
Semakin hari, penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa semakin meluas. Kini giliran masyarakat Nusa Dua menggelar aksi pemasangan baliho tolak reklamasi. Merespon adanya surat dukungan terhadap rencana reklamasi yang menggunakan nama desa adat, masyarakat Nusa Dua dari berbagai unsur baik nelayan, pekerja, pemuda dan mahasiswa pada jumat sore (19/06) tumpah ruah turun ke jalan, mereka berduyun -duyun melakukan pemasangan baliho Nusa Dua Tolak Reklamasi.
Sore kemarin, Forum Masyarakat Nusa Dua (ForManusa) Tolak Reklamasi Teluk Benoa melakukan aksi pemasangan baliho tolak reklamasi di lakukan di empat lokasi berbeda. Pertama pemasangan dilakukan di perempatan siligita. Usai melakukan pemasangan di di perempatan siligita dilajutkan ke pertigaan jalan tol Nusa Dua, dilanjutkan ke perempatan club med dan berujung di perempatan Nusa Dua. Usai memasang baliho di setiap titik, terdengar kompak teriakan Tolak Reklamasi yang di kumandangkan oleh masayarakat Nusa Dua dan dilanjutkan dengan foto bersama.
Di tengah-tengah aksi, I Wayan Sumantra SH, menyampaikan bahwa selama ini Nusa Dua selalu dipandang diam dan setuju-setuju saja menurutnya warga Nusa Dua kompak menolak reklamasi Teluk Benoa. “warga kami kompak menolak reklamasi Teluk Benoa dan ini adalah aksi pertama kami” ujar Sumantra.

Dengan penuh semangat, Sumantra yang juga Ketua ForManusa menyerukan kepada pemerintah di dari desa hingga ke pusat untuk mendengarkan apirasi mereka. “Jika ini tidak mendapat perhatian yang serius dari mereka para aparat yang berada di desa, di badung yang di propinsi, dari pusat maupun dari investor, kami siap aksi yang lebih besar lagi” ujarnya.
Ketika ditanya, kenapa Nua Dua baru saat ini bergerak ? Menurut I Wayan Sumantra yang juga aktif sebagai Sekretaris LPM Keluarahan Benoa menyatakan jika mereka menghargai komitmen agar Nusa Dua kondusif, Nusa Dua terbebas dari baliho pro atau kontra terhadap rencana reklamasi. Namun, lanjutnya, mengingat adanya statmen beberapa oknum pejabat yang ada di desa yang menyatakan dukungan, yang mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi secara resmi atas nama Desa Adat Bualu, masyarakat Nusa Dua berkumpul dan membentuk forum dengan nama forum masyarakat Nusa Dua (ForManusa) tolak reklamasi Teluk Benoa dan lahirlah aksi pemasangan 4 baliho di Nusa Dua. “kami turun bersama dengan semua lapisan khususnya generasi muda Nusa Dua menunjukkan bahwa Nusa Dua juga menolak reklamasi Teluk Benoa. kita harus menyampaikan juga aspirasi kita. Karena mereka oknum pejabat-pejabat yang ada di desa juga sudah menunjukkan dirinya bahwa mereka mendukung” Ungkap Sumantra.

Ketua ForManusa mempertanyakan adanya dukungan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa, pasalnya selama ini tidak pernah ada paruman dan sosialisasi jika desanya mendukung reklamasi Teluk Benoa “Mereka mengirimkan dukungan atas nama Desa Adat Bualu sekaligus Stempel Desa, tapi tidak pernah sosialisasi, tidak pernah ada parum (rapat adat) desa, tidak pernah berkomunikasi dengan semua lapisan masyarakat baik lembaga, prajuru desa, lingkungan dan banjar. Tidak pernah” paparnya
ForManusa khawatir apabila reklamasi Teluk Benoa dipaksakan, Nusa Dua maupun Kuta Selatan akan semakin penuh terlebih Nusa Dua sudah padat dengan akomodasi pariwisata ditambah lagi dengan adanya 250 ribu tenaga kerja akan hadir disini. “tidak dapat dibayangkan Nusa Dua akan seperti apa bencana sosial yang akan terjadi di Nusa Dua” ujarnya.
“Bali ini dikenal dengan destinasi pariwisata budaya bukan eksploitasi alam, dan itu sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. oelh karenanya reklamasi teluk benoa harus di tolak” ujar Sumantra mengakhiri wawancara.
Di konfirmasi terpisah, aksi pemasangan baliho tersebut melibatkan masyarakat dari 12 banjar adat dan 4 banjar dinas yang ada di Nusa Dua serta komunitas Tanjung Benoa Tolak Reklamasi (TBTR) yang diikuti lebih dari seribu orang. Usai melakukan pemasangan 4 baliho berukuran masing-masing sekitar 6 meter persegi tersebut, mereka membubarkan diri dengan tertib.

