Juli 26th, 2017 // ForBALI

Rakyat Bali Tantang Politisi Gunakan Kewenangannya Menolak Reklamasi Teluk Benoa

Foto Aksi Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa Rabu, 26 Juli 2017 (1)

Tantangan kepada para bakal calon Gubernur Bali tersebut disampaikan secara terbuka di depan kantor Gubernur Bali pada Rabu, 26 Juli 2017 pada saat Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) bersama Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa melakukan aksi tolak reklamasi Teluk Benoa.

Massa berasal dari Desa Adat dan Komunitas terlibat dalam aksi yang dimulai sekitar pukul 14.30 Wita. Mereka berkumpul di parkir timur lapangan Renon dan melakukan long march menuju Kantor Gubernur Bali. Kendati pada hari tersebut bersamaan dengan banyaknya upacara pernikahan Maupun pengabenan namun massa aksi tetap tumpah ruah, ribuan massa terlibat aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa sudah beranjak meninggalkan tahun ke empat dan memasuki tahun ke lima. Sampai saat ini baik pihak Gubernur Bali maupun DPRD Bali tidak mengambil tindakan apapun untuk memperjuangkan aspirasi rakyatnya yang terus berjuang menuntut penghentian rencana reklamasi Teluk Benoa. Ditengah ketidakjelasan sikap pemerintah daerah tersebut, tiba-tiba jelang pemilihan gubernur bali pada 2018, sejumlah politisi yang berambisi berkuasa tiba-tiba mendadak menolak reklamasi Teluk Benoa.

Sikap dadakan para politisi yang mendadak tolak reklamasi tersebut oleh ForBALI dipandang sebagai sikap pragmatis para politisi. Mereka mengikuti nalar publik hanya untuk menaikkan elektabilitas mereka jelang pemilihan Gubernur Bali pada tahun 2018. “Politisi-politisi yang ikut dalam pemilihan politik kekuasaan, mau tidak mau, suka tidak suka harus ikut nalar publik menolak reklamasi Teluk Benoa untuk mendongkrak elektabilitasnya. Itulah yang menyebabkan beberapa politisi termasuk Wakil Gubernur Bali harus melempar isu bahwa mereka menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujar Wayan Gendo Suardana, koordinator ForBALI pada saat orasi di depan kantor Gubernur.

Gendo mengatakan bahwa Wakil Gubernur Bali, Bupati Tabanan dan para politisi yang menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa harus dipercaya karena itu fakta. Tetapi ia lebih percaya bahwa mereka benar-benar menolak reklamasi Teluk Benoa bukan hanya untuk kepentingan politik pragmatis jika mereka menggunakan kewenangannya untuk membantu rakyat menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Kalau hanya ngomong tolak reklamasi, kita tidak butuh omongan mereka. Yang kita butuhkan mereka sebagai pimpinan-pimpinan daerah adalah menggunakan kewenangannya untuk membantu rakyat menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka memegang kewenangan untuk bersurat kepada pemerintah pusat untuk membatalkan reklamasi Teluk Benoa termasuk mencabut Perpres Nomor 51 Tahun 2014,” ujar Gendo.

Bendesa Adat Kuta I Wayan Swarsa juga mengatakan bahwa calon-calon pemimpin Bali yang menolak reklamasi Teluk Benoa adalah klaim semata. Koordinator Pasubayan tersebut mengatakan Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa tidak menggadaikan perjuangan penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa kepada pihak-pihak yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin Bali.

“Sampai saat ini pasubayan tidak ada indikasi untuk berpihak kepada pihak-pihak yang mengklaim menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Desakan agar para politisi yang mendadak menolak reklamasi Teluk Benoa melakukan tindakan nyata dalam menolak reklamasi Teluk Benoa juga disampaikan Ida Bagus Ketut Purbanegara. Sebagai Bendesa Adat Buduk tersebut dalam orasinya, mengatakan perjuangan Pasubayan hanya satu dan tidak ingin dibawa ke ranah politik kekuasaan.

Terhadap orang-orang yang tiba-tiba menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, Purbanegara meminta kepada massa aksi untuk berikan senyum kepada pihak-pihak tersebut. “Jangan ganggu gerakan kami, jangan tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan, jika benar menolak reklamasi Teluk Benoa gunakan kewenangannya dan lakukan sesuatu,” tantangnya.

Aksi menolak rencana reklamasi Teluk Benoa kali ini oleh grup musik beraliran rap, Madness On Tha Block. Setelah penampilan dari Madness On Tha Block, massa berbaris menuju parkir timur lapangan Renon, dan membubarkan diri dengan tertib.

