Maret 26th, 2017 // ForBALI

Dirikan Baliho Tolak Reklamasi, Warga Sumerta Berharap Di Tahun Baru Caka Reklamasi Teluk Benoa Dibatalkan.

Foto Pemasangan Baliho BTR Di Desa Adat Sumerta 24 Maret 2017 (1)Denpasar (25/3) jelang perayaan Hari Raya Nyepi, tahun baru Caka 1939 yang jatuh pada tanggal 28 maret 2017, warga Desa Adat Sumerta yang tergabung di dalam BAMPER kembali mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa. Pemasangan baliho ini dilakukan malam hari sekitar pukul 23.00 wita pada Jumat, 24 Maret 2017. Ada 4 buah baliho yang masing-masing dipasang di perempatan Jalan Kecubung – WR. Supratman – Kenyeri, Pertigaan Jalan Hayam Wuruk –  Kecubung, Pertigaan Hayam Wuruk – Nusa Indah dan pertigaan Hayam Wuruk – Katrangan.

 

Menariknya, baliho sebelum dipasang terlebih dahulu diarak dengan diiringi oleh tabuh gamelan Bali. Selain diiringi musik tradisional baleganjur, pemasangan kali ini juga dipentaskan fragmentari ogoh-ogoh sebagai persiapan menyambut Hari Raya Nyepi. Baliho tersebut dipasang oleh warga di tengah kesibukannya mempersiapkan hari raya Nyepi dan persiapan parade ogoh – ogoh. Pendirian baliho tersebut menunjukkan gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa akan terus ada sampai reklamasi Teluk Benoa dibatalkan.

 

Nyoman Gegel Juniarta dari BAMPER Sumerta menuturkan, baliho-baliho baru ini selain untuk mengganti baliho yang telah rusak juga sebagai bentuk ketegasan sikap untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Baginya, perjuangan untuk menjaga Bali dari upaya perusakan baginya adalah bentuk perjuangan menjaga NKRI.

 

“Baliho tolak reklamasi Teluk Benoa di desa kami dirusak dan malam ini (24/03) kami ganti yang baru. Pemasangan baliho ini sekaligus sebagai komitmen kami untuk terus memperjuangakan penolakan reklamasi teluk benoa. Pendirian baliho menunjukkan gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa akan terus ada sampai reklamasi Teluk Benoa dibatalkan dan Ini adalah wujud jiwa nasionalisme kami yang setia kepada NKRI dengan cara menjaga Teluk Benoa sebagai bagian dari pesisir negara ini” ujar Gegel.

 

Momentum perayaan hari raya nyepi ini menurut Kelihan Dinas/Kepala Dusun Banjar Peken, Sumerta, Wayan Murdika adalah waktu yang tepat untuk mengusir energi buruk yang mengerubungi para pejabat yang selama ini diam dalam persolan reklamasi Teluk Benoa. Mereka yang seharunya bersikap justru hanya diam. Pemasangan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa tersebut baginya, selain sebagai sikap untuk menegaskan penolakannya terhadap reklamasi Teluk Benoa juga dipasang dengan penuh harapan agar di tahun baru Caka reklamasi Teluk Benoa dibatalkan.

 

“Kami berharap energi negatif, energi jahat maupun energi buruk yang mengerubungi para pejabat yang terus memaksakan reklamasi Teluk Benoa agar segera lebur pada tawur kesanga atau malam pengrupukan. Agar nanti ditahun baru Caka para pejabat yang ada di Bali sudah tidak dikerubungi energi buruk tersebut sehingga bisa mendengarkan aspirasi rakyat Bali dan segera bertindak untuk menghentikan dan membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa” ujar Kelihan yang akrab dipanggil Yande tersebut.

 

Menurut Yande, perayaan nyepi juga merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan peran laut bagi keberlangsungan Adat, Agama dan budaya Bali. laut menurutnya memilik peranan penting bagi kehidupan orang bali terutama setiap menjelang nyepi. “menjelang hari raya nyepi selalu dilaksanakan upacara penyucian diri melasti di laut. Menolak rencana reklamasi teluk benoa menjadi salah salah satu cara kita untuk menjaga pesisir dan laut Bali dari rencana pembangunan yang merusak” pugkasnya.

