November 1st, 2017 // ForBALI

Memaknai Kemenangan Dharma dengan Dirikan Baliho Tolak Reklamasi

Foto Pemasangan Baliho BTR oleh Desa Adat Lebih (2)

Pemuda Desa Pekraman Lebih, Gianyar mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa di dua titik, masing-masing di perempatan Desa Lebih – Jl. Bypass IB. Mantra dan di depan Balai Pesanekan Pantai Lebih. Pendirian baliho ini untuk memaknai kemenangan dharma melawan adharma sebagaimana makna Galungan. Pemasangan baliho mereka lakukan pada dini hari 31 Oktober 2017.

Seperti yang disampaikan I Wayan Agus Muliana, S.AP sebagai Koordinator Pemuda BTR Desa Lebih, pendirian baliho kali ini selain untuk menunjukkan konsistensi Desa Pekraman Lebih juga sebagai simbolis bahwa kemenangan Dharma atas Adharma dalam menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan harus diperjuangkan.

“Kita tidak bisa berdiam diri untuk mengalahkan Adharma, salah satunya berupa sifat rakus manusia yang memaksakan kehendak untuk mengurug Teluk Benoa,” ujarnya.

Bendesa Adat Desa Lebih, I Wayan Wisma sangat mendukung kegiatan pemudanya dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa. “Perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa membutuhkan konsistensi, jangan sampai lengah, di saat rakyat Bali sibuk dengan kegiatan adat dan memperingati hari raya kita harus tetap waspada terhadap manuver-manuver yang dilakukan pereklamasi,” tandasnya.

Foto Pemasangan Baliho BTR oleh Desa Adat Lebih (2)

Pemuda Desa Pekraman Lebih, Gianyar mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa di dua titik, masing-masing di perempatan Desa Lebih – Jl. Bypass IB. Mantra dan di depan Balai Pesanekan Pantai Lebih. Pendirian baliho ini untuk memaknai kemenangan dharma melawan adharma sebagaimana makna Galungan. Pemasangan baliho mereka lakukan pada dini hari 31 Oktober 2017.

Seperti yang disampaikan I Wayan Agus Muliana, S.AP sebagai Koordinator Pemuda BTR Desa Lebih, pendirian baliho kali ini selain untuk menunjukkan konsistensi Desa Pekraman Lebih juga sebagai simbolis bahwa kemenangan Dharma atas Adharma dalam menyambut Hari Raya Galungan dan Kuningan harus diperjuangkan.

“Kita tidak bisa berdiam diri untuk mengalahkan Adharma, salah satunya berupa sifat rakus manusia yang memaksakan kehendak untuk mengurug Teluk Benoa,” ujarnya.

Bendesa Adat Desa Lebih, I Wayan Wisma sangat mendukung kegiatan pemudanya dalam perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa. “Perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa membutuhkan konsistensi, jangan sampai lengah, di saat rakyat Bali sibuk dengan kegiatan adat dan memperingati hari raya kita harus tetap waspada terhadap manuver-manuver yang dilakukan pereklamasi,” tandasnya.