Pebruari 24th, 2019 // ForBALI

Desa Adat Sukawati Dirikan Baliho BTR, Siap Berjuang Lagi

2019-02-24-dokumentasi rilis-Desa Adat Sukawati Dirikan Baliho BTR, Siap Berjuang Lagi (3)

Setelah beberapa bulan rehat sejak habisnya izin lokasi reklamasi Teluk Benoa yang dipegang PT. TWBI pada 25 agustus 2018, geliat penolakan reklamasi Teluk Benoa kembali disuarakan oleh masyarakat Bali. Hal ini dipicu dengan diterbitkannya izin lokasi baru oleh Menteri KKP Susi Pudjiastuti pada 29 November 2018 kepada investor yang sama.

Perwakilan masyarakat yang dikoordinir ForBALI pada hari minggu 17 februari 2019 yang lalu melakukan persembahyangan bersama di Pura Sakenan untuk memohon restu melanjutkan perjuangan. Saat itu juga dikibarkan kain panjang di jembatan  penghubung Pulau Bali dan Pulau Serangan yang disebut oleh  I Wayan Suardana Koordinator Umum ForBALI sebagai sinyal bahwa rakyat siap melanjutkan perjuangan, perjuangan BTR memasuki babak baru.

Memasuki babak baru perjuangan BTR, hari minggu 24 februari 2019, masyarakat Desa Adat Sukawati kembali mendirikan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa di perempatan Jl Pantai Purnama – Jl. Bypass IB Mantra.

Baliho berukuran 3,5 x 2,5 m tersebut bertuliskan Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Batalkan Perpres No 51 Tahun 2014, Kembalikan Teluk Benoa Sebagai Kawasan Konservasi.

Koordinator pemasangan baliho, Kadek Tila menyampaikan bahwa pemasangan baliho tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap izin lokasi baru yang diterbitkan Menteri Susi seraya berharap pemerintah propinsi Bali dapat melindungi rakyatnya dari tekanan dan intimidasi yang diterima perjuangan tolak reklamasi Teluk Benoa. “Kami menentang izin lokasi baru yang diterbitkan Ibu Susi, 5 tahun lebih rakyat Bali berjuang diabaikan, kami siap melanjutkan perjuangan ini dan berharap pemerintah Bali yang katanya menolak rekalamasi Teluk Benoa dengan kewenangan yang dimiliki dapat mencegah intimidasi yang kami terima seperti baliho-baliho kawan-kawan kami di desa lain yaitu Medahan dan Blahbatuh yang dirobek orang tidak dikenal”, imbuh Tila.

Sementara itu salah seorang warga yang ikut serta memasang baliho, Wisnu Pratama menyebut aksi pemasangan baliho tersebut sebagai pesan bahwa rakyat siap berjuang kembali seperti 5 tahun dibelakang. “Apapun yang terjadi saat ini tidak menyiutkan perjuangan kami, kami siap memulai perjuangan kembali”,tegasnya.

2019-02-24-dokumentasi rilis-Desa Adat Sukawati Dirikan Baliho BTR, Siap Berjuang Lagi (3)

Setelah beberapa bulan rehat sejak habisnya izin lokasi reklamasi Teluk Benoa yang dipegang PT. TWBI pada 25 agustus 2018, geliat penolakan reklamasi Teluk Benoa kembali disuarakan oleh masyarakat Bali. Hal ini dipicu dengan diterbitkannya izin lokasi baru oleh Menteri KKP Susi Pudjiastuti pada 29 November 2018 kepada investor yang sama.

Perwakilan masyarakat yang dikoordinir ForBALI pada hari minggu 17 februari 2019 yang lalu melakukan persembahyangan bersama di Pura Sakenan untuk memohon restu melanjutkan perjuangan. Saat itu juga dikibarkan kain panjang di jembatan  penghubung Pulau Bali dan Pulau Serangan yang disebut oleh  I Wayan Suardana Koordinator Umum ForBALI sebagai sinyal bahwa rakyat siap melanjutkan perjuangan, perjuangan BTR memasuki babak baru.

Memasuki babak baru perjuangan BTR, hari minggu 24 februari 2019, masyarakat Desa Adat Sukawati kembali mendirikan baliho tolak reklamasi Teluk Benoa di perempatan Jl Pantai Purnama – Jl. Bypass IB Mantra.

Baliho berukuran 3,5 x 2,5 m tersebut bertuliskan Tolak Reklamasi Teluk Benoa, Batalkan Perpres No 51 Tahun 2014, Kembalikan Teluk Benoa Sebagai Kawasan Konservasi.

Koordinator pemasangan baliho, Kadek Tila menyampaikan bahwa pemasangan baliho tersebut sebagai bentuk perlawanan terhadap izin lokasi baru yang diterbitkan Menteri Susi seraya berharap pemerintah propinsi Bali dapat melindungi rakyatnya dari tekanan dan intimidasi yang diterima perjuangan tolak reklamasi Teluk Benoa. “Kami menentang izin lokasi baru yang diterbitkan Ibu Susi, 5 tahun lebih rakyat Bali berjuang diabaikan, kami siap melanjutkan perjuangan ini dan berharap pemerintah Bali yang katanya menolak rekalamasi Teluk Benoa dengan kewenangan yang dimiliki dapat mencegah intimidasi yang kami terima seperti baliho-baliho kawan-kawan kami di desa lain yaitu Medahan dan Blahbatuh yang dirobek orang tidak dikenal”, imbuh Tila.

Sementara itu salah seorang warga yang ikut serta memasang baliho, Wisnu Pratama menyebut aksi pemasangan baliho tersebut sebagai pesan bahwa rakyat siap berjuang kembali seperti 5 tahun dibelakang. “Apapun yang terjadi saat ini tidak menyiutkan perjuangan kami, kami siap memulai perjuangan kembali”,tegasnya.