Foto Pemasangan Baliho BTR Di Desa Adat Sumerta 24 Maret 2017 (1)Denpasar (25/3) jelang perayaan Hari Raya Nyepi, tahun baru Caka 1939 yang jatuh pada tanggal 28 maret 2017, warga Desa Adat Sumerta yang tergabung di dalam BAMPER kembali mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa. Pemasangan baliho ini dilakukan malam hari sekitar pukul 23.00 wita pada Jumat, 24 Maret 2017. Ada 4 buah baliho yang masing-masing dipasang di perempatan Jalan Kecubung – WR. Supratman – Kenyeri, Pertigaan Jalan Hayam Wuruk –  Kecubung, Pertigaan Hayam Wuruk – Nusa Indah dan pertigaan Hayam Wuruk – Katrangan.

 

Menariknya, baliho sebelum dipasang terlebih dahulu diarak dengan diiringi oleh tabuh gamelan Bali. Selain diiringi musik tradisional baleganjur, pemasangan kali ini juga dipentaskan fragmentari ogoh-ogoh sebagai persiapan menyambut Hari Raya Nyepi. Baliho tersebut dipasang oleh warga di tengah kesibukannya mempersiapkan hari raya Nyepi dan persiapan parade ogoh – ogoh. Pendirian baliho tersebut menunjukkan gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa akan terus ada sampai reklamasi Teluk Benoa dibatalkan.

 

Nyoman Gegel Juniarta dari BAMPER Sumerta menuturkan, baliho-baliho baru ini selain untuk mengganti baliho yang telah rusak juga sebagai bentuk ketegasan sikap untuk menolak reklamasi Teluk Benoa. Baginya, perjuangan untuk menjaga Bali dari upaya perusakan baginya adalah bentuk perjuangan menjaga NKRI.

 

“Baliho tolak reklamasi Teluk Benoa di desa kami dirusak dan malam ini (24/03) kami ganti yang baru. Pemasangan baliho ini sekaligus sebagai komitmen kami untuk terus memperjuangakan penolakan reklamasi teluk benoa. Pendirian baliho menunjukkan gerakan penolakan reklamasi Teluk Benoa akan terus ada sampai reklamasi Teluk Benoa dibatalkan dan Ini adalah wujud jiwa nasionalisme kami yang setia kepada NKRI dengan cara menjaga Teluk Benoa sebagai bagian dari pesisir negara ini” ujar Gegel.

 

Momentum perayaan hari raya nyepi ini menurut Kelihan Dinas/Kepala Dusun Banjar Peken, Sumerta, Wayan Murdika adalah waktu yang tepat untuk mengusir energi buruk yang mengerubungi para pejabat yang selama ini diam dalam persolan reklamasi Teluk Benoa. Mereka yang seharunya bersikap justru hanya diam. Pemasangan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa tersebut baginya, selain sebagai sikap untuk menegaskan penolakannya terhadap reklamasi Teluk Benoa juga dipasang dengan penuh harapan agar di tahun baru Caka reklamasi Teluk Benoa dibatalkan.

 

“Kami berharap energi negatif, energi jahat maupun energi buruk yang mengerubungi para pejabat yang terus memaksakan reklamasi Teluk Benoa agar segera lebur pada tawur kesanga atau malam pengrupukan. Agar nanti ditahun baru Caka para pejabat yang ada di Bali sudah tidak dikerubungi energi buruk tersebut sehingga bisa mendengarkan aspirasi rakyat Bali dan segera bertindak untuk menghentikan dan membatalkan rencana reklamasi Teluk Benoa” ujar Kelihan yang akrab dipanggil Yande tersebut.

 

Menurut Yande, perayaan nyepi juga merupakan waktu yang tepat untuk merefleksikan peran laut bagi keberlangsungan Adat, Agama dan budaya Bali. laut menurutnya memilik peranan penting bagi kehidupan orang bali terutama setiap menjelang nyepi. “menjelang hari raya nyepi selalu dilaksanakan upacara penyucian diri melasti di laut. Menolak rencana reklamasi teluk benoa menjadi salah salah satu cara kita untuk menjaga pesisir dan laut Bali dari rencana pembangunan yang merusak” pugkasnya.