Foto Aksi Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa Rabu, 26 Juli 2017 (1)

Tantangan kepada para bakal calon Gubernur Bali tersebut disampaikan secara terbuka di depan kantor Gubernur Bali pada Rabu, 26 Juli 2017 pada saat Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa (ForBALI) bersama Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa melakukan aksi tolak reklamasi Teluk Benoa.

Massa berasal dari Desa Adat dan Komunitas terlibat dalam aksi yang dimulai sekitar pukul 14.30 Wita. Mereka berkumpul di parkir timur lapangan Renon dan melakukan long march menuju Kantor Gubernur Bali. Kendati pada hari tersebut bersamaan dengan banyaknya upacara pernikahan Maupun pengabenan namun massa aksi tetap tumpah ruah, ribuan massa terlibat aksi penolakan reklamasi Teluk Benoa.

Penolakan terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa sudah beranjak meninggalkan tahun ke empat dan memasuki tahun ke lima. Sampai saat ini baik pihak Gubernur Bali maupun DPRD Bali tidak mengambil tindakan apapun untuk memperjuangkan aspirasi rakyatnya yang terus berjuang menuntut penghentian rencana reklamasi Teluk Benoa. Ditengah ketidakjelasan sikap pemerintah daerah tersebut, tiba-tiba jelang pemilihan gubernur bali pada 2018, sejumlah politisi yang berambisi berkuasa tiba-tiba mendadak menolak reklamasi Teluk Benoa.

Sikap dadakan para politisi yang mendadak tolak reklamasi tersebut oleh ForBALI dipandang sebagai sikap pragmatis para politisi. Mereka mengikuti nalar publik hanya untuk menaikkan elektabilitas mereka jelang pemilihan Gubernur Bali pada tahun 2018. “Politisi-politisi yang ikut dalam pemilihan politik kekuasaan, mau tidak mau, suka tidak suka harus ikut nalar publik menolak reklamasi Teluk Benoa untuk mendongkrak elektabilitasnya. Itulah yang menyebabkan beberapa politisi termasuk Wakil Gubernur Bali harus melempar isu bahwa mereka menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujar Wayan Gendo Suardana, koordinator ForBALI pada saat orasi di depan kantor Gubernur.

Gendo mengatakan bahwa Wakil Gubernur Bali, Bupati Tabanan dan para politisi yang menyatakan menolak reklamasi Teluk Benoa harus dipercaya karena itu fakta. Tetapi ia lebih percaya bahwa mereka benar-benar menolak reklamasi Teluk Benoa bukan hanya untuk kepentingan politik pragmatis jika mereka menggunakan kewenangannya untuk membantu rakyat menolak reklamasi Teluk Benoa.

“Kalau hanya ngomong tolak reklamasi, kita tidak butuh omongan mereka. Yang kita butuhkan mereka sebagai pimpinan-pimpinan daerah adalah menggunakan kewenangannya untuk membantu rakyat menolak reklamasi Teluk Benoa. Mereka memegang kewenangan untuk bersurat kepada pemerintah pusat untuk membatalkan reklamasi Teluk Benoa termasuk mencabut Perpres Nomor 51 Tahun 2014,” ujar Gendo.

Bendesa Adat Kuta I Wayan Swarsa juga mengatakan bahwa calon-calon pemimpin Bali yang menolak reklamasi Teluk Benoa adalah klaim semata. Koordinator Pasubayan tersebut mengatakan Pasubayan Desa Adat/Pakraman Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa tidak menggadaikan perjuangan penolakan rencana reklamasi Teluk Benoa kepada pihak-pihak yang ingin mencalonkan diri sebagai pemimpin Bali.

“Sampai saat ini pasubayan tidak ada indikasi untuk berpihak kepada pihak-pihak yang mengklaim menolak reklamasi Teluk Benoa,” ujarnya.

Desakan agar para politisi yang mendadak menolak reklamasi Teluk Benoa melakukan tindakan nyata dalam menolak reklamasi Teluk Benoa juga disampaikan Ida Bagus Ketut Purbanegara. Sebagai Bendesa Adat Buduk tersebut dalam orasinya, mengatakan perjuangan Pasubayan hanya satu dan tidak ingin dibawa ke ranah politik kekuasaan.

Terhadap orang-orang yang tiba-tiba menolak rencana reklamasi Teluk Benoa, Purbanegara meminta kepada massa aksi untuk berikan senyum kepada pihak-pihak tersebut. “Jangan ganggu gerakan kami, jangan tiba-tiba menjadi pahlawan kesiangan, jika benar menolak reklamasi Teluk Benoa gunakan kewenangannya dan lakukan sesuatu,” tantangnya.

Aksi menolak rencana reklamasi Teluk Benoa kali ini oleh grup musik beraliran rap, Madness On Tha Block. Setelah penampilan dari Madness On Tha Block, massa berbaris menuju parkir timur lapangan Renon, dan membubarkan diri dengan tertib.