Maret 25th, 2017 // ForBALI

Jelang Melasti, Desa Adat Sukawati dirikan baliho di Pantai Purnama.

Foto Pemasangan baliho Desa Adat Sukawati di Pantai Purnama 23 Maret 2017 (1)Melasti adalah kegiatan penyucian diri menjelang Hari Raya Nyepi dan tahun baru Saka. Upacara melasti ditandai iring-iringan warga berpakaian adat membawa “Pratima” menuju pesisir laut atau pantai. Upacara melasti akan diadakan diseluruh pantai di Bali yang sudah biasa digunakan sebagai tempat melasti, termasuk salah satunya adalah di Pantai Purnama, yang terleteak di wilayah Desa Adat Sukawati. Meskipun berada di wilayah desa adat sukawati, pantai tersebut juga akan digunakan oleh beberapa Desa Adat untuk upacara melasti. Menjelang upacara melasti tersebut, Kamis, 23 maret 2017, warga Desa Adat Sukawati mendirikan baliho besar di Pantai Purnama yang berisi ajakan untuk menjaga pantai yang mereka gunakan secara bersama-sama, termasuk ajakan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

“pantai ini milik kita bersama, mari kita jaga dan selamatkan demi anak cucu kita nanti, tolak reklamasi Teluk Benoa, batalkan perpres no. 51 th 2014” begitu tulisan bernada ajakan di dalam baliho berukuran 3 x 3 meter tersebut.

 

I Kadek Tilaharta, koordinator pemuda Desa Adat Sukawati Tolak Reklamasi Teluk Benoa menjelaskan bahwa pendirian baliho ini bertujuan untuk mengajak warga untuk bersama-sama menjaga wilayah pantai dari kerusakan akibat ulah manusia dan khususnya Pantai Purnama yang banyak dikunjungi warga untuk menikmati keindahannya juga digunakan untuk ritual melasti oleh beberapa warga Desa Adat sekitar Sukawati. “Salah satu upaya untuk menjaga wilayah pantai dari kerusakan adalah menolak reklamasi Teluk Benoa, karena pengurugan pembuatan pulau-pulau baru di Teluk Benoa tersebut akan dapat meningkatkan abrasi disepanjang pantai pesisir selatan Pulau Bali dan akan merusak pantai-pantai yang menjadi lokasi dari pemelisan (melasti) ini” ujarnya.

 

Tidak hanya oleh pemuda yang selama ini aktif memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa tapi juga diikuti oleh nelayan. Wayan Setiawiarsa, seorang nelayan yang ikut serta dalam pendirian baliho juga meyakini bahwa proyek reklamasi di Teluk Benoa selain mempercepat abrasi terjadi di Pantai Purnama seperti yang terjadi saat proyek reklamasi Pulau Serangan beberapa tahun silam, reklamasi Teluk Benoa juga akan merubah arus laut. “Saya berharap kita semua tidak hanya bisa menikmati dan menggunakan pantai namun juga ikut serta menjaganya. Mari kita jaga bersama pantai ini, pantai milik kita bersama, tolak reklamasi Teluk Benoa”, harapnya.

Baliho yang dipasang di pantai purnama

Foto Pemasangan baliho Desa Adat Sukawati di Pantai Purnama 23 Maret 2017 (1)Melasti adalah kegiatan penyucian diri menjelang Hari Raya Nyepi dan tahun baru Saka. Upacara melasti ditandai iring-iringan warga berpakaian adat membawa “Pratima” menuju pesisir laut atau pantai. Upacara melasti akan diadakan diseluruh pantai di Bali yang sudah biasa digunakan sebagai tempat melasti, termasuk salah satunya adalah di Pantai Purnama, yang terleteak di wilayah Desa Adat Sukawati. Meskipun berada di wilayah desa adat sukawati, pantai tersebut juga akan digunakan oleh beberapa Desa Adat untuk upacara melasti. Menjelang upacara melasti tersebut, Kamis, 23 maret 2017, warga Desa Adat Sukawati mendirikan baliho besar di Pantai Purnama yang berisi ajakan untuk menjaga pantai yang mereka gunakan secara bersama-sama, termasuk ajakan untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.

“pantai ini milik kita bersama, mari kita jaga dan selamatkan demi anak cucu kita nanti, tolak reklamasi Teluk Benoa, batalkan perpres no. 51 th 2014” begitu tulisan bernada ajakan di dalam baliho berukuran 3 x 3 meter tersebut.

 

I Kadek Tilaharta, koordinator pemuda Desa Adat Sukawati Tolak Reklamasi Teluk Benoa menjelaskan bahwa pendirian baliho ini bertujuan untuk mengajak warga untuk bersama-sama menjaga wilayah pantai dari kerusakan akibat ulah manusia dan khususnya Pantai Purnama yang banyak dikunjungi warga untuk menikmati keindahannya juga digunakan untuk ritual melasti oleh beberapa warga Desa Adat sekitar Sukawati. “Salah satu upaya untuk menjaga wilayah pantai dari kerusakan adalah menolak reklamasi Teluk Benoa, karena pengurugan pembuatan pulau-pulau baru di Teluk Benoa tersebut akan dapat meningkatkan abrasi disepanjang pantai pesisir selatan Pulau Bali dan akan merusak pantai-pantai yang menjadi lokasi dari pemelisan (melasti) ini” ujarnya.

 

Tidak hanya oleh pemuda yang selama ini aktif memperjuangkan penolakan reklamasi Teluk Benoa tapi juga diikuti oleh nelayan. Wayan Setiawiarsa, seorang nelayan yang ikut serta dalam pendirian baliho juga meyakini bahwa proyek reklamasi di Teluk Benoa selain mempercepat abrasi terjadi di Pantai Purnama seperti yang terjadi saat proyek reklamasi Pulau Serangan beberapa tahun silam, reklamasi Teluk Benoa juga akan merubah arus laut. “Saya berharap kita semua tidak hanya bisa menikmati dan menggunakan pantai namun juga ikut serta menjaganya. Mari kita jaga bersama pantai ini, pantai milik kita bersama, tolak reklamasi Teluk Benoa”, harapnya.

Baliho yang dipasang di pantai purnama