Mapekelem dan penyamblehan dilakukan di 5 arah mata angin di kawasan suci Teluk Benoa
Sabtu, 1 Oktober 2016 Pasubayan Bendesa Adat tolak reklamasi melaksanakan ritual mapekelem dan penyamblehan yang dilakukan di 5 penjuru arah mata angin di kawasan suci teluk Benoa
Energi lautan sisi timur – selatan – barat dan utara menjadi satu di tengah.
Kepala tertunduk di atas pasir Muntig penuh bakti, pasrah kepada sang pencipta dan penguasa.
Langit yang semula cerah pun berubah menjadi gelap disertai kilat dan petir yang saling bersautan.
Seakan sang penguasa Teluk Benoa mendengar doa harapan sang jiwa adat tanah Bali.
hening nya Muntig yang berada di tengah Teluk Benoa, dan dentingan bajra para pemangku seolah menusuk sanubari yanh menghantarkan harapan kepada Hyang Baruna penguasa Lautan.
“Mapekelem itu adalah suatu bentuk ritual atau bentuk yadnya yang intinya adalah suatu bentuk harapan dari pada yang melakukan hal ini adalah masyarakat adat Bali dalam Pasubayan Desa Adat tolak reklamasi kepada energi lautan dan berkeyakinan sebagai penguasa Lautan agar energi-energi lautan yang notabene adalah energi alam semesta agar bisa menyatu dengan kehidupan manusia sehingga apa yang menjadi kontradiktif dalam kehidupan yang sekarang terutama dalam hal rencana manusia dalam Teluk Benoa itu bisa senantiasa harmonis”ujar Wayan Swarsa selaku Bendesa Adat Kuta (1/10/2016).
Wayan Swarsa menambahkan Ritual itu sebenarnya suatu bentuk harapan dan doa-doa dari masyarakat adat Bali dalam Pasubayan serta Harapan Kita agar memberikan energi laut akan memberikan energi vibrasi yang positif terhadap perjuangan ini sehingga tetap semangat kemudian memperjuangkan dengan jalan-jalan Dharma Jalan Kebenaran jadi sesungguhnya ritual mapekelem itu adalah doa dan harapan dari yang melakukan kepada penguasa lautan Sang Hyang Baruna agar di berikan energi yang positif untuk perjuangan ini sehingga semakin kuat kedepannya semakin solid dan yang paling pasti adalah memperjuangkan jalan kebenaran untuk bisa menolak reklamasi Teluk Benoa.
Saat proses ritual berlangsung langit yang semula sangat cerah seketika menjadi gelap dan di warnai dengan petir dan kilat yang saling bersautan seakan ingin memberitahu kepada manusia bahwa alam dan sang penguasa ini benar adanya dan hadir di tengah ritual ini.
“Fenomena al ini bersamaan waktunya dengan prosesi ritual penyamblehan dan saya sangat ingat sekali pada saat kita melakukan inti dari ritual itu kemudian dua petir besar menyambar di sertai hujan gerimis pun mulai turun dan setelah prosesi selesai cuaca pun kembali menjadi cerah artinya itu adalah fenomena alam semesta yang tidak bisa kita maknai dan sekarang tergantung bagi orang yang memaknainya, akan tetapi bagi kami Pasubayan Bendesa Adat itu memberikan suatu bentuk motivasi positif terhadap perjuangan adat ini karena bagi kami alam semesta Bali ini sangat bersahabat dengan perjuangan ini dan kami yakin perjuangan penolakan reklamasi ini akan semakin besar dan semakin solid karena memang yang dilakukan kami dengan hati nurani dan di jalan kebenaran Dharma di tanah Bali ini”, jelas Bendesa Adat Kuta Wayan Swarsa.
Dan sebelum acara berakhir di sela-sela ritual terjadi kerauhan / kesurupan, beberapa orang yang mengikuti ritual tersebut kerauhan dan seakan ingin menyampaikan sesuatu kepada semua orang yang berada di tempat itu.
Menanggapi itu Wayan Swarsa mengatakan “Kerauhan itu adalah suatu bentuk respon terhadap ritual jadi percaya atau tidak diyakini atau tidak tetapi bagi kami itu adalah media penyampaian alam semesta ini terhadap kita manusia dan sekarang kita harus pertimbangkan dengan betul-betul mana yang benar mana yang tidak benar kita harus memilah dan tadi yang disampaikan oleh media dari alam ini bahwa ( Perjuangan ini jangan sampai melemah, yakin sesuatu yang dilakukan dengan hati nurani tanpa ada kepentingan-kepentingan negatif lainnya, dan Percayalah dalam perjuangan ini kita akan menjadi pemenang dalam mempertahankan tanah Bali.
Mapekelem dan penyamblehan dilakukan di 5 arah mata angin di kawasan suci Teluk Benoa
Sabtu, 1 Oktober 2016 Pasubayan Bendesa Adat tolak reklamasi melaksanakan ritual mapekelem dan penyamblehan yang dilakukan di 5 penjuru arah mata angin di kawasan suci teluk Benoa
Energi lautan sisi timur – selatan – barat dan utara menjadi satu di tengah.
Kepala tertunduk di atas pasir Muntig penuh bakti, pasrah kepada sang pencipta dan penguasa.
Langit yang semula cerah pun berubah menjadi gelap disertai kilat dan petir yang saling bersautan.
Seakan sang penguasa Teluk Benoa mendengar doa harapan sang jiwa adat tanah Bali.
hening nya Muntig yang berada di tengah Teluk Benoa, dan dentingan bajra para pemangku seolah menusuk sanubari yanh menghantarkan harapan kepada Hyang Baruna penguasa Lautan.
“Mapekelem itu adalah suatu bentuk ritual atau bentuk yadnya yang intinya adalah suatu bentuk harapan dari pada yang melakukan hal ini adalah masyarakat adat Bali dalam Pasubayan Desa Adat tolak reklamasi kepada energi lautan dan berkeyakinan sebagai penguasa Lautan agar energi-energi lautan yang notabene adalah energi alam semesta agar bisa menyatu dengan kehidupan manusia sehingga apa yang menjadi kontradiktif dalam kehidupan yang sekarang terutama dalam hal rencana manusia dalam Teluk Benoa itu bisa senantiasa harmonis”ujar Wayan Swarsa selaku Bendesa Adat Kuta (1/10/2016).
Wayan Swarsa menambahkan Ritual itu sebenarnya suatu bentuk harapan dan doa-doa dari masyarakat adat Bali dalam Pasubayan serta Harapan Kita agar memberikan energi laut akan memberikan energi vibrasi yang positif terhadap perjuangan ini sehingga tetap semangat kemudian memperjuangkan dengan jalan-jalan Dharma Jalan Kebenaran jadi sesungguhnya ritual mapekelem itu adalah doa dan harapan dari yang melakukan kepada penguasa lautan Sang Hyang Baruna agar di berikan energi yang positif untuk perjuangan ini sehingga semakin kuat kedepannya semakin solid dan yang paling pasti adalah memperjuangkan jalan kebenaran untuk bisa menolak reklamasi Teluk Benoa.
Saat proses ritual berlangsung langit yang semula sangat cerah seketika menjadi gelap dan di warnai dengan petir dan kilat yang saling bersautan seakan ingin memberitahu kepada manusia bahwa alam dan sang penguasa ini benar adanya dan hadir di tengah ritual ini.
“Fenomena al ini bersamaan waktunya dengan prosesi ritual penyamblehan dan saya sangat ingat sekali pada saat kita melakukan inti dari ritual itu kemudian dua petir besar menyambar di sertai hujan gerimis pun mulai turun dan setelah prosesi selesai cuaca pun kembali menjadi cerah artinya itu adalah fenomena alam semesta yang tidak bisa kita maknai dan sekarang tergantung bagi orang yang memaknainya, akan tetapi bagi kami Pasubayan Bendesa Adat itu memberikan suatu bentuk motivasi positif terhadap perjuangan adat ini karena bagi kami alam semesta Bali ini sangat bersahabat dengan perjuangan ini dan kami yakin perjuangan penolakan reklamasi ini akan semakin besar dan semakin solid karena memang yang dilakukan kami dengan hati nurani dan di jalan kebenaran Dharma di tanah Bali ini”, jelas Bendesa Adat Kuta Wayan Swarsa.
Dan sebelum acara berakhir di sela-sela ritual terjadi kerauhan / kesurupan, beberapa orang yang mengikuti ritual tersebut kerauhan dan seakan ingin menyampaikan sesuatu kepada semua orang yang berada di tempat itu.
Menanggapi itu Wayan Swarsa mengatakan “Kerauhan itu adalah suatu bentuk respon terhadap ritual jadi percaya atau tidak diyakini atau tidak tetapi bagi kami itu adalah media penyampaian alam semesta ini terhadap kita manusia dan sekarang kita harus pertimbangkan dengan betul-betul mana yang benar mana yang tidak benar kita harus memilah dan tadi yang disampaikan oleh media dari alam ini bahwa ( Perjuangan ini jangan sampai melemah, yakin sesuatu yang dilakukan dengan hati nurani tanpa ada kepentingan-kepentingan negatif lainnya, dan Percayalah dalam perjuangan ini kita akan menjadi pemenang dalam mempertahankan tanah Bali.





