April 7th, 2017 // ForBALI

Pemuda Desa Adat Intaran Memaknai Kemenangan Dharma Dengan Konsisten Menolak Reklamasi

Foto Pendirian Baliho Oleh Para Pemuda Desa Adat Intaran (1)

Memaknai semangat Hari Raya Galungan yang merupakan kemenangan Dharma melawan Adharma bukanlah sekedar luapan kegembiraan. Sejumlah pemuda yang merupakan perwakilan STT se-Desa Adat Intaran memaknainya dengan semangat untuk menjalankan kebenaran.

Pada Jumat, 7 April 2017 atau hari pahing Galungan, 2 hari setelah umat Hindu di Bali merayakan Hari Galungan, mereka mendirikan 2 buah baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa masing masing di depan Banjar Dangin Peken dan di catus pata desa.

Pemasangan baliho kali ini diikuti perwakilan STT yang ada di Desa Adat Intaran yang berjumlah 14 STT. AA Gde Agung Suyoga, Ketua Paguyuban STT, Desa Adat Intaran mengatakan, mereka sepakat mendirikan baliho setelah merayakan Galungan sebagai bentuk terjaganya semangat menegakkan Dharma. Menurutnya masih banyak adharma yang harus diperangi diantaranya pembodohan dan kerakusan yang ujung-ujungnya akan merusak lingkungan dan sosial budaya Bali.

“Proyek reklamasi Teluk Benoa yang direncanakan dengan proses yang tidak benar yang akan menyebabkan kerusakan lingkungan Bali harus dilawan,โ€ ujar Agung Suyoga .

Sementara itu I Wayan Hendrawan dari komunitas Leak Sanur yang selama ini konsisten menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa, menjelaskan kegiatan pendirian baliho ini merupakan wujud nyata implementasi dari kemenangan Dharma melawan Adharma. “Menangnya Dharma karena diperjuangkan, tidak cukup hanya wacana ataupun kata-kata untuk memenangkan dharma. Pendirian baliho tolak reklamasi Teluk Benoa ini menjadi wujud nyata perjuangan untuk menegakkan dharma,” pungkas Hendrawan.

Foto Pendirian Baliho Oleh Para Pemuda Desa Adat Intaran (1)

Memaknai semangat Hari Raya Galungan yang merupakan kemenangan Dharma melawan Adharma bukanlah sekedar luapan kegembiraan. Sejumlah pemuda yang merupakan perwakilan STT se-Desa Adat Intaran memaknainya dengan semangat untuk menjalankan kebenaran.

Pada Jumat, 7 April 2017 atau hari pahing Galungan, 2 hari setelah umat Hindu di Bali merayakan Hari Galungan, mereka mendirikan 2 buah baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa masing masing di depan Banjar Dangin Peken dan di catus pata desa.

Pemasangan baliho kali ini diikuti perwakilan STT yang ada di Desa Adat Intaran yang berjumlah 14 STT. AA Gde Agung Suyoga, Ketua Paguyuban STT, Desa Adat Intaran mengatakan, mereka sepakat mendirikan baliho setelah merayakan Galungan sebagai bentuk terjaganya semangat menegakkan Dharma. Menurutnya masih banyak adharma yang harus diperangi diantaranya pembodohan dan kerakusan yang ujung-ujungnya akan merusak lingkungan dan sosial budaya Bali.

“Proyek reklamasi Teluk Benoa yang direncanakan dengan proses yang tidak benar yang akan menyebabkan kerusakan lingkungan Bali harus dilawan,โ€ ujar Agung Suyoga .

Sementara itu I Wayan Hendrawan dari komunitas Leak Sanur yang selama ini konsisten menyuarakan penolakan reklamasi Teluk Benoa, menjelaskan kegiatan pendirian baliho ini merupakan wujud nyata implementasi dari kemenangan Dharma melawan Adharma. “Menangnya Dharma karena diperjuangkan, tidak cukup hanya wacana ataupun kata-kata untuk memenangkan dharma. Pendirian baliho tolak reklamasi Teluk Benoa ini menjadi wujud nyata perjuangan untuk menegakkan dharma,” pungkas Hendrawan.