Selain Gempar, aksi demo menolak reklamasi yang berlangsung Jumat (2/8) lalu juga diikuti kalangan pengusaha wisata tirta. Lalu apa yang mendasari beberapa pengusaha yang warga Tanjung Benoa itu menolak reklamasi?
Ketua DPC Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Kabupaten Badung, I Made Tromat, diminta konfirmasinya ketika itu membenarkan anggotanya ikut turun dalam aksi penolakan tersebut. Tromat mengatakan aksi tersebut berdasarkan tindak lanjut dari instruksi induk organisasinya terkait penolakan reklamasi Teluk Benoa. Karena itu dia secara mendadak menulis surat kepada anggota Gahawisri untuk ikut dalam aksi demo tersebut. Selain itu, kata Tromat, penolakan tersebut dilakukan karena dari informasi yang didapatnya di kawasan reklamasi nantinya juga akan dibangun usaha water sport. ’’Kalau ini sampai terjadi, kami makan apa?’’ tanya Tromat.
Dia mempertanyakan siapa yang menjamin glass bottom atau kegiatan water sport yang ada saat tersebut nantinya bisa tetap beroperasi. Perahu jenis glass bottom biasanya digunakan untuk mengangkut wisatawan dari perairan Tanjung Benoa menuju Pulau Penyu yang letaknya di pesisir barat Tanjung Benoa. Kalau dilakukan reklamasi, dia mengkhawatirkan kegiatan tersebut tidak akan bisa dilakukan lagi. Menurut Tromat, dengan datangnya investor besar di Teluk Benoa, dipastikan akan menyingkirkan para pengusaha kecil. ’’Kalau investor besar datang, maka kami pengusaha wisata tirta bermodal kecil ya akan tersingkir,’’ ujarnya.
Di bagian lain, selaku warga Tanjung Benoa, dia sangat mengharapkan rekondisi Pulau Pudut. Pasalnya, selain mengembalikan kawasan yang telah tergerus abrasi, maka ada kemungkinan wisata konservasi penyu di Pulau Penyu yang ada di pesisir barat Tanjung Benoa saat ini, nantinya dapat dipindah ke Pulau Pudut.
Selama ini, kata Tromat, Pulau Penyu tidak berada di sebuah pulau kecil, melainkan di pesisir barat Tanjung Benoa. ’’Kalau nanti Pulau Pudut jadi dikembalikan dan konservasi penyu dipindah ke sana, tentu sangat bagus. Maka Pulau Penyu akan benar-benar berada di sebuah pulau kecil,’’ imbuhnya.
Ketua LPM Tanjung Benoa, Wayan Dharma, di tempat terpisah ketika diminta komentarnya akan aksi ini mengatakan kalau semangatnya sangat bagus. Pasalnya, kata Dharma, terkadang memang perlu juga memberikan masukan-masukan karena itu penting bagi pemerintah. Asal, saran Dharma, jangan sampai anarkis. Pasalnya, anarkis tidak zamannya lagi. ’’Mari duduk bersama sampaikan aspirasi, mari dibahas sehingga ditemukan solusi bersama,’’ katanya. Di satu sisi, menurut Dharma, pengembalian Pudut jelas sangat diperlukan. Selain itu, sebagai solusi kemacetan di Tanjung Benoa perlu ada jalan alternatif, karena satu-satunya jalan yang ada hanya jalan pratama.
Seperti diberitakan sebelumnya, penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa mulai mengemuka di masyarakat. Bahkan mereka menunjukkan aksi penolakan dengan menggelar demo. Seperti yang dilakukan Gerakan Masyarakat Pemuda Tolak Reklamasi (Gempar) Teluk Benoa. Dengan menggunakan puluhan perahu Gempar bersama sejumlah elemen masyarakat, Jumat (2/8) lalu mereka menggelar demonstrasi di perairan Teluk Benoa.
Massa yang terdiri dari ratusan orang tersebut mulai bergerak dari Tanjung Benoa, tepatnya di Pandawa water sport dengan menggunakan puluhan jukung dan perahu sekitar pukul 14.00 Wita menuju perairan dangkal Teluk Benoa. Sepanjang perjalanan dari atas perahu yang mereka tumpangi mereka meneriakkan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. Massa juga membekali diri dengan spanduk bernada kecaman atas terbitnya SK Gubernur tentang reklamasi Teluk Benoa. Massa yang sebagian besar merupakan warga Tanjung Benoa, Kuta Selatan, tersebut dengan tegas menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Bahkan sikap Gubernur Bali Mangku Pastika juga tak luput dari sorotan. Gubernur dituding telah melakukan kebohongan publik demi kepentingan investor.
sumber: http://denpostnews.com/badung/gahawisri-khawatir-wisata-tirta-akan-hilang.html
Selain Gempar, aksi demo menolak reklamasi yang berlangsung Jumat (2/8) lalu juga diikuti kalangan pengusaha wisata tirta. Lalu apa yang mendasari beberapa pengusaha yang warga Tanjung Benoa itu menolak reklamasi?
Ketua DPC Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Kabupaten Badung, I Made Tromat, diminta konfirmasinya ketika itu membenarkan anggotanya ikut turun dalam aksi penolakan tersebut. Tromat mengatakan aksi tersebut berdasarkan tindak lanjut dari instruksi induk organisasinya terkait penolakan reklamasi Teluk Benoa. Karena itu dia secara mendadak menulis surat kepada anggota Gahawisri untuk ikut dalam aksi demo tersebut. Selain itu, kata Tromat, penolakan tersebut dilakukan karena dari informasi yang didapatnya di kawasan reklamasi nantinya juga akan dibangun usaha water sport. ’’Kalau ini sampai terjadi, kami makan apa?’’ tanya Tromat.
Dia mempertanyakan siapa yang menjamin glass bottom atau kegiatan water sport yang ada saat tersebut nantinya bisa tetap beroperasi. Perahu jenis glass bottom biasanya digunakan untuk mengangkut wisatawan dari perairan Tanjung Benoa menuju Pulau Penyu yang letaknya di pesisir barat Tanjung Benoa. Kalau dilakukan reklamasi, dia mengkhawatirkan kegiatan tersebut tidak akan bisa dilakukan lagi. Menurut Tromat, dengan datangnya investor besar di Teluk Benoa, dipastikan akan menyingkirkan para pengusaha kecil. ’’Kalau investor besar datang, maka kami pengusaha wisata tirta bermodal kecil ya akan tersingkir,’’ ujarnya.
Di bagian lain, selaku warga Tanjung Benoa, dia sangat mengharapkan rekondisi Pulau Pudut. Pasalnya, selain mengembalikan kawasan yang telah tergerus abrasi, maka ada kemungkinan wisata konservasi penyu di Pulau Penyu yang ada di pesisir barat Tanjung Benoa saat ini, nantinya dapat dipindah ke Pulau Pudut.
Selama ini, kata Tromat, Pulau Penyu tidak berada di sebuah pulau kecil, melainkan di pesisir barat Tanjung Benoa. ’’Kalau nanti Pulau Pudut jadi dikembalikan dan konservasi penyu dipindah ke sana, tentu sangat bagus. Maka Pulau Penyu akan benar-benar berada di sebuah pulau kecil,’’ imbuhnya.
Ketua LPM Tanjung Benoa, Wayan Dharma, di tempat terpisah ketika diminta komentarnya akan aksi ini mengatakan kalau semangatnya sangat bagus. Pasalnya, kata Dharma, terkadang memang perlu juga memberikan masukan-masukan karena itu penting bagi pemerintah. Asal, saran Dharma, jangan sampai anarkis. Pasalnya, anarkis tidak zamannya lagi. ’’Mari duduk bersama sampaikan aspirasi, mari dibahas sehingga ditemukan solusi bersama,’’ katanya. Di satu sisi, menurut Dharma, pengembalian Pudut jelas sangat diperlukan. Selain itu, sebagai solusi kemacetan di Tanjung Benoa perlu ada jalan alternatif, karena satu-satunya jalan yang ada hanya jalan pratama.
Seperti diberitakan sebelumnya, penolakan terhadap reklamasi Teluk Benoa mulai mengemuka di masyarakat. Bahkan mereka menunjukkan aksi penolakan dengan menggelar demo. Seperti yang dilakukan Gerakan Masyarakat Pemuda Tolak Reklamasi (Gempar) Teluk Benoa. Dengan menggunakan puluhan perahu Gempar bersama sejumlah elemen masyarakat, Jumat (2/8) lalu mereka menggelar demonstrasi di perairan Teluk Benoa.
Massa yang terdiri dari ratusan orang tersebut mulai bergerak dari Tanjung Benoa, tepatnya di Pandawa water sport dengan menggunakan puluhan jukung dan perahu sekitar pukul 14.00 Wita menuju perairan dangkal Teluk Benoa. Sepanjang perjalanan dari atas perahu yang mereka tumpangi mereka meneriakkan penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa. Massa juga membekali diri dengan spanduk bernada kecaman atas terbitnya SK Gubernur tentang reklamasi Teluk Benoa. Massa yang sebagian besar merupakan warga Tanjung Benoa, Kuta Selatan, tersebut dengan tegas menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Bahkan sikap Gubernur Bali Mangku Pastika juga tak luput dari sorotan. Gubernur dituding telah melakukan kebohongan publik demi kepentingan investor.
sumber: http://denpostnews.com/badung/gahawisri-khawatir-wisata-tirta-akan-hilang.html