Semakin hari, penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa semakin meluas. Kini giliran masyarakat Nusa Dua menggelar aksi pemasangan baliho tolak reklamasi. Merespon adanya surat dukungan terhadap rencana reklamasi yang menggunakan nama desa adat, masyarakat Nusa Dua dari berbagai unsur baik nelayan, pekerja, pemuda dan mahasiswa pada jumat sore (19/06) tumpah ruah turun ke jalan, mereka berduyun -duyun melakukan pemasangan baliho Nusa Dua Tolak Reklamasi.
Sore kemarin, Forum Masyarakat Nusa Dua (ForManusa) Tolak Reklamasi Teluk Benoa melakukan aksi pemasangan baliho tolak reklamasi di lakukan di empat lokasi berbeda. Pertama pemasangan dilakukan di perempatan siligita. Usai melakukan pemasangan di di perempatan siligita dilajutkan ke pertigaan jalan tol Nusa Dua, dilanjutkan ke perempatan club med dan berujung di perempatan Nusa Dua. Usai memasang baliho di setiap titik, terdengar kompak teriakan Tolak Reklamasi yang di kumandangkan oleh masayarakat Nusa Dua dan dilanjutkan dengan foto bersama.
Di tengah-tengah aksi, I Wayan Sumantra SH, menyampaikan bahwa selama ini Nusa Dua selalu dipandang diam dan setuju-setuju saja menurutnya warga Nusa Dua kompak menolak reklamasi Teluk Benoa. “warga kami kompak menolak reklamasi Teluk Benoa dan ini adalah aksi pertama kami” ujar Sumantra.

Dengan penuh semangat, Sumantra yang juga Ketua ForManusa menyerukan kepada pemerintah di dari desa hingga ke pusat untuk mendengarkan apirasi mereka. “Jika ini tidak mendapat perhatian yang serius dari mereka para aparat yang berada di desa, di badung yang di propinsi, dari pusat maupun dari investor, kami siap aksi yang lebih besar lagi” ujarnya.
Ketika ditanya, kenapa Nua Dua baru saat ini bergerak ? Menurut I Wayan Sumantra yang juga aktif sebagai Sekretaris LPM Keluarahan Benoa menyatakan jika mereka menghargai komitmen agar Nusa Dua kondusif, Nusa Dua terbebas dari baliho pro atau kontra terhadap rencana reklamasi. Namun, lanjutnya, mengingat adanya statmen beberapa oknum pejabat yang ada di desa yang menyatakan dukungan, yang mengirimkan surat kepada Presiden Jokowi secara resmi atas nama Desa Adat Bualu, masyarakat Nusa Dua berkumpul dan membentuk forum dengan nama forum masyarakat Nusa Dua (ForManusa) tolak reklamasi Teluk Benoa dan lahirlah aksi pemasangan 4 baliho di Nusa Dua. “kami turun bersama dengan semua lapisan khususnya generasi muda Nusa Dua menunjukkan bahwa Nusa Dua juga menolak reklamasi Teluk Benoa. kita harus menyampaikan juga aspirasi kita. Karena mereka oknum pejabat-pejabat yang ada di desa juga sudah menunjukkan dirinya bahwa mereka mendukung” Ungkap Sumantra.

Ketua ForManusa mempertanyakan adanya dukungan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa, pasalnya selama ini tidak pernah ada paruman dan sosialisasi jika desanya mendukung reklamasi Teluk Benoa “Mereka mengirimkan dukungan atas nama Desa Adat Bualu sekaligus Stempel Desa, tapi tidak pernah sosialisasi, tidak pernah ada parum (rapat adat) desa, tidak pernah berkomunikasi dengan semua lapisan masyarakat baik lembaga, prajuru desa, lingkungan dan banjar. Tidak pernah” paparnya
ForManusa khawatir apabila reklamasi Teluk Benoa dipaksakan, Nusa Dua maupun Kuta Selatan akan semakin penuh terlebih Nusa Dua sudah padat dengan akomodasi pariwisata ditambah lagi dengan adanya 250 ribu tenaga kerja akan hadir disini. “tidak dapat dibayangkan Nusa Dua akan seperti apa bencana sosial yang akan terjadi di Nusa Dua” ujarnya.
“Bali ini dikenal dengan destinasi pariwisata budaya bukan eksploitasi alam, dan itu sudah berlangsung berpuluh-puluh tahun. oelh karenanya reklamasi teluk benoa harus di tolak” ujar Sumantra mengakhiri wawancara.
Di konfirmasi terpisah, aksi pemasangan baliho tersebut melibatkan masyarakat dari 12 banjar adat dan 4 banjar dinas yang ada di Nusa Dua serta komunitas Tanjung Benoa Tolak Reklamasi (TBTR) yang diikuti lebih dari seribu orang. Usai melakukan pemasangan 4 baliho berukuran masing-masing sekitar 6 meter persegi tersebut, mereka membubarkan diri dengan tertib.





