Juni 11th, 2017 // ForBALI

Pemuda Renon dan Sumerta Semarakkan PKB 2017 dengan Atribut Tolak Reklamasi

IMG-20170610-WA0015

Menjelang pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2017, pemuda Desa Adat Renon dan Desa Adat Sumerta menyemarakkan lingkungan desanya yang menjadi lokasi pembukaan dan pelaksanaan PKB 2017 dengan memasang baliho, spanduk penolakan reklamasi Teluk Benoa dan bendera-bendera perjuangan.

Di Renon, pemasangan atribut dilakukan di ruas Jalan Raya Puputan yang merupakan jalur masuk menuju arena pembukaan PKB.

I Gede Eka Suputra, salah seorang pemuda dari Forum Pemuda Renon menyampaikan pemasangan atribut-atribut tersebut untuk memberi pesan kepada pejabat dan khayalak yang menghadiri pembukaan PKB bahwa penolakan reklamasi Teluk Benoa tetap konsisten dilakukan masyarakat Bali serta untuk menyelamatkan air sebagai sumber kehidupan sesuai tema PKB kali ini, dimana laut merupakan sumber air terbesar di bumi.

“Pemerintah Bali memberi tema PKB kali ini adalah Melestarikan Air Sumber Kehidupan kok malah ngotot ingin mengurug laut?” ungkapnya dengan nada tanya.

Sementara itu di Sumerta, pemasangan atribut dilakukan diseputaran pertigaan Jalan Hayam Wuruk – Jalan Nusa Indah yang merupakan jalur masuk menuju Art Centre lokasi pelaksanaan PKB setiap tahunnya.

I Wayan Murdika,Kepala Dusun Banjar Peken Desa Sumerta sekaligus Ketua Barisan Pemuda Perjuangan (BAMPER Sumerta) yang ditemui saat pemasangan spanduk menyampaikan kegiatan tersebut adalah bentuk konsistensi para pemuda di Desa Adat Sumerta yang tanpa kenal lelah disetiap kesempatan menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa yang sudah menjadi sikap Desa Adat Sumerta.

Apalagi menurutnya tema PKB kali ini adalah Melestarikan Air Sumber Kehidupan, seharusnya membuka mata dan hati pemerintah Bali untuk memperhatikan aspirasi masyarakat Bali.

“Tema PKB bagus sekali tapi tidak sesuai dengan sikap pemerintah Bali perihal reklamasi Teluk Benoa,” ungkap Kepala Dusun Banjar Peken.

IMG-20170610-WA0015

Menjelang pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) 2017, pemuda Desa Adat Renon dan Desa Adat Sumerta menyemarakkan lingkungan desanya yang menjadi lokasi pembukaan dan pelaksanaan PKB 2017 dengan memasang baliho, spanduk penolakan reklamasi Teluk Benoa dan bendera-bendera perjuangan.

Di Renon, pemasangan atribut dilakukan di ruas Jalan Raya Puputan yang merupakan jalur masuk menuju arena pembukaan PKB.

I Gede Eka Suputra, salah seorang pemuda dari Forum Pemuda Renon menyampaikan pemasangan atribut-atribut tersebut untuk memberi pesan kepada pejabat dan khayalak yang menghadiri pembukaan PKB bahwa penolakan reklamasi Teluk Benoa tetap konsisten dilakukan masyarakat Bali serta untuk menyelamatkan air sebagai sumber kehidupan sesuai tema PKB kali ini, dimana laut merupakan sumber air terbesar di bumi.

“Pemerintah Bali memberi tema PKB kali ini adalah Melestarikan Air Sumber Kehidupan kok malah ngotot ingin mengurug laut?” ungkapnya dengan nada tanya.

Sementara itu di Sumerta, pemasangan atribut dilakukan diseputaran pertigaan Jalan Hayam Wuruk – Jalan Nusa Indah yang merupakan jalur masuk menuju Art Centre lokasi pelaksanaan PKB setiap tahunnya.

I Wayan Murdika,Kepala Dusun Banjar Peken Desa Sumerta sekaligus Ketua Barisan Pemuda Perjuangan (BAMPER Sumerta) yang ditemui saat pemasangan spanduk menyampaikan kegiatan tersebut adalah bentuk konsistensi para pemuda di Desa Adat Sumerta yang tanpa kenal lelah disetiap kesempatan menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa yang sudah menjadi sikap Desa Adat Sumerta.

Apalagi menurutnya tema PKB kali ini adalah Melestarikan Air Sumber Kehidupan, seharusnya membuka mata dan hati pemerintah Bali untuk memperhatikan aspirasi masyarakat Bali.

“Tema PKB bagus sekali tapi tidak sesuai dengan sikap pemerintah Bali perihal reklamasi Teluk Benoa,” ungkap Kepala Dusun Banjar Peken.