April 30th, 2017 // ForBALI

FORMASI Singapadu Tegaskan Diri Menolak Reklamasi Teluk Benoa

Foto Pendirian Baliho dan Pengibaran Bendera BTR oleh FORMASI 30 April 2017

Gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa di tahun 2017 terus menggelora. Hal tersebut ditandai dengan penegasan sikap oleh berbagai komponen masyarakat baik dengan pendirian baliho maupun pengibaran bendera perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa.

Penegasan sikap tolak reklamasi Teluk Benoa kali ini ditunjukkan oleh Forum Masyarakat Singapadu (FORMASI). FORMASI beranggotakan warga dari 3 wilayah di Singapadu yaitu Singapadu Kaja, Singapadu Tengah dan Singapadu Induk. Pada Minggu, 30 April 2017 mereka kembali mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dan pengibaran bendera perjuangan di pertigaan Desa Singapadu.

Pendirian baliho sekaligus pengibaran bendera penolakan reklamasi Teluk Benoa menjadi penanda satu tahun berdirinya Forum Masyarakat Singapadu yang terbentuk pada April 2016.

Bendera beserta baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa didirikan oleh FORMASI sepulang melaksanakan persembahyangan di Pura Puseh. Gusti Ngurah Bagus Chandra Prabanata, Koordinator FORMASI menyampaikan bahwa baliho yang mereka pasang dan bendera yang mereka kibarkan di pertigaan Desa Singapadu merupakan hasil iuran anggota FORMASI.

Pendirian baliho dan pengibaran bendera tersebut menandai semakin kokohnya sikap masyarakat Singapadu bersama elemen masyarakat lainnya di Bali akan terus berjuang membatalkan proyek reklamasi Teluk Benoa.

“Kami bersama masyarakat di daerah lainnya di Bali akan terus berjuang, bahu membahu bersama ForBALI dan Pasubayan Desa Adat takkan pernah lelah berjuang sampai proyek tersebut dibatalkan,” tegasnya.

Sedangkan salah seorang anggota FORMASI, Gede Ardianta mengatakan walaupun mereka berada di Bali bagian tengah yang tidak terdampak langsung dari proyek reklamasi Teluk Benoa tapi proyek tersebut akan memberikan dampak buruk yang lebih besar kepada Pulau Bali keseluruhan.

“Untuk itu kami akan terus berjuang dan mengajak masyarakat lainnya mendukung perjuangan ini,” pungkas Gede.

Foto Pendirian Baliho dan Pengibaran Bendera BTR oleh FORMASI 30 April 2017

Gerakan tolak reklamasi Teluk Benoa di tahun 2017 terus menggelora. Hal tersebut ditandai dengan penegasan sikap oleh berbagai komponen masyarakat baik dengan pendirian baliho maupun pengibaran bendera perjuangan menolak reklamasi Teluk Benoa.

Penegasan sikap tolak reklamasi Teluk Benoa kali ini ditunjukkan oleh Forum Masyarakat Singapadu (FORMASI). FORMASI beranggotakan warga dari 3 wilayah di Singapadu yaitu Singapadu Kaja, Singapadu Tengah dan Singapadu Induk. Pada Minggu, 30 April 2017 mereka kembali mendirikan baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa dan pengibaran bendera perjuangan di pertigaan Desa Singapadu.

Pendirian baliho sekaligus pengibaran bendera penolakan reklamasi Teluk Benoa menjadi penanda satu tahun berdirinya Forum Masyarakat Singapadu yang terbentuk pada April 2016.

Bendera beserta baliho penolakan reklamasi Teluk Benoa didirikan oleh FORMASI sepulang melaksanakan persembahyangan di Pura Puseh. Gusti Ngurah Bagus Chandra Prabanata, Koordinator FORMASI menyampaikan bahwa baliho yang mereka pasang dan bendera yang mereka kibarkan di pertigaan Desa Singapadu merupakan hasil iuran anggota FORMASI.

Pendirian baliho dan pengibaran bendera tersebut menandai semakin kokohnya sikap masyarakat Singapadu bersama elemen masyarakat lainnya di Bali akan terus berjuang membatalkan proyek reklamasi Teluk Benoa.

“Kami bersama masyarakat di daerah lainnya di Bali akan terus berjuang, bahu membahu bersama ForBALI dan Pasubayan Desa Adat takkan pernah lelah berjuang sampai proyek tersebut dibatalkan,” tegasnya.

Sedangkan salah seorang anggota FORMASI, Gede Ardianta mengatakan walaupun mereka berada di Bali bagian tengah yang tidak terdampak langsung dari proyek reklamasi Teluk Benoa tapi proyek tersebut akan memberikan dampak buruk yang lebih besar kepada Pulau Bali keseluruhan.

“Untuk itu kami akan terus berjuang dan mengajak masyarakat lainnya mendukung perjuangan ini,” pungkas Gede.