Gaungan suara rakyat Bali untuk menolak rencana reklamasi di Teluk Benoa semakin tak berbendung. Minggu kemarin (1/4), bertepatan dengan hari buruh sedunia, ribuan masyarakat Desa Adat Sukawati turun ke jalan untuk melakukan aksi deklarasi untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.
Acara dengan penuh semangat perlawanan ini pun digelar di Pantai Pura Er Jeruk, Sukawati, Gianyar.
Tidak hanya Desa Adat Sukawati yang terdiri dari 14 Banjar, hadir juga masyarakat di Badung, Denpasar, Klungkung, dan Karangasem yang bersolidaritas di dalam acara tersebut. “Sikap kami tegas, menolak rencana reklamasi Teluk Benoa oleh investor rakus yang mau merusak tanah Bali,” tegas I Nyoman Pudja selaku Bendesa Adat Sukawati kemarin.
Lebih lanjut dikatakan, sikap penolakan yang dideklarasikan ini berdasarkan Paruman Desa Adat Sukawati pada tanggal 11 April lalu. “Jadi kami sudah menjadi korban dari dampak reklamasi Serangan, di mana tanah Duwe Bankar Klumpang sudah tergerus oleh abrasi sekitar dua are. Ini sangat mengkhawatirkan bagi kami, sehingga kami tidak mau terulang lagi,” ungkapnya.
Selain abrasi yang mengancam pantai di kawasan Sukawati, seperti di Pantai Purnama dan sekitarnya, Kawasan suci di Teluk Benoa juga menjadi pertimbangan masyarakat adat ini untuk menolak rencana ngurug laut oleh PT. TWBI yang di restui oleh Gubernur Bali tersebut.
Di lain pihak, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) yang secara konsisten menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dari empat tahun lalu, melalui Koordinatornya Wayan Gendo Suardana menyebutkan deklarasi Desa Adat Sukawati ini menambah barisan Desa Adat di Bali yang menyatakan sikap penolakan.
“Ada 33 Desa Adat yang sudah mendeklarasikan diri, artinya kekuatan Adat yang besar ini tentu tidak menginginkan rencana tersebut,” ungkapnya
Untuk itu, Gendo mengajak rakyat Bali untuk terus berjuang dengan semangat puputan hingga rencana reklamasi di Teluk Benoa di hentikan. “Sekali lagi saya tekankan, rakyat Bali tidak akan pernah mundur, sebelum Jokowi Batalkan Perpres 51 Tahun 2014 dan menghentikan segala upaya untuk memuluskan rencana tersebut,” tegasnya.
Selain Desa Adat Sukawati yang mendeklarasikan diri, puluhan pemuda di Mambal, Badung juga mendirikan baliho tolak reklamasi. Mereka di antaranya anak muda dari perwakilan berbagai Banjar, yakni Banjar Gumasih, Banjar Mambal Kajanan, Banjar Undagi dan Banjar Trijata.
Gaungan suara rakyat Bali untuk menolak rencana reklamasi di Teluk Benoa semakin tak berbendung. Minggu kemarin (1/4), bertepatan dengan hari buruh sedunia, ribuan masyarakat Desa Adat Sukawati turun ke jalan untuk melakukan aksi deklarasi untuk menolak reklamasi Teluk Benoa.
Acara dengan penuh semangat perlawanan ini pun digelar di Pantai Pura Er Jeruk, Sukawati, Gianyar.
Tidak hanya Desa Adat Sukawati yang terdiri dari 14 Banjar, hadir juga masyarakat di Badung, Denpasar, Klungkung, dan Karangasem yang bersolidaritas di dalam acara tersebut. “Sikap kami tegas, menolak rencana reklamasi Teluk Benoa oleh investor rakus yang mau merusak tanah Bali,” tegas I Nyoman Pudja selaku Bendesa Adat Sukawati kemarin.
Lebih lanjut dikatakan, sikap penolakan yang dideklarasikan ini berdasarkan Paruman Desa Adat Sukawati pada tanggal 11 April lalu. “Jadi kami sudah menjadi korban dari dampak reklamasi Serangan, di mana tanah Duwe Bankar Klumpang sudah tergerus oleh abrasi sekitar dua are. Ini sangat mengkhawatirkan bagi kami, sehingga kami tidak mau terulang lagi,” ungkapnya.
Selain abrasi yang mengancam pantai di kawasan Sukawati, seperti di Pantai Purnama dan sekitarnya, Kawasan suci di Teluk Benoa juga menjadi pertimbangan masyarakat adat ini untuk menolak rencana ngurug laut oleh PT. TWBI yang di restui oleh Gubernur Bali tersebut.
Di lain pihak, Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) yang secara konsisten menolak rencana reklamasi Teluk Benoa dari empat tahun lalu, melalui Koordinatornya Wayan Gendo Suardana menyebutkan deklarasi Desa Adat Sukawati ini menambah barisan Desa Adat di Bali yang menyatakan sikap penolakan.
“Ada 33 Desa Adat yang sudah mendeklarasikan diri, artinya kekuatan Adat yang besar ini tentu tidak menginginkan rencana tersebut,” ungkapnya
Untuk itu, Gendo mengajak rakyat Bali untuk terus berjuang dengan semangat puputan hingga rencana reklamasi di Teluk Benoa di hentikan. “Sekali lagi saya tekankan, rakyat Bali tidak akan pernah mundur, sebelum Jokowi Batalkan Perpres 51 Tahun 2014 dan menghentikan segala upaya untuk memuluskan rencana tersebut,” tegasnya.
Selain Desa Adat Sukawati yang mendeklarasikan diri, puluhan pemuda di Mambal, Badung juga mendirikan baliho tolak reklamasi. Mereka di antaranya anak muda dari perwakilan berbagai Banjar, yakni Banjar Gumasih, Banjar Mambal Kajanan, Banjar Undagi dan Banjar Trijata.






