yang sangat provokatif terhadap aspirasi Rakyat Bali.
Klaim angkuh Adian yang ujug-ujug datang ke Bali lalu seenaknya ngomong Izin Reklamasi sudah beres tentu saja membuat Wayan Gendo Suardana meradang. Sebagai pemegang mandat teknis dari Pasubayan Desa Adat dan pemimpin ForBALI, saya kira jangankan Gendo, semua Rakyat Bali Tolak Reklamasi pasti juga jengkel, sebal, marah kalau diperlakukan dengan tidak sopan seperti itu. Tapi walaupun menahan geram, Gendo tidak lantas mengambil keputusan sendiri, misalnya dengan melaporkan ke polisi atas penghinaan terhadap Rakyat Desa Adat Bali yang dilakukan Adian itu. Gendo dan ForBALI yang dipimpinnya tidak secengeng Adian dan ormas posperanya.
Cuitan di Twiter atau wallnya Wayan Gendo di FB dia jadikan saluran untuk mengeluarkan uneg-unegnya –dan itupun karena sebelumnya akun-akun robot pospera memprovokasi dengan cuitan-cuitan yang mengejek ForBALI dan Gendo. Cuitan Gendo di Twiter menjadi semacam “Tembok Ratapan” atas kekesalannya atas ulah Fait Accompli dari si Adian Raja Klaim itu (itupun cuitan Gendo tidak ada no mention atau menujukan ke nama Adian). Sebenarnya bukan cuma Gendo yang membuat cuitan atau status yang ditujukaan ke boss pospera atas keangkuhannya itu. Banyak sekali cuitan, re-tweet dan status FB yang bahkan menantang langsung kesombongan klaim dari elit poliTIKUS PDIP ini. Bahkan saya sendiri pernah sebut nama dan tunjuk hidung langsung ke Adian dan pospera. Tapi kenapa saya atau kawan-kawan di ForBALI lainnya tidak dilaporkan ke polisi? Saya tak perlu jelaskan. Anda pasti semua sudah tahu jawabannya.
Mengapa Adian begitu nekat dengan aksi Klaimnya? Ini saya kira berkaitan dengan bagaimana ia mencoba mengerek harga politiknya di mata investor. Saat Menteri-Menteri yang berwenang mengurusi izin reklamasi saja belum berani bicara final, belum ada kata beres soal izin reklamasi, mendadak sontak Adian dengan sombongnya mengklaim semua izin sudah beres. Sedangkan Menteri KKP Susi Pudjiastuti baru memperpanjang izin lokasi di Bulan Juli 2016, tapi mengapa Adian dengan ANGKUHnya melakukan Fait Accompli terhadap izin reklamasi sudah sejak Bulan Februari 2016? Jelas ini adalah cara-cara tipikal Adian sebagai poliTIKUS busuk yang mau menekan dan mengondisikan kalangan elit-elit pengambil keputusan politik di Jakarta supaya mengikuti syahwat ormas posperanya yang dekat dengan TWBI. Cara-cara Fait Accompli model Adian ini tidak terlepas dari cara-hidupnya sebagai seorang mantan aktivis yang bermetamorfosa menjadi –bukan jadi kupu-kupu tapi– poliTikus.
Saya ingin sedikit menyinggunga model permainan kotor Adian dalam dunia pergerakan sebelum dia masuk ke dunia Dhewan Perwakilan Rakyat, dengan mengutip informasi investigative yang pernah dilakukan Made Supriatma dari Cornell University tentang sosok poliTIKUS PDIP ini.
“…Orang ini (Adian Napitupulu) dulunya adalah aktivis paling galak sedunia. Selain juga paling biadab sekaligus paling tidak beradab. Dia terkenal karena kekasarannya. Dia tidak tanggung-tanggung memaki siapa saja dan apa saja yang dilawannya. Dalam politik, dia bisa menjadi ‘anjing penyerang’ (attack dog) yang sangat berguna. Itu pula yang dilakukannya ketika berhadapan dengan para pendukung Prabowo ketika partainya mengusung Jokowi sebagai presiden.”
Mungkin saja Adian nekat main klaim karena mengira pospera di Bali itu sudah sekuat atau sebesar ormas pemuda lain di Bali seperti Laskar Bali, Baladika, Pemuda Bali Bersatu, dan lain-lain. Padahal anak buahnya tidak pernah memperjuangkan aspirasi rakyat seperti klaim nama organisasinya, jangankan memperjuangkan suara rakyat Bali memperjuangkan dirinya sendiri pun mereka sudah kembang-kempis. Bahkan ada rumor yang beredar, sekretariat pospera di Bali itu pun dimodali oleh investor reklamasi. Dugaan Itu mungkin saja benar, apalagi menurut data dari sumber koran Pos Bali, Ketua Pospera Bali yang bernama Kadek Agus Ekanata juga menjabat sebagai Direktur SDM di PT. TWBI. Masak pospera Bali tidak punya kegiatan? Ada sih kegiatan mereka –kalau dulu semasa masih aktivis mahasiswa suka banget turun ke jalan membela rakyat– sekarang poliTikus pospera Bali itu rajin mendekat ke pejabat-pejabat, beranjang-sana atau bersilaturahmi dengan Bupati atau Wakil Bupati. Sopan santun sekali berbahasanya dan rapi-rapi penampilannya. Setidaknya mereka mulai melatih diri dengan memirip-miripkan dirinya dengan pejabat, karena memang cita-citanya jadi pejabat, penguasa atau poliTikus.
Adian yang gemar mencaci-maki lawan politiknya kini kena batunya. Anggota pospera di Bali sudah mendapat status “di-persona-non-grata-kan” alias tidak diapreasiasi kehadirannya oleh Rakyat Desa Adat Bali. Satu-satunya cara agar ormas politik pospera bisa selamat dari murka Rakyat Bali adalah dengan menetek ke petinggi PDIP, itupun saya ragu bisa berhasil. Jangan mengharap mereka bisa menetek ke cantolan politik PDIP Bali seperti Wayan Koster, karena poliTikus satu ini juga punya track record buruk dan pernah diperiksa KPK, dan tak punya pengaruh luas di mata Rakyat Bali, apalagi di mata Rakyat Bali Tolak Reklamasi. Mungkin Adian dan posperanya tidak cuma harus mengadu dan melapor ke Mabes Polri, mereka bisa juga me-LAPOR-kan atau minta keselamatan kepada teman investornya di TWBI. Habis mau minta tolong ke siapa lagi? Mau minta tolong ke partai lain? Gerindra? Ya jelas ndak enak! Bukankah si Adian “Peternak Kerbau” ini dulunya pernah menyerang sengit si “Pengurus Kuda?”
Naluri saya dan kawan-kawan ForBALI ikut melawan Kriminalisasi yang menindas Gendo dan Aktivis Rakyat Bali Tolak Reklamasi ini karena kami sudah mengendus adanya Bau Naga yang busuk keluar dari mulut si Adian dan posperanya. Maksudnya, Naga-Naganya pasal karet dari pospera ini bisa membuka pintu bagi munculnya rezim fasisme Orba. Apalagi Adian dan posperanya di Bali sudah jadi perpanjangan lidah dari 9 Naga.
Mereka lupa, generasi sekarang tidak akan pernah tunduk apalagi mau menghirup udara busuk Orde Bauk yang coba dihidupkan lagi oleh Adian dan Posperanya.
Lawan Adian dan Posperanya !! Lawan Investor Rakus TWBI!!
#SayaTolakReklamasi
#LawanKriminalisasiAktivisForBALI
#BatalkanPerpres51Thn2014
Penulis: Roberto Hutabarat
Sumber:

“Kalau sukses dilaksanakan, Proyek Reklamasi Teluk Benoa ini akan menjadi monumen kekalahan kesekian kali untuk masyarakat Bali dalam berhadapan dengan para pemodal besar pariwisata. Sebagian besar para pemodal tersebut memiliki kaitan dengan elit politik di Jakarta. Pada jaman Soeharto, hampir semua pemilik hotel atau penguasa tanah di kawasan wisata strategis adalah para kroninya.” – Made Supriatma, Cornell University
http://indoprogress.com/2016/08/generasi-bali-tolak-reklamasi/
Kira-kira apa yang sebenarnya melatari pelaporan pospera dan Adian Napitupulu terhadap Aktivis ForBALI Wayan Gendo Surdana ke Mabes Polri dan 5 Polda lainnya? Menurut pengakuan ormas pospera, laporan mereka tidak ada kaitannya dengan isu reklamasi Teluk Benoa. Laporan ke Mabes Polri semata-mata bermula dari cuitan Gendo di twitter yang tidak sesuai adat sopan-santun ketimuran –Saya kira ke depan ada baiknya pihak pospera menegur pemilik twitter atau FB supaya menempelkan peraturan syarat ketimuran dan sopan-santun versi pospera harus dicantumkan di twitter atau FB, ditambahi bahwa himbauan ini datang dari ormas paling ditakuti di seluruh dunia! Jika tidak ditanggapi atau diklarifikasi, akan dilaporkan ke polisi dunia akhirat. —
Untuk mendalami motivasi Adian Napitupulu dan pospera ngotot melakukan Kriminalisasi Aktivis ForBALI mungkin ada baiknya didalami sedikit bagaimana sebenarnya sepak-terjang anggota Komisi VII DPR pusat dari PDIP ini? Ormas sejenis apakah pospera di Bali? Kenapa muncul cuitan dari Gendo yang dianggap Adian menghinanya? Apa sepak terjang keterlibatan Adian dan posperanya dalam isu Reklamasi Teluk Benoa yang dimiliki TWBI? Apakah betul tidak ada hubungan pospera dengan TWBI dan pemiliknya? Pertanyaan-pertanyaan tadi perlu diungkap dengan gamblang bukan dengan gambling ala TW. Apalagi saat ini pospera sedang giat-giatnya memprovokasi di medsos sebagai upaya cuci tangan untuk menyatakan bahwa kasus ini tak punya kaitan dengan isu reklamasi Teluk Benoa. Sebagai permulaan, saya akan membagikan link di bawah ini, yang memuat fakta yang jelas untuk menjawab bantahan pospera bahwa mereka tidak terkait dengan isu reklamasi Teluk Benoa. http://bali.tribunnews.com/2016/02/02/adian-napitupulu-izin-reklamasi-teluk-benoa-sudah-beres-semua
Pertanyaan besarnya kemudian adalah: Mengapa sejak dari bulan Februari 2016, Adian dan pospera-nya sudah berani dengan ANGKUHnya mengKLAIM bahwa urusan izin reklamasi Teluk Benoa sudah beres semua? Apakah tindakan dan statemen Adian yang mengatakan Izin Reklamasi semua sudah beres itu adalah sikap yang sopan? Dari cara bicaranya mungkin ia sampaikan dengan cara sopan, tapi makna yang disampaikan sama sekali melecehkan, tidak tahu adat-istiadat, tak punya etika kesopanan. Ini model tipikal cara-cara poliTikus busuk, 11-12 seperti model SANUSI yang ditangkap KPK itu (Santun Namun Korupsi). Bagaimana mungkin Adian Napitupulu seorang elit PoliTIKUS yang terbiasa enak-enak duduk (bahkan tidur-tiduran) di kursi gedung DPR Jakarta yang mewah-megah itu tiba-tiba datang ke Bali, lantas nyolot main KLAIM: “Semua Izin Sudah Beres! Tinggal atur-atur saja.” Saya kira cara-cara Klaim sangat Arogan Adian ini adalah bentuk ketidak-sopanan, pelecehan dan ejekan yang sangat provokatif terhadap aspirasi Rakyat Bali.
