
Gerakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa yang kini menginjak tahun ke-3 terus mendapat tekanan penguasa yang berkongsi dengan pengusaha. Terakhir, sesi diskusi di salah satu program utama Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) yang mengundang Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dibatalkan atas tekanan kepolisian dan pihak lain.
Panitia UWRF sebelumnya mengundang I Wayan “Gendo” Suardana, Jerinx-Superman Is Dead, Thor Kerr dari Curtin University untuk berbicara dalam panel tentang gerakan lingkungan yang makin meluas dengan Rudolf Dethu sebagai moderatornya. ForBALI dalam catatan panitia disebut gerakan lingkungan terbesar saat ini.
“When it’s environment vs. big business, tempers and passion tend to run high. The planned reclamation of 700ha of water and mangroves for large-scale development has birthed one of the biggest environmental movements in Indonesia’s history: Bali Tolak Reklamasi. This session has been cancelled,” sebut panitia dalam website UWRF sejak Selasa (27/10).
Pihak panitia pada ForBALI mengatakan terpaksa membatalkan karena permintaan banyak pihak seperti kepolisian yang menganggap diskusi ini tak sesuai tujuan festival yakni sebagai event budaya dan pariwisata.
Menanggapi pembatalan sesi ForBALI di UWRF, Wayan ‘Gendo’ Suardana dari ForBALI mengaku tekanan terus terjadi pada masyarakat Bali yang terus bergerak menolak investasi besar di Teluk Benoa yang akan mengurug laut 700 hektar ini. Akan tetapi, tekanan seperti ini sudah biasa dialami oleh ForBALI. “Kalo ForBALI sih biasa saja karena hal begini sudah kenyang kami alami” ungkap Gendo
ForBALI menurutnya menyadari sepenuhnya jika reklamasi Teluk Benoa adalah agenda rakus dari pengusaha yang dibackup oleh penguasa. “Tentu saja mereka tidak akan membiarkan dengan gampang ada agenda-agenda penolakan reklamasi apalagi dalam level international seperti UWRF, hal ini menunjukkan betapa kekuasaan menggunakan powernya dengan berbagai alasan untuk menutup dan mempersempit setiap wacana-wacana penolakan reklamasi Teluk Benoa” paparnya.
Gendo Suardana sangat menyayangkan UWRF menyerah begitu saja atas upaya-upaya pembatalan beberapa sesinya termasuk sesi panel ForBALI. Sebagai sebuah festival berkaliber international semestinya pihak UWRF tidak segampang itu ditekan oleh penguasa. “Bukankah persiapan mereka sudah matang, konsep acara sudah diperhitungkan dengan teliti, baik kesesuaian dengan visi festival maupun manfaat dan resiko yang akan dihadapi ?” Tanya Gendo yang juga Koordinator ForBALI.
“Mengangkat tema-tema yang sensitive seperti penolakan reklamasi Teluk Benoa seharusnya sudah diperhitungkan segala resikonya sehingga ada alternatif-alternatif lain yang bisa dilakukan jika kekuasaan menekan mereka” tandasnya.
Gendo Suardana menyebut pembatalan sesi gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa ini sebagai perpaduan sempurna untuk membungkam kebebasan berekspresi. “kejadian ini merupakan perpaduan yang sempurna dari penguasa yang sewenang-wenang dalam menekan kebebasan berekspresi, berpadu dengan panitia yang tidak punya daya tahan yang cukup untuk menjaga kebebasan ekspresi sekalipun dalam balutan aktifitas budaya” pungkasnya.

Gerakan Tolak Reklamasi Teluk Benoa yang kini menginjak tahun ke-3 terus mendapat tekanan penguasa yang berkongsi dengan pengusaha. Terakhir, sesi diskusi di salah satu program utama Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) yang mengundang Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) dibatalkan atas tekanan kepolisian dan pihak lain.
Panitia UWRF sebelumnya mengundang I Wayan “Gendo” Suardana, Jerinx-Superman Is Dead, Thor Kerr dari Curtin University untuk berbicara dalam panel tentang gerakan lingkungan yang makin meluas dengan Rudolf Dethu sebagai moderatornya. ForBALI dalam catatan panitia disebut gerakan lingkungan terbesar saat ini.
“When it’s environment vs. big business, tempers and passion tend to run high. The planned reclamation of 700ha of water and mangroves for large-scale development has birthed one of the biggest environmental movements in Indonesia’s history: Bali Tolak Reklamasi. This session has been cancelled,” sebut panitia dalam website UWRF sejak Selasa (27/10).
Pihak panitia pada ForBALI mengatakan terpaksa membatalkan karena permintaan banyak pihak seperti kepolisian yang menganggap diskusi ini tak sesuai tujuan festival yakni sebagai event budaya dan pariwisata.
Menanggapi pembatalan sesi ForBALI di UWRF, Wayan ‘Gendo’ Suardana dari ForBALI mengaku tekanan terus terjadi pada masyarakat Bali yang terus bergerak menolak investasi besar di Teluk Benoa yang akan mengurug laut 700 hektar ini. Akan tetapi, tekanan seperti ini sudah biasa dialami oleh ForBALI. “Kalo ForBALI sih biasa saja karena hal begini sudah kenyang kami alami” ungkap Gendo
ForBALI menurutnya menyadari sepenuhnya jika reklamasi Teluk Benoa adalah agenda rakus dari pengusaha yang dibackup oleh penguasa. “Tentu saja mereka tidak akan membiarkan dengan gampang ada agenda-agenda penolakan reklamasi apalagi dalam level international seperti UWRF, hal ini menunjukkan betapa kekuasaan menggunakan powernya dengan berbagai alasan untuk menutup dan mempersempit setiap wacana-wacana penolakan reklamasi Teluk Benoa” paparnya.
Gendo Suardana sangat menyayangkan UWRF menyerah begitu saja atas upaya-upaya pembatalan beberapa sesinya termasuk sesi panel ForBALI. Sebagai sebuah festival berkaliber international semestinya pihak UWRF tidak segampang itu ditekan oleh penguasa. “Bukankah persiapan mereka sudah matang, konsep acara sudah diperhitungkan dengan teliti, baik kesesuaian dengan visi festival maupun manfaat dan resiko yang akan dihadapi ?” Tanya Gendo yang juga Koordinator ForBALI.
“Mengangkat tema-tema yang sensitive seperti penolakan reklamasi Teluk Benoa seharusnya sudah diperhitungkan segala resikonya sehingga ada alternatif-alternatif lain yang bisa dilakukan jika kekuasaan menekan mereka” tandasnya.
Gendo Suardana menyebut pembatalan sesi gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa ini sebagai perpaduan sempurna untuk membungkam kebebasan berekspresi. “kejadian ini merupakan perpaduan yang sempurna dari penguasa yang sewenang-wenang dalam menekan kebebasan berekspresi, berpadu dengan panitia yang tidak punya daya tahan yang cukup untuk menjaga kebebasan ekspresi sekalipun dalam balutan aktifitas budaya” pungkasnya.