Klaim angkuh Adian yang ujug-ujug datang ke Bali lalu seenaknya ngomong Izin Reklamasi sudah beres tentu saja membuat Wayan Gendo Suardana meradang. Sebagai pemegang mandat teknis dari Pasubayan Desa Adat dan pemimpin ForBALI, saya kira jangankan Gendo, semua Rakyat Bali Tolak Reklamasi pasti juga jengkel, sebal, marah kalau diperlakukan dengan tidak sopan seperti itu. Tapi walaupun menahan geram, Gendo tidak lantas mengambil keputusan sendiri, misalnya dengan melaporkan ke polisi atas penghinaan terhadap Rakyat Desa Adat Bali yang dilakukan Adian itu. Gendo dan ForBALI yang dipimpinnya tidak secengeng Adian dan ormas posperanya.
Cuitan di Twiter atau wallnya Wayan Gendo di FB dia jadikan saluran untuk mengeluarkan uneg-unegnya –dan itupun karena sebelumnya akun-akun robot pospera memprovokasi dengan cuitan-cuitan yang mengejek ForBALI dan Gendo. Cuitan Gendo di Twiter menjadi semacam “Tembok Ratapan” atas kekesalannya atas ulah Fait Accompli dari si Adian Raja Klaim itu (itupun cuitan Gendo tidak ada no mention atau menujukan ke nama Adian). Sebenarnya bukan cuma Gendo yang membuat cuitan atau status yang ditujukaan ke boss pospera atas keangkuhannya itu. Banyak sekali cuitan, re-tweet dan status FB yang bahkan menantang langsung kesombongan klaim dari elit poliTIKUS PDIP ini. Bahkan saya sendiri pernah sebut nama dan tunjuk hidung langsung ke Adian dan pospera. Tapi kenapa saya atau kawan-kawan di ForBALI lainnya tidak dilaporkan ke polisi? Saya tak perlu jelaskan. Anda pasti semua sudah tahu jawabannya.
Mengapa Adian begitu nekat dengan aksi Klaimnya? Ini saya kira berkaitan dengan bagaimana ia mencoba mengerek harga politiknya di mata investor. Saat Menteri-Menteri yang berwenang mengurusi izin reklamasi saja belum berani bicara final, belum ada kata beres soal izin reklamasi, mendadak sontak Adian dengan sombongnya mengklaim semua izin sudah beres. Sedangkan Menteri KKP Susi Pudjiastuti baru memperpanjang izin lokasi di Bulan Juli 2016, tapi mengapa Adian dengan ANGKUHnya melakukan Fait Accompli terhadap izin reklamasi sudah sejak Bulan Februari 2016? Jelas ini adalah cara-cara tipikal Adian sebagai poliTIKUS busuk yang mau menekan dan mengondisikan kalangan elit-elit pengambil keputusan politik di Jakarta supaya mengikuti syahwat ormas posperanya yang dekat dengan TWBI. Cara-cara Fait Accompli model Adian ini tidak terlepas dari cara-hidupnya sebagai seorang mantan aktivis yang bermetamorfosa menjadi –bukan jadi kupu-kupu tapi– poliTikus.
Saya ingin sedikit menyinggunga model permainan kotor Adian dalam dunia pergerakan sebelum dia masuk ke dunia Dhewan Perwakilan Rakyat, dengan mengutip informasi investigative yang pernah dilakukan Made Supriatma dari Cornell University tentang sosok poliTIKUS PDIP ini.
“…Orang ini (Adian Napitupulu) dulunya adalah aktivis paling galak sedunia. Selain juga paling biadab sekaligus paling tidak beradab. Dia terkenal karena kekasarannya. Dia tidak tanggung-tanggung memaki siapa saja dan apa saja yang dilawannya. Dalam politik, dia bisa menjadi ‘anjing penyerang’ (attack dog) yang sangat berguna. Itu pula yang dilakukannya ketika berhadapan dengan para pendukung Prabowo ketika partainya mengusung Jokowi sebagai presiden.”
Mungkin saja Adian nekat main klaim karena mengira pospera di Bali itu sudah sekuat atau sebesar ormas pemuda lain di Bali seperti Laskar Bali, Baladika, Pemuda Bali Bersatu, dan lain-lain. Padahal anak buahnya tidak pernah memperjuangkan aspirasi rakyat seperti klaim nama organisasinya, jangankan memperjuangkan suara rakyat Bali memperjuangkan dirinya sendiri pun mereka sudah kembang-kempis. Bahkan ada rumor yang beredar, sekretariat pospera di Bali itu pun dimodali oleh investor reklamasi. Dugaan Itu mungkin saja benar, apalagi menurut data dari sumber koran Pos Bali, Ketua Pospera Bali yang bernama Kadek Agus Ekanata juga menjabat sebagai Direktur SDM di PT. TWBI. Masak pospera Bali tidak punya kegiatan? Ada sih kegiatan mereka –kalau dulu semasa masih aktivis mahasiswa suka banget turun ke jalan membela rakyat– sekarang poliTikus pospera Bali itu rajin mendekat ke pejabat-pejabat, beranjang-sana atau bersilaturahmi dengan Bupati atau Wakil Bupati. Sopan santun sekali berbahasanya dan rapi-rapi penampilannya. Setidaknya mereka mulai melatih diri dengan memirip-miripkan dirinya dengan pejabat, karena memang cita-citanya jadi pejabat, penguasa atau poliTikus.
Adian yang gemar mencaci-maki lawan politiknya kini kena batunya. Anggota pospera di Bali sudah mendapat status “di-persona-non-grata-kan” alias tidak diapreasiasi kehadirannya oleh Rakyat Desa Adat Bali. Satu-satunya cara agar ormas politik pospera bisa selamat dari murka Rakyat Bali adalah dengan menetek ke petinggi PDIP, itupun saya ragu bisa berhasil. Jangan mengharap mereka bisa menetek ke cantolan politik PDIP Bali seperti Wayan Koster, karena poliTikus satu ini juga punya track record buruk dan pernah diperiksa KPK, dan tak punya pengaruh luas di mata Rakyat Bali, apalagi di mata Rakyat Bali Tolak Reklamasi. Mungkin Adian dan posperanya tidak cuma harus mengadu dan melapor ke Mabes Polri, mereka bisa juga me-LAPOR-kan atau minta keselamatan kepada teman investornya di TWBI. Habis mau minta tolong ke siapa lagi? Mau minta tolong ke partai lain? Gerindra? Ya jelas ndak enak! Bukankah si Adian “Peternak Kerbau” ini dulunya pernah menyerang sengit si “Pengurus Kuda?”
Naluri saya dan kawan-kawan ForBALI ikut melawan Kriminalisasi yang menindas Gendo dan Aktivis Rakyat Bali Tolak Reklamasi ini karena kami sudah mengendus adanya Bau Naga yang busuk keluar dari mulut si Adian dan posperanya. Maksudnya, Naga-Naganya pasal karet dari pospera ini bisa membuka pintu bagi munculnya rezim fasisme Orba. Apalagi Adian dan posperanya di Bali sudah jadi perpanjangan lidah dari 9 Naga.
Mereka lupa, generasi sekarang tidak akan pernah tunduk apalagi mau menghirup udara busuk Orde Bauk yang coba dihidupkan lagi oleh Adian dan Posperanya.
Lawan Adian dan Posperanya !! Lawan Investor Rakus TWBI!!
#SayaTolakReklamasi
#LawanKriminalisasiAktivisForBALI
#BatalkanPerpres51Thn2014
Penulis: Roberto Hutabarat
Sumber